facebook twitter instagram

WISATA DENNY

About my journey to explore the world

  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Travelling
    • Indonesia
    • Thailand
    • Vietnam
    • Malaysia
  • Tips

Setibanya di Da Nang sekitar pukul 00:00 dengan keadaan bandara yang sudah sepi dan hanya menunggu kedatangan maskapai yang saya tumpangi saja. Setelah menunggu tidak beberapalama bagian bandara sudah mulai banyak yang tutup dan lampu juga dimatikan. Saat itu sampai di bandara saya mencoba melihat penginapan yang saya booking untuk beberapa hari ini di salah satu app reservasi, dan jawaban delaynya keberangkatan menuju Da Nang tadi adalah merupakan ujian lagi yang akan saya hadapi karena penginapan yang saya pesan menerima tamu sampai pukul 00:30. Sebagai orang yang paham aturan saya lebih memilih untuk tidur di bandara saja daripada sesampai di penginapan tidak ada yang membukakan pintu dan bingung cari tempat untuk tidur lebih baik untuk stay di bandara sampai matahari terbit. Ini adalah pengalaman saya pertama kalinya untuk tidur dibandara dengan kondisi jam reservasi ke penginapan yang sudah terlewati. Saat di bandara yang sudah mulai gelap dan sepi saya bingung mencari tempat tidur dimana, karena didalam bandara sudah mulai steril dan tidak ada orang didalamnya. Dengan kondisi seperti itu mau tidak mau harus mencari tempat duduk di luar bandara, tetapi masih di sekitar area bandara juga sih. Pada saat itu saya hanya melihat kursi tunggu seperti di rumah sakit yang dari besi, berharap ada sofa empuk atau semacamnya tapi itu hanya ilusi belaka. Akhirnya saya masa bodoh dan langsung menempatkan tas sebagai bantal dan saya tidur selonjor di kursi tersebut. Sempat terbersit dipikiran juga ketika mau tidur di lokasi terbuka di bandara, takutnya terjadi hal-hal yang tidak di inginkan karena tempat saya tidur dekat dengan tempat pangkalan taxi dan beberapa grab untuk menjemput penumpang. Akibatnya saya tidur dan tetap waspada dengan barang bawaan saya, jadi tiap beberapa jam saya buat untuk keadaan bangun dan melihat keadaan sekitar beberapa detik dan melanjutkan tidur ketika keadaan saya rasa aman.
 Terdengar suara mesin pembersih di bandara saya kemudian terbangun dan ternyata pagi tiba juga. Waktu itu mata saya masih berat akibat tidur yang kurang nyenyak di malam hari, ketika melihat jam ternyata waktu menunjukan pukul 06:00 dan bandara masih belum sepenuhnya terbuka hanya beberapa gerai saja yang buka dan masih belum banyak orang juga. Saya langsung menuju kamar mandi untuk cuci muka agar tidak merasakan kantuk, dari kamar mandi saya coba mengelilingi area bandara dan masuk kedalam menuju lantai 2. Ternyata didalam suasananya cukup ramai oleh turis yang akan berangkat menuju Hanoi maupun Ho Chi Minh. Saya langsung mencoba untuk mencari money changer dan berharap ada yang buka karena pada saat itu saya hanya membawa uang VND 90.000 saja di dompet dan spare rupiah cash  sebanyak Rp. 2.500.000. Pada saat di dalam saya melihat ada money changer, cuman waktu itu sudah ada pegawainya tetapi belum buka jadi saya bertanya dimana money changer di sekitar bandara selain disini. Kemudian petugasnya mengarahkan saya menuju ke lantai 1 tepat di pintu keluar dan berharap sudah buka. Langsung saja mengikuti arahan dari pegawai money changer tersebut menuju money changer satunya.
Sesampai di tempat dan benar saja ada money changer yang kebetulan juga sudah buka. Tidak berfikir panjang saya langsung masuk kedalam dan bertanya kepada pegawai disana untuk kurs mata uang Rupiah apakah bagus. Pegawai tersebut sangat baik dan mencoba untuk sedikit mengajak saya mengobrol basa-basi. Kemudian pegawai tersebut memberikan kalkulatornya dan memberitahu bahwa tukar rupiah disini nilainya cukup bagus karena Rp. 1.000.000 dapat VND 1.200.000. Saya langsung sangat senang bukan main, karena bila dibanding dengan menukarkan ke jewelry shop yang ada di Hanoi yang rate nya sangat buruk. Waktu itu saya sempat bertanya ketika saya mengalami kemiskinan di Hanoi akibat kena scam di Perfume Pagoda dan untuk rate di salah satu jewelry shop di Hanoi Rp. 1.000.000 hanya di hargai VND 140.000 sangat tidak masuk akal bagi saya dengan rate yang begitu hancurnya dan saya langsung meninggalkan jewelry shop tersebut tanpa pikir panjang meskipun orangnya menawar beberapa dong.
dalam kurs rupiah

dalam kurs Vietnam Dong

Penyelamat disaat saya lagi miskin di negeri orang

akhirnya jadi orang kaya lagi

Setelah menukarkan uang di bandara Da Nang saya sangat senang hingga merasa semangat dan merasa kaya lagi untuk beberapa saat...hehehehe. Memang tuhan waktu itu tidak tega untuk menjadikan saya gelandangan di negara orang. Dengan semangat yang membara dari bandara saya langsung berjalan kaki menuju penginapan, karena ketika saya melihat di map jaraknya tidak cukup jauh dan bisa ditempuh berjalan kaki dengan waktu 30 menit saja. Tetapi sebelum ke penginapan saya mampir membeli makanan, karena jujur saja pada saat di Hanoi saya langsung berhemat sangat drastis. Terakhir saya makan di Hanoi ketika saya Check out dari penginapan, dan baru keesokan harinya ini saya baru mengisi perut saya yang sedang membutuhkan asupan makanan. Waktu itu saya hanya makan Banh mi yang saya temui di pinggir jalan searah menuju penginapan. Setelah makan Banh mi di tempat saya meneruskan perjalanan kembali untuk menuju ke penginapan yang sudah saya pesan sebelumnya. 
Sarapan wajib selama di Vietnam

Da Nang ini kotanya tidak terlalu besar tetapi tempat wisata yang ditawarkan cukup menarik perhatian saya, begitupun penginapan disini tidak terlalu sulit untuk dicari. Sesampainya di penginapan waktu itu sekitar pukul 10:00 saya langsung check in dan untungnya lagi di penginapan yang saya tempati ini juga menawarkan sewa jasa motor, jadi saya tidak perlu repot-repot lagi untuk mencari persewaan motor. Setelah selesai mengurusi semua administrasi langsung saja menuju ke kamar untuk rebahan sebentar dan langsung mandi setelah itu bersantai-santai di penginapan untuk menikmati suasana disana. Hari itu saya menjadwalkan untuk pergi ke beberapa tempat sekaligus karena di Da Nang saya hanya menginap 2hari 1 malam saja, destinasi untuk hari ini yaitu ke Sun World, Lin Ungh Pagoda, Marble Mountain, dan malam nya ke Hoi An. Sebenarnya rencana awal sebelum ke Vietnam adalah ingin stay agak lama di Da Nang saja, berhubung ada beberapa saran dari teman saya yang menginginkan saya kenapa tidak untuk menjelajah vietnam selatan sampai utara saja. Kalau dipiki-pikir memang benar juga, kenapa saya tidak melakukan itu karena saya memang orangnya suka keliling ke suatu tempat yang belum saya kunjungi sebelumnya. Jadi saya memutuskan untuk membuat planning semua ini apapun hasilnya nanti yang penting saya sudah mencoba untuk menjelajah vietnam dari selatan sampai utara.
Melanjutkan cerita yang sempat tertunda kembali, siang harinya ketika sampai di penginapan sekitar pukul 12:00 saya langsung tancap gas untuk pergi ke destinasi pertama yaitu Sun World yang dimana merupakan tempat wisata terkenal di kota Da Nang bagi keluarga seperti di jatimpark Malang. Disana juga terdapat Cable car yang terpasang dari bawah bukit hingga puncak bukit, Selain itu juga terdapat wisata yang baru hits disana yaitu Golden Bridge yang merupakan sebuah tangan raksasa yang sedang memegang sebuah jembatan dengan suguhan pemandangan yang sangat epic. Perjalanan menggunakan motor dari penginapan menuju Sun World cukup dekat dengan menempuh waktu sekitar 30 menit saja. Perjalanan waktu itu cukup panas karena Vietnam waktu itu lagi musim kemarau, jadi tidak heran kalau waktu itu banyak warga yang bermotor menggunakan masker ataupun pelindung untuk menghindari dari sengatan matahari begitupun juga saya.
Hostel yang saya gunakan kali ini namanya Win Win Hostel

Banyak sekali destinasi yang bisa dituju di Da Nang dan hostel ini menawarkan travel 

My room for a while

Ada ruang terbukanya juga untuk bersantai dan bersosialisasi dengan pengunjung yang lain

Sesampainya di area dekat dengan Sun World saya mencoba untuk bertanya kepada seseorang petugas layaknya satpam, karena jalan yang harus saya lalui yaitu melewati sebuah pembatas jalan yang nantinya seperti menuju jalan khusus yang dijaga satpam tersebut, Maka dari itu saya menanyakan dimana letak golden bridge dan satpam tersebut menyuruh saya untuk menuju ke wahana wisata Sun World. Selesai mendapat informasi dari petugas tersebut saya langsung tancap gas menuju Sun World yang jaraknya hanya 10 menit dari tempat saya bertanya tadi. Memang dekat wisata Sun World tapi harus melewati jalan bukit yang berkelok dengan sedikit menanjak, jadi untuk kalian yang ingin ke Sun World jangan lupa untuk mengisi bahan bakar full terlebih dahulu, karena didaerah sana waktu itu saya tidak melihat pom pengisian bahan bakar dan adanya hanya di kota saja.
Jalan menuju Sun World sangat mudah di jangkau

Sesampai di Sun World langsung saja menuju tempat parkir dan tidak lupa untuk memfoto motor rental yang saya pinjam untuk jaga-jaga kalau saya lupa parkirnya. Nampak dari kejauhan wahana wisata Sun World yaitu seperti benteng yang sangat besar layaknya benteng seperti di disney land dengan cat merah dan pintu gerbang yang cukup besar layaknya benar-benar seperti istana zaman dulu. Sesampainya di depan benteng yang cukup besar tersebut saya langsung mengambil beberapa foto untuk dokumentasi, setelah itu saya berkeliling saja di sekitar pintu gerbang dan melihat peta wisata yang ditawarkan disana. Cukup banyak memang tempat wisata yang ditawarkan ada beberapa wahana yang di desaign dengan tema-tema tertentu. Tetapi waktu itu saya tidak melihat gambar golden bridge disana, jadi saya mengurungkan untuk tujuan saya di Golden bridge. Selain alasan tempat yang kurang jelas dimana letak Golden bridge masalah harga tiket juga yang cukup mahal. Tiket masuk untuk dewasa kalau tidak salah dipatok dengan harga VND 300.000 belum lagi jika ingin menaiki cable car biayanya sekitar VND 200.000. Jadi kalau menurut saya cukup mahal untuk wisata di Sun World tetapi wisata yang disajikan sangat bagus sesuai dengan biaya yang dikeluarkan, selain itu areanya ternyata cukup luas ketika saya melihat di map yang terpampang di dekat pintu gerbang. Kalau kalian mempunyai waktu dan budget yang cukup bolehlah untuk berkunjung di Sun World saya sangat merekomendasikan. Waktu itu saya tidak banyak cukup waktu dan ada beberapa tempat wisata lainnya yang harus saya kunjungi, akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan menuju destinasi selanjutnya yaitu ke Linh Ungh Pagoda dengan jarak tempuh sekitar 30 menit dari Sun World.
beberapa arsitektur di area Sun World

Pintu masuk menuju wahana Sun World

Ini merupakan gambaran umum fasilitas hiburan yang dimiliki Sun World

beberapa spot foto yang cukup bagus

Cable car

Linh Ungh Pagoda merupakan tempat wisata religi menurut saya, karena disana terdapat patung dewi kuan im dengan ukuran sangat besar seperti yang ada di serial televisi kera sakti dan juga ada tempat ibadah untuk orang yang beragama Budha. Letak Linh Ungh Pagoda cukup menarik karena berada di atas bukit dan melewati garis pantai Danang yang cukup panjang. Jadi kalau sudah diatas bukit kalian bisa melihat view pantai hingga laut yang warna airnya menyejukan mata dikala suhu udara Vietnam yang panas kala itu. Perjalanan ke Linh Ungh Pagoda juga sama ketika menuju ke Sun World yaitu melewati jalan yang berliku dengan beberapa tanjakan karena letaknya yang memang diatas bukit. Tetapi jangan khawatir karena perjalanan kalian nanti tidak akan bosan karena bisa melihat birunya lautan di samping kalian tetapi harus tetap waspada ketika mengemudi dan jangan lupa untuk tetap di sisi kanan jalan karena perbedaan aturan ketika mengendarai motor. Karena ini memang terjadi kepada saya ketika saya terlalu fokus dengan memandang birunya lautan ketika menuju ke Linh Ungh Pagoda sampai hampir lupa mengendarai motor disisi yang salah dan untungnya didepan saya tidak ada kendaraan yang melaju. Tibalah saya di parkiran motor saat itu, saya langsung di kasih karcis parkir dan membayarnya hanya di sebuah kotak yang kalau saya sebut kotak amal karena memberikan uang seikhlasnya, kala itu saya memasukan uang VND 5.000 kedalam kotak tersebut.
Kumpulan kapal yang sedang bersandar di salah satu pelabuhan Da Nang

Da Nang mempunyai garis pantai yang panjang

langitnya lagi cerah

 Selesai dari parkiran saya langsung menuju Linh Ungh Pagoda dengan menaiki beberapa anak tangga yang cukup membuat saya merasa berolahraga saat itu. Dari melewati beberapa anak tangga saya di sambut dengan keberadaan pintu gerbang yang sering saya lihat di social media sebelumnya. Jadi kalau kalian ke Linh Ungh Pagoda jangan lupa untuk berfoto sejenak di gerbang pintu masuk ber cat putih abu-abu tersebut karena menurut saya memiliki design arsitektur yang cukup bagus untuk dijadikan spot foto atau dokumentasi kalian. Setelah melewati pintu gerbang tadi saya langsung di perlihat beberapa pohon seperti bonsai sih yang akarnya terlihat cukup unik, saya kurang begitu mengerti sih tentang pohon bonsai tapi kalau saya mengamati akarnya tertata sangat unik dan rapi jadi terkesan dipelihara dengan sangat hati-hati. Selain beberapa pohon bonsai terdapat beberapa patung seperti manusia yang mungkin menceritakan diorama yang tidak begitu saya tahu, maklum saya tidak membawa guide kala itu. Jadi saya tidak banyak tahu tentang sejarah apa yang ada di Linh Ungh Pagoda ini. Saya juga melihat di belakang terdapat bangunan yang cukup besar seperti kuil yang masih aktif digunakan oleh beberapa orang untuk bersembahyang, karena pada saat itu saya juga menyaksikan orang-orang sedang melakukan ibadah.

Pintu masuk Linh Ungh Pagoda

Banyak sekali tanaman kamboja di area ini dengan akar tumbuh berbentuk unik

sayang anak

Tempat beribadah di area Linh Ungh Pagoda

Dari sisi kiri bangunan kuil saya berjalan lebih dalam dan melihat patung dewi kuan im yang sangat besar berwarna putih ditambah dengan gambaran langit-langit yang sangat cerah waktu itu menjadikan patung dewi kuan im yang berukuran besar ini terasa indah dan megah ketika memandangnya. Saya langsung mencoba mengambil bebebrapa foto dari beberapa spot yang saya kira cukup bagus posisinya, puas mengambil beberapa foto disana saya melihat ada 3 orang biksu atau orang yang mengenakan jubah seperti biksu terlihat menjual beberapa minuman segar yang membuat saya tergoda. Kemudian saya membeli orange water dan air putih, itu saja sudah membuat saya segar kembali di teriknya panas matahari. Waktu berjalan sangat cepat kala itu di Linh Ungh Pagoda karena angin laut yang bertiup sepoi-sepoi membuat saya lupa waktu dan ketika saya melihat jam sudah menunjukan pukul 15:00 langsung saja saya bergegas menuju parkiran motor dan melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya yaitu Marble Mountain yang letaknya juga tidaklah jauh dari Linh Ungh Pagoda hanya ditempuh sekitar 40menit menggunakan motor.
Patung Linh Ungh yang sangat tinggi


Elu lagi..elu lagi tong

Nih pemandangan dekat sama parkiran motor di Linh Ungh Pagoda

Marble mountain merupakan gugusan perbukitan yang sesuai dengan namanya yaitu marble atau marmer, jadi bukit ini bernama bukit marmer yang sebagian sudah ditambang oleh warga setempat untuk dijadikan sebagai mata pencaharian. Tidak heran jika di sekitar area Marble mountain ini banyak gerai menjual beberapa souvenir seperti gelang dan kalung yang bahannya dari marmer. Selain gelang dan kalung tempat ini juga merupakan pembuat patung marmer terkenal di seantero Vietnam karena letaknya yang berdekatan dengan sumber daya itu sendiri.
Sesampainya Saya di Marble mountain saya diarahkan oleh seseorang seperti juru parkir perempuan yang menyuruh saya untuk memarkirkan motor yang saya tumpangi disebelah gerai souvenir yang dia punya juga. Setelah parkir saya dikasih karcis parkir dan langsung saja menuju loket tiket masuk Marble mountain dengan membayar VND 120.000 (include tiket masuk + menaiki lift). Lift disini berfungsi untuk mempercepat perjalanan agar sampai ke atas bukit dan diteruskan berjalan mengitari area Marble mountain. Dari atas buki Marble mountain saya bisa melihat view kota Danang beserta garis pantai yang begitu cantik senja itu. Di atas bukit Marble mountain ada beberapa kuil yang masih digunakan untuk beribadah kemudian ada juga beberapa warga setempat yang menggunakan tempat ini untuk berjualan seperti minuman ataupun souvenir. Suasana di Marble Mountain begitu tenang dan nyaman karena di area Marble Mountain banyak ditumbuhi pohon lebat menjadikan tempat ini sangat rindang. Saat itu saya berkeliling sekitar 90menit karena saya harus membagi untuk destinasi selanjutnya. Selesai berkeliling di atas Marble mountain dan mengambil beberapa foto untuk dokumentasi saya kembali kebawah menuju tempat parkiran untuk mengambil motor. Sebelum pergi dari Marble mountain saya menyempatkan untuk membeli beberapa souvenir mengingat tempat ini terkenal akan kerajinan marmernya jadi saya harus membeli sesuatu ditempat ini. Waktu itu saya membeli sebuah gelang dan ukiran patung kecil naga, ingat ketika kalian membeli souvenir disini harus ditawar yah..karena harganya cukup mahal juga sih bagi saya pribadi. Untuk gelang yang saya beli disini sekitar VND 200.000 dan patung ukiran naga kecil VND 200.000 itu sudah merupakan harga perdebatan/nego dengan penjualnya. Harga awal mereka bervariasi dari barang yang akan dibeli oleh pengunjung, kalau seperti saya harga awalnya bisa sekitar VND 300.000-400.000. Oleh sebab itu tawar menawar sangatlah penting ketika membeli souvenir diberbagai negara, bukan hanya di Vietnam saja. Terkadang penjualnya ada yang baik dan ada yang menjengkelkan ketika produk yang dijual kita tawar mungkin tidak sesuai dengan si penjual. Tetap bertatakrama saat menawar dan melihat apa yang mereka jual saat itu, apabila handmade patutlah untuk di apresiasi dengan nilai yang jauh lebih baik.
Banyak bangunan kuno yang sangat artistik menurut saya di Marble Mountain

View yang saya dapatkan keluar dari lift, tapi nggak bersalju yah..ini hanya imajinasi ^^


Salah satu Goa yang ada di Marble Mountain, dan masih ada banyak yang lain
Top of Marble Mountain

Best spot lah buat foto, cuman nggak ada modelnya

other pagoda in Marble Mountain

Gerbang dengan design yang cukup unik ditambah letaknya diantara bukit yang membuat sedikit creepy




Marmer yang nantinya akan diolaht pengerajin untuk mata pencahariannya

Tidak terasa matahari sudah semakin terbenam siang berganti menjadi malam yang membuat saya harus cepat bergegas menuju destinasi terakhir untuk hari ini yaitu menuju Hoi An kalau saya pribadi memberikan julukan city of light di malam hari.
Pukul 18:00 saya berangkat menuju Hoi An dari Marble mountain dengan keadaan jalan yang lumayan lancar dan lebih aman ketimbang di Hanoi dan Ho Chi Minh yang sangat padat pengendara motor. Jalur yang saya lalui cukup jelas tanpa menggunakan bantuan google map, jadi untuk kalian yang ingin ke Hoi An dari Da Nang hanya mengikuti plang yang ada di jalan saja. Waktu itu saya ingin mengunjungi Old town nya, karena memang disana yang menyajikan tempat romantis itu. Ketika sudah dekat dengan Old town benar saja dari kejauhan sudah terlihat lampion-lampion yang menghiasi sepanjang jalanan Hoi An. Saya sudah tidak sabar untuk menikmati malam pertama dan terakhir di kota Hoi An ini, langsung saja saya mencari tempat untuk parkir dan saya mendapat tempat seperti pasar yang malam harinya digunakan untuk berjualan pedagang kaki lima. Untuk gambaran umum Hoi An yang lebih tepatnya di Old town ini seperti berada di Malioboro Jogja atau Kuta yang di Bali ditambah dengan para penduduk setempat yang menjual beberapa souvenir seperti baju,gantungan kunci, lampion dan bebrapa tempat nongkrong yang sangat romantis pastinya. Hanya saja disini lebih banyak bangunan tua karena sesuai tempatnya yaitu di Old town kemudian ditambah dengan lampion-lampion yang menghiasi seluruh Old town di malam hari. Momment inilah yang langsung membuat saya jatuh cinta pada pandangan pertama ketika berada di Hoi An, sayangnya saya hanya punya waktu beberapa jam saja di tempat ini dan pastinya masih sendiri...hahahahahaha.
Di Hoi An kamu bisa menghabiskan waktu untuk mengitari kota yang kecil ini dengan berjalan kaki, menaiki perahu dengan pemandangan lampu warna-warni, membeli beberapa souvenir, ataupun kalau ada rencana prewedd juga bisa dan sangat rekomendasi. Pada waktu itu saya melihat beberapa pasangan yang sedang melakukan preewed disini dan langsung bikin saya jadi baper...hahahahaha...tapi tidak apa, paling tidak saya mempunyai beberapa tempat yang rekomendasi buat prewedd kedepan..hahahahaha. Memang waktu itu saya melihat beberapa pasangan orang Vietnam yang melakukan prewedd bukan hanya di Hoi An saja, waktu saya di Ho Chi Minh juga ada. Baik itu tempat yang romantis sampai tempat yang anti mainstream juga dijadikan tempat prewedd. Contohnya saja waktu di Ho Chi Minh hari pertama tepatnya saat saya mengunjungi Ben Tanh Market juga berpapasan dengan pasangan yang sedang melakukan prewedd. Seakan-akan di setiap sudut Vietnam merupakan tempat yang cocok untuk prewedd kali yah..Lanjut ke cerita sebelumnya, jadi saat saya ke Old town saya hanya menghabiskan waktu untuk mengambil beberapa foto dan menikmati malam yang syahdu ini. Pengunjung waktu itu sangat ramai baik itu wisatawan asing maupun lokal, karena memang daya tarik kota kecil ini membuat beberapa orang tersihir akan suasana yang sangat romantis ketika berada di Hoi An. Waktu berjalan sangat cepat waktu itu hingga sudah tidak terasa sudah menunjukan pukul 21:00 dan saya harus kembali ke penginapan, sebelum pulang ada hal kejadian yang membuat saya khawatir yaitu saya lupa parkir motor sebelumnya. Hal ini sangat konyol bagi saya, tidak lucu kalau saya berada semalaman disini dan tidak bisa balik lagi ke penginapan. Waktu itu saya mencari dan memutari sepanjang jalan yang sekiranya saya yakin kalau tempat tersebut ialah parkir yang saya gunakan tapi tidak ada motor saya. Setelah mengitari sepanjang jalan Hoi An yang sangat ramai itu membuat saya lapar dan memutuskan untuk beristirahat dan membeli makanan. Setelah kenyang saya melanjutkan untuk mencari motor lagi dan setelah pencarian panjang akhirnya saya menemukan motor tersebut, rasanya sangat lega dan langsung saja saya tancap gas ke penginapan lagi. Perjalanan hari ini sangat banyak menguras tenaga karena seharian ini saya mengunjungi 4 destinasi wisata yang ada di Da Nang dan saya rasa semuanya memuaskan sehingga membuat saya ingin kembali ke kota ini terutama di Hoi An.
Salah satu aktivitas yang bisa kamu lakukan ketika di Hoi An yaitu berkeliling menggunakan perahu

So Sweet, sayang aja sendirian
suasana malam hari yang bikin betah di Hoi An

Gimana nggak pengen balik kalau suasananya seperti ini

Keesokan harinya saya masih mempunyai waktu beberapa jam untuk berkeliling di kota Da Nang sebelum saya bertolak lagi ke Ho Chi Minh, destinasi yang saya tuju waktu itu adalah Cathedral Danang dan Dragon Bridge yang merupakan salah satu icon di kota Da Nang. Pagi hari sekitar pukul 08:00 saya memulai perjalan pertama saya menuju Cathedral, untuk sampai ke tempat tersebut hanya memakan waktu sekitar 30 menit dan melewati Han Bridge yang cukup terkenal juga selain Dragon bridge. Sesampainya di Cathedral Da Nang saya hanya mengambil beberapa foto saja karena waktu yang sangat terbatas, uniknya Cathedral Da Nang yaitu memiliki warna bangunan pink yang tidak biasanya dengan Cathedral lainnya dan keunikan ini membuat beberapa turis seperti saya mencantumkan Cathedral Da Nang kedalam destinasi saya. Selesai dari Cathedral Da Nang saya menyempatkan untuk mampir ke toko depan Cathedral sebentar untuk membeli minuman setelah itu melanjutkan perjalanan ke Dragon Bridge.
Tampak dari depan Da nang Cathedral

Dragon bridge tidak jauh dari Cathedral Da nang dapat ditempuh dengan memakan waktu sekitar 15menit saja menggunakan motor. Sesampai di Dragon bridge saya mencari tempat parkir yang ada di atas trotoar yang disediakan khusus untuk pengendara motor ketika ingin berfoto di sebelah Dragon Bridge. Suasana pagi di sekitar Dragon bridge lumayan ramai baik itu wisatawan asing maupun lokal untuk mengambil beberapa foto di tempat tersebut. Apabila kalian merasa haus atau lapar jangan khawatir karena di samping Dragon bridge berjejer kafe dengan pemandangan bagus pastinya ketika di malam hari. Ada info juga tentang Dragon bridge, tepatnya di Saturday night atau malam minggu khususnya pukul 21:00 Dragon bridge mempunyai satu pertunjukan yaitu mulut dari naga yang ada di Dragon bridge menyemburkan api yang seolah-olah jembatan itu dikuasai oleh naga tersebut. Apabila ingin menonton carilah spot yang menurut kalian pas karena pertunjukan ini hanya seminggu sekali dan saya rasa sangat epic. Karena kalau saya lihat di beberapa situs website area sekitar Dragon bridge pasti sangat ramai dipadati oleh orang-orang. Sayangnya saya tidak bisa melihat momment epic itu karena jadwal saya yang sangat mepet dan harus berjalan terus, kalau tidak begitu pasti akan menggeser beberapa destinasi lainnya. Tidak ada biaya masuk apapun ketika saya memasuki area Cathedral Da Nang dan Dragon bridge semuanya gratis alias free enterance.
Merlionnya Da Nang
Dragon Bridge Da Nang

Selesai mengunjungi 2 spot tersebut menandakan semua destinasi saya ketika di kota Danang telah selesai dan complete. Selanjutnya saya balik lagi ke penginapan untuk prepare dan dilanjutkan ke bandara untuk pindah lagi ke Ho Chi Minh. Pada waktu itu penerbangan saya dari Danang pukul 13:30 dan sesampainya di Ho Chi Minh sekitar pukul 15:00. Dari bandara Ho Chi Minh saya mulai sedikit hafal lokasi bus disana, jadi setelah keluar dari gate saya langsung menuju tempat yang dimana saya menaiki bus sebelumnya. Waktu itu saya tetap menggunakan bus bernomor 152 dengan biaya ke Ben Tanh Market sebesar VND 5.000. Perjalanan aman sampai di Ben Tanh Market hanya kemacetan biasa yang kembali saya temui ketika menginjakan kaki di kota Ho Chi Minh lagi. Sesampainya di Ben Tanh Market saya langsung menuju lokasi tempat saya menginap karena saya mengejar waktu agar tidak kemalaman. Lha disini ada momment dimana saya salah masuk penginapan, gimana ceritanya yah bisa salah masuk penginapan?
Jadi begini ceritanaya, setelah sampai di Ben Tanh Market saya tanya sama kondektur bus dimana lokasi penginapan saya ini. Kondektur bus langsung saja memberi saya isyarat untuk turun di tempat yang dianggap benar oleh kondektur bus tersebut. Turunlah saya di tempat yang dibilang sama kondektur tadi, tetapi kalau saya lihat di google map kok lumayan jauh yah..akhirnya saya mencoba untuk percaya sama google map. Perjalanan dari saya turun bus ke penginapan yang akan saya tuju sekitar 30 menit berjalan kaki. Lumayan olahraga yah kalau disini, jadi saya tidak terlalu banyak menggunakan moda transportasi ketika di Ho Chi Minh karena tempat yang saya tuju tidak begitu jauh menurut saya. Sesampai di penginapan yang saya tuju dan saya mencoba untuk memberikan kode booking saya, dan ternyata resepsionisnya mengatakan kalau saya salah penginapan. Jadi ceritanya penginapan yang sudah saya booking ini memiliki cabang dan yang akan saya tempati nantinya adalah cabang satunya. Setelah melihat kode bookingnya saya tidak melihat kalau ada cabangnya..ternyata ini kesalahan saya sendiri mungkin akibat kelelahan atau kurang fokus. Jadi saya bertanya kepada resepsionisnya dimana lokasi penginapan cabang satunya. Ternyata lumayan jauh dan saya harus kembali ke tempat dimana saya turun dari bus tadi. Benar saja apa yang dikatakan kondektur bus kalau penginapan saya ada disekitar tempat saya turun tadi. Memang saya saja waktu itu yang ngeyel dan lebih percaya sama google map. Akhirnya saya kembali ketempat dimana saya turun dari bus dan berjalan lagi 10 menit sampai di penginapan yang akan saya gunakan.
Pada saat saya di penginapan yang saya lakukan hanya istirahat dan mencoba untuk tidur sebentar, karena di malam harinya saya akan ke Ben Tanh Market untuk mencari beberapa oleh-oleh untuk orang rumah dan sahabat dekat. Suasana malam hari di area Ben Tanh Market saat itu ramai dikunjungi oleh wisatawan asing maupun lokal baik itu untuk mencari souvenir atau sekedar menikmati malam di Market yang menjadi salah satu icon di kota Ho Chi Minh ini. Waktu itu di Ben Tanh Market saya hanya mencari beberapa souvenir seperti kaos, magnet, gantungan kunci dan selebihnya saya hanya berjalan-jalan dan menikmati malam hari di Ben Tanh Market. Sebenarnya ada beberapa souvenir selain yang saya sebutkan tadi tetapi saya melihat tas ransel semi carier yang saya bawa jadi hanya mencari barang yang sekirannya muat dan aman didalam tas. Barang lainnya ada sepatu, kemudian papercraft yang unik-unik bentuknya, pernak-pernik lampu hiasan kamar, dan masih banyak lainnya.
Puas mengelilingi Ben Tanh Market saya langsung kembali ke penginapan dan saya gunakan untuk full istirahat saja karena dari hari-hari sebelumnya saya kurang menggunakan waktu di penginapan. Ada ketika momment dimana saya merasa ingin menikmati suasana atmosfir penginapan meskipun itu cuman dormitory saja, tetapi saya mencoba untuk lebih menikmati atmosfir didalamnya seperti duduk di depan teras dan mencoba untuk mengobrol sedikit dengan resepsionis. Biasanya orang-orang di penginapan untuk numpang tidur saja dan kemudian melanjutkan kembali perjalanan keesokan harinya. Saran dari saya ketika lagi travelling baik itu solo maupun tidak cobalah untuk melakukan apa yang ingin kamu lakukan meskipun itu tidak terlalu penting contohnya saya tadi meluangkan sedikit waktu untuk menikmati atmosfir di penginapan.
Keesokan harinya menjadi hari terakhir saya atau menjadi penutup perjalanan saya selama di Vietnam yaitu mengunjungi kafe yang lagi naik daun namanya Trung Nguyen, kafe ini sudah menjamur di belahan Vietnam manapun pasti menjumpai kafe Trung Nguyen. Kafe ini menawarkan banyak varian kopi mulai dari kopi tradisional maupun yang modern dengan beberapa tekhnik pembuatan kopi. Suasana di kafe ini kalau saya lihat seperti starbuck atau kafe lainnya yang menjaring pangsa pasar menengah keatas. Jadi waktu masuk di kafe Trung Nguyen banyak beberapa orang yang berpakaian formal seperti kantoran, meskipun begitu beberapa remaja disini juga tetap mendominasi kafe Trung Nguyen. Untuk masalah harga saya katakan cukup wajar sih sama seperti di Indonesia mungkin produk yang disajikan jauh lebih nikmat dari pada di Indonesia khususnya kopi.
Puas menikmati kafe yang terkenal di Vietnam saya kembali ke penginapan siang harinya dan langsung check out dari penginapan, setelah itu saya menuju Ben Tanh Market dengan berjalan kaki untuk mencari bus yang bertolak ke bandara. Sesampainya di bandara waktu itu sekitar pukul 20:00 dan melanjutkan untuk boarding melanjutkan perjalanan menuju singapore. Waktu itu saya transit dulu di Changi Airport dan keesokan harinya lanjut bertolak ke Jakarta.
Sedikit info atau trik ketika berhadapan dengan bagian check in bandara ketika kalian khawatir tas akan masuk bagasi atau kabin saya alami waktu itu. Pada saat itu saya membawa 2 tas, yang pertama tas ransel tapi semi carier dan yang kedua tas totbag tapi lumayan gede. Lha ketika antri check in saya melihat beberapa bule menimbang tasnya masing-masing dan ada satu orang lokal yang tasnya di timbang tetapi melebihi muatan dan orang tersebut bingung karena dikira akan masuk kabin jadi mau tidak mau orang tersebut harus membayar biaya tasnya untuk di masukan kedalam bagasi dengan tambahan biaya yang lumayan sih menurut saya. Hal tersebut membuat saya cukup panik karena waktu itu saya hanya membawa uang pas dan saya tidak tahu untuk biaya masuk bagasi berapa. Jadi waktu itu ransel saya pas di timbang beratnya sekitar 7kilo sedangkan untuk kapasitas maximal dikabin perorangnya diberi jatah 8kilo. Untuk tas saya satunya kalau saya rasakan sekitar 2kilo lebih dan apabila kalau ditimbang pasti harus masuk bagasi karena memang cukup berat sih menurut saya. Tetapi saya mempunyai trik ketika saya sebelum berangkat ke Vietnam dengan membaca sebuah artikel milik seseorang dalam mengelabuhi petugas check in agar tas terlihat ringan dan tidak masuk bagasi. Caranya yaitu ketika menggunakan carier tata serapi mungkin barang-barang yang ada didalamnya dan ketika dipanggul tidak terlihat berat, nah gimana tuh biar nggak kelihatan berat kalau barang bawaannya banyak. Senyumin aja pas lagi bawa carier....hahahahaha..
Jadi triknya seperti ini, posisi tas harus terlihat ramping dan semua barang pastikan tertata rapi agar carier tidak terlihat menggelembung. Kemudian alihkan perhatian mata petugas check in dari tas dengan cara mengajak dia mengobrol meskipun obrolannya tidak terlalu penting sih, Tapi its work ketika saya mengalami hal kemarin di penimbangan tas. Kalau cara saya waktu itu adalah tas pertama saya lepas karena memang sudah kelihatan dari jauh dan harus ditimbang, sedangkan tas satunya saya pakai dan saya tutupi dengan sweater agar tidak terlalu kelihatan. Tahap selanjutnya yaitu saya mencoba untuk bertanya kepada petugas tersebut jam berapa pesawat yang akan saya tumpangi akan take off. Memang pertanyaan ini tidak penting menurut kalian, tetapi ini cukup manjur untuk mengecoh petugas bandara khususnya ketika kalian kelebihan muatan tas..hehehehe. Karena dijelaskan didalam artikel tersebut karena dengan mengajak ngobrol sesorang secara tidak langsung bisa mengalihkan kefokusan seseorang terhadap suatu pandangan. Bukan berarti saya mengajari kalian untuk berbuat curang atau apapun itu, tapi kalau punya rejeki lebih setidaknya tas bisa dititipkan dibagasi saja. Berhubung waktu itu kondisi saya yang memang lagi pas-pasan jadi mau tidak mau menggunakan cara ini. Trik ini hanya dilakukan untuk keadaan yang genting saja kalau saran saya yah teman-teman Hehehehehe. Lepas dari penimbangan tas saya langsung berjalan mundur untuk beberapa langkah agar tas yang saya gunakan tidak terlihat oleh petugas setelah itu menggunakan jurus seribu langkah alias kaburrrrrrrrr...
Oke sekian merupakan ending dari cerita perjalanan singkat saya di Vietnam selama hampir seminggu solo backpacker ala wisatadenny. Menjelajah mulai dari Vietnam bagian Selatan, Utara, Tengah dan kembali ke Selatan dengan orang-orang yang baru,suasana yang baru, dan juga pengalaman yang baru pastinya. Semoga artikel ini bisa menjadi inspirasi untuk kalian semua agar tidak takut ketika akan melakukan solo backpacker untuk pertama kalinya seperti saya. Perasaan awal memang khawatir tetapi seiring berjalannya waktu pasti kalian akan bisa beradaptasi di lingkungan tersebut dengan cara masing-masing. Hidup hanya sekali, lakukan apa yang ingin kamu lakukan didunia ini tanpa memikirkan omongan orang lain dan yang pasti tidak merugikan orang lain. Do it now or Nothing  ^^

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


Setelah rehat beberapa tahun dari dunia blog, akhirnya saya kembali dengan membawa satu pengalaman yang baru untuk saya bagikan kepada kalian. Kali ini saya akan memberikan pengalaman dan beberapa tips ataupun informasi ketika saya melakukan solo backpacker di Vietnam selama 7 hari untuk yang pertamakalinya.
Okey....sebagai kalimat pembuka untuk artikel ini ada beberapa teman saya yang menanyakan kenapa sih lebih memilih negara Vietnam daripada negara Asia yang lain? Tentu untuk menjawab pertanyaan ini pastinya biaya hidup disana jauh lebih murah di banding Indonesia bahkan Thailand menurut informasi yang saya kumpulkan sebelum berangkat kesana. Mata uang mereka bernama Vietnam Dong atau singkatnya VND yang nilainya labih rendah daripada mata uang Indonesia Rupiah. Jadi ilustrasi umum mengenai mata uang Vietnam seperti ini, semisal kita punya uang Rp. 100.000 kalau di konvert di mata uang mereka menjadi sekitar VND 160.000an. Mata uang mereka jatuh lebih dari setengahnya dari mata uang Rupiah di tahun 2018. Maka dari itu apabila kamu sudah terbiasa dengan keadaan ekonomi yang ada di Indonesia setidaknya kamu akan hidup makmur di negara Vietnam dengan catatan harus tetap waspada dengan beberapa scam di negara Vietnam.
Selanjutnya untuk tempat wisata di Vietnam apakah bagus dan menarik? Jangan khawatir apabila kalian bingung ketika akan berkunjung ke Vietnam. Tempat wisata di Vietnam sangat beragam, mulai dari pantai, gunung, wisata keluarga, wisata malam, wisata kuliner dan masih banyak lagi yang bisa kamu lakukan di negara paman Ho ini. Vietnam merupakan bagian dari wilayah asia yang lokasinya cukup strategis untuk pariwisata. Misalnya kalian ingin explore wilayah selatan, ada beberapa tempat wisata pagoda seperti Cao Dai tample yang terkenal akan wisata religinya, kemudian Notre Dame Cathedral Basilica of Saigon dengan design bangunan yang artistik, Saigon Central Post Office dengan design bangunan kuno yang artistik dan kalian bisa membeli beberapa souvenir disini, mengunjungi beberapa lendmark pemerintahan, pasar yang sangat terkenal yaitu Ben Tanh Market, Chuchi tunnel dengan terowongan bawah tanah yang sangat kecil menjadi saksi bisu peperangan zaman dulu melawan tentara Perancis, mengitari sungai delta mekhong yang sangat terkenal dan masih banyak tempat lainnya.
Jika kalian ingin mencoba explore wilayah tengah seperti Da nang, kalian bisa mengunjungi beberapa tempat wisata seperti Da Nang beach dengan garis pantai yang panjang, Hoi an kota kecil dengan sejuta cahaya warna-warni di malam hari, mengunjungi Marble mountain untuk melihat view kota Da Nang dari puncak gunung lebih tepatnya seperti bukit, wisata keluarga yang sangat terkenal di Da Nang yaitu Sun World dengan design seperti berada di Eropa, dan beberapa pagoda lainnya di Da Nang.
Apabila kamu ingin fokus wisata alam, kalian bisa langsung menuju Vietnam utara letaknya di kota Hanoi. Disekitar kota Hanoi banyak sekali wisata alam yang bisa kalian kunjungi, karena letaknya di utara dan sangat dekat dengan perbatasan negara China ada beberapa kota di sekitar Hanoi yang juga bisa merasakan turunnya salju contohnya di kota Sapa. Selain itu wisata alam yang terkenal di Hanoi yaitu Halong Bay, siapa sih yang belum tau tempat wisata ini? Kalau kalian ada yang belum tahu langsung saja googling dan bisa melihat betapa indahnya tempat ini. Selain Halong Bay ada juga Perfume pagoda yang dimana pagoda ini sangat ramai dikunjungi ketika ada festival di Vietnam, selain itu ada beberapa pagoda yang letaknya berada di bukit. Apabila kamu ingin menggunakan kayak/perahu kecil sambil menikmati bukit-bukit yang menjulang tinggi kamu bisa berkunjung ke Tam Coc. Selain itu masih banyak lagi tempat wisata yang bisa kalian kunjungi di Vietnam bagian utara.
Bagaimana dengan transportasi disana? Di Vietnam rata-rata kendaraan yang sering digunakan adalah sepeda motor, sama seperti di negara kita Indonesia. Sepeda motor disana jumlahnya sangat banyak, tidak heran kalau kamu berjalan-jalan di kota Vietnam selalu mendengarkan klakson setiap detiknya khususnya di Ho Chi Minh dan Hanoi. Perbedaannya dengan negara kita apabila kalian berkendara di negara Vietnam kalian harus berada di sisi sebelah kanan, jadi ketika berkendara di Vietnam selalu mindset pikiran kalian untuk tetap di lajur kanan kalau tidak ingin membahayakan diri kalian sendiri. Saya kasih tahu bahwa pengguna motor di Vietnam juga lumayan ugal-ugalan dan terkadang tidak mau mengalah dengan para wisatawan/warga lokal yang ingin menyebrang, jadi dibutuhkan modal keberanian saat akan menyebrang jalan. Transportasi lain yang digunakan ada Bus dan kereta, tetapi hanya beberapa orang saja yang menggunakan bus dan kereta. Tarif bus juga tidak terlalu mahal hanya mengikuti jarak tempuh yang akan dituju, apabila tujuan kalian jauh maka ongkos yang dikeluarkan juga akan lebih banyak begitu sebaliknya. Transportasi kereta di Vietnam hanya beberapa orang saja dan tidak cukup banyak yang menggunakan, hanya beberapa orang khususnya yang akan bepergian jauh ke daerah lain. Kereta api di Vietnam sudah memiliki sleeper train untuk mengoptimalkan penumpang ketika akan beristirahat,  jika kalian ingin bepergian jauh bisa menggunakan opsi sleeper train ini untuk merasakan sensasi yang berbeda. Biasanya sleeper train digunakan oleh beberapa wisatawan mancanegara untuk pindah ke kota yang jaraknya cukup jauh seperti dari Ho Chi Minh ke Hanoi yang memakan waktu cukup lama sekitar seharian. Biaya yang dikeluarkan otomatis jauh lebih mahal dari bus biasanya, sleeper train hanya untuk opsi beberapa orang yang ingin menggunakan/mencoba saja sambil menikmati pemandangan melalui jalur darat dan membuat suasana lebih santai sembari menghemat biaya penginapan.
Sekarang beralih ke makanan, apakah sulit mencari makanan khususnya makanan halal di Vietnam? Menurut pengalaman saya kemarin jika kalian stay di sekitar wilayah Ben Tanh Market tidaklah sulit mencari makanan halal, karena disekitar Ben Tanh Market terdapat 1 lokasi yang dimana lokasi tersebut sudah dipadati oleh penduduk setempat yang bisa berbahasa melayu. Jadi disana terdapat beberapa kedai makan halal berderet dan beberapa kios yang menjual souvenir. Apabila kamu stay ditempat lain yang belum kamu ketahui dimana lokasi makanan yang halal saya sarankan untuk melihat gambar makanannya terlebih dahulu. Kemudian satu cara lagi yaitu lihat nama makanannya kalau ada akhiran “GA” itu berarti ayam. Jika kalian masih khawatir lagi bisa pergi ke restoran cepat saji seperti KFC, MCD, dll. Selama stay di Vietnam selama 7 hari saya hanya memakan 2 jenis makanan lokal yaitu Banh My Ga (roti seperti sandwich dengan irisan daging ayam didalamnya) dan Com Ga (nasi kuning dengan beberapa sayuran lauknya ayam). Saya rasa cukup untuk mengawali artikel perjalanan yang akan saya bagikan kepada kalian dan saatnya membahas seluruh perjalanan saya di Vietnam selama 7 hari.

Perjalanan solo backpacker ke Vietnam kali ini saya pilih dengan tujuan untuk hadiah ulang tahun saya sendiri pada waktu itu yang bertepatan di bulan September 2018. Sebenarnya saya agak takut dan khawatir untuk solo backpacker apa lagi ke negeri orang yang jauh dari apa saja untuk pertama kali. Sempat berfikir beberapa kali apakah perjalanan ini akan saya teruskan atau tidak, setelah beberapa pertimbangan akhirnya saya putuskan untuk berangkat dengan modal nekat. Saya sih mikirnya sekalian untuk menguji seberapa besar mental dan tanggung jawab terhadap diri saya sendiri, selain itu untuk melatih bagaimana cara memplanning semua acara yang saya buat dan melakukannya. Traveling kali ini juga saya rasa kurang persiapan, karena pada saat H-2 itinerary masih juga belum fix tidak seperti biasanya. Selain itu saya juga masih mencari-cari tiket penerbangan H-7 yang dikarenakan paspor yang akan expired, jadi mau nggak mau saya harus perpanjang dan membutuhkan waktu sekitar 4 hari masa kerja untuk mengambil paspor selesai. Sebelum perpanjang paspor sebenarnya saya sudah menemukan beberapa tiket murah tetapi akibat paspor yang akan expired akhirnya saya relakan tiket murah tersebut untuk saya gunakan memperpanjang paspor saja, karena menurut teman saya ketika paspor 6 bulan menjelang expired maka harus segera diperpanjang demi menghindari deportasi.
Perjalanan ke Vietnam kali ini saya menggunakan pesawat Jet star yang berangkat dari Jakarta Cengkareng kemudian transit di Singapore semalem dan esok harinya diteruskan ke Ho Chi Minh. Pada waktu itu saya mendapatkan tiket PP Jakarta – Ho Chi Minh saja seharga Rp. 2.196.888. Kemudian saya juga membeli tiket pesawat untuk penerbangan lokal Ho Chi Minh – Hanoi Rp. 627.194, Hanoi – Da Nang Rp. 364.788, Da Nang – Ho Chi Minh Rp. 481.991.
Selain itu saya juga sudah booking penginapan di Hanoi High Five Hostel Rp. 110.000/ 3 malam, kemudian Win Win Hostel di kota Da Nang seharga Rp. 83.000/ 2 malam, dan juga Vy Da Backpacker Hostel 2 di Ho Chi Minh seharga Rp. 65.618/ semalam
Perjalanan berawal dari kota kelahiran saya yaitu Gresik, jadi untuk menuju Jakarta saya harus ke Surabaya terlebih dahulu untuk naik kereta ekonomi yang saya pilih agar budget yang saya keluarkan tidak terlalu banyak, saat itu naik kereta ekonomi dari stasiun Pasar Turi seharga Rp. 150.000 dengan tujuan stasiun Pasar Senen. Perjalanan dari setasiun Pasar Turi ke stasiun Pasar Senen sekitar 12 jam perjalanan darat. Setelah sekian lama saya tidak menggunakan moda transportasi kereta api untuk perjalanan jauh akhirnya saya menggunakan transportasi ini kembali dengan segala aktivitas yang membosankan pastinya karena selama 12jam di kereta tanpa ada partner ngobrol. Untung saja ada teman yang mau saya ajak video call waktu itu untuk mengusir rasa bosan selama di dalam kereta. Sesampai di setasiun Pasar Senen pukul 08:45 langsung menuju pintu keluar untuk mencari tempat peristirahatan di sekitar setasiun. Setelah saya rasa cukup istirahat di stasiun Pasar Senen saya melanjutkan perjalanan menuju setasiun Gambir untuk naik bus damri menuju bandara Soekarno-Hatta. Pada saat menuju ke stasiun Gambir saya lebih memilih jalan kaki dari stasiun Pasar Senen karena saya memiliki waktu yang cukup banyak. Pada saat itu penerbangan saya pukul 21:30 sedangkan pukul 09:00 saya sudah di stasiun Pasar Senen. Pada saat jalan kaki menuju stasiun Gambir cuaca di Jakarta membuat saya gerah dan mudah capek, akhirnya saya berhenti sekali di dekat patung tugu tani untuk istirahat sambil makan bubur ayam agar perut tidak kosong. 
Istirahat sekitar tugu tani

Selesai makan saya menuju masjid terdekat untuk beribadah dan merebahkan badan selama sejam. Waktu pun tak terasa menunjukan pukul 14:00 saya lanjutkan perjalanan lagi menuju stasiun Gambir, sesampai di stasiun Gambir waktu itu sekitar pukul 15:00 saya langsung menuju loket pemesanan tiket bus Damri yang ada di belakang stasiun Gambir untuk menuju ke bandara soekarno-hatta dengan biaya Rp. 40.000. Perjalanan dari stasiun Gambir ke bandara Soekarno-hatta memakan waktu sekitar 60menit dan kebetulan pada waktu itu tidak macet jalanan kota Jakarta. Sesampainya di bandara Soekarno-Hatta tepatnya diterminal 3 saya langsung turun dan waktu itu sekitar pukul 16:15 langsung saja saya mencari spot untuk beristirahat sambil mengulur waktu hingga jam keberangkatan. Waktu berjalan dengan cepat saat itu saya gunakan untuk bermain game di Handphone dan tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 18:30 langsung saja saya masuk ke dalam untuk boarding  dan menuju gate yang telah ditentukan untuk take off.
Tiket bus damri menuju bandara Soekarno-Hatta

Sesampainya di Changi airport yang ada di Singapore waktu itu sekitar pukul 00:15 waktu setempat, berbeda waktu 1jam lebih cepat dibanding Jakarta. Pada saat di Singapore saya lebih memilih untuk stay dan istirahat didalam bandara saja daripada saya keluar menuju kota dan mengakibatkan resiko keterlambatan. Changi airport di Singapore ternyata sangat besar dan sangat nyaman, ini adalah pertamakali saya transit di Changi airport. Pertama kali sampai saya langsung menuju informasi center untuk menanyakan password wifi yang ada di bandara ini, karena tidak mungkin saya hanya bengong di bandara ini selama kurang lebih 5 jam. Apabila kalian belum tahu untuk mendapatkan password wifi di bandara langsung saja bertanya di informasi center dengan menyerahkan pasport dan nanti akan dikasih semacam struk yangi bertuliskan tata cara menggunakan wifi bandara. Setelah itu masuk wifi bandara yang nanti akan menuntunmu ke pencarian. Berikut cara mengaktifkan wifi di Changi airport :
  1. Pilih “3 hours free wifi access”
  2. Kemudian pilih opsi “OTP via info counter / kiosk”
  3. Setelah itu masukan password wifi yang kamu dapatkan tadi
  4. Pilih “Start surfing”
Selamat mencoba free wifi Changi Airport di Singapore, dengan durasi waktu 3 jam saja. Apabila waktunya sudah habis kalian bisa mengulangi cara awal lagi untuk meminta password wifi bandara ke informasi center.
Selfi sama Merlion

Pada saat di Changi airport saya hanya internetan beberapa jam dan kemudian saya gunakan waktu untuk tidur yang awalnya saya tidak mau tidur karena takut kebablasan, karena pukul 04:00 waktu setempat gate sudah mulai di tampilkan dilayar keberangkatan. Malam itu saya sudah sangat ngantuk dan tidak kuat lagi, akhirnya saya tertidur juga meskipun di kursi tunggu. Untung saja pada waktu itu saya terbangun tepat pukul 04:00 seakan saya sudah mempunyai alarm dalam diri saya sendiri dan langsung saja menuju ke kamar mandi untuk cuci muka kemudian mencari gate penerbangan ke Ho Chi Minh, gate satu ke gate yang lain lumayan jauh dan lama ketika berjalan kaki. Jadi waktu itu saya agak percepat langkah saya untuk menuju gate yang saya tuju. Changi airport menurut saya bandara yang sangat profesional karena fasilitas disini membuat orang menjadi betah dan nyaman. Untuk transit saja disediakan alat pemijat kaki gratis tanpa dipungut biaya, meskipun ruangannya sangat besar dan penuh dengan orang transit waktu itu suhu disini cukup dingin, kemudian ada beberapa kursi santai yang membuat kaki bisa selonjoran hingga membuat kalian tertidur pulas ditambah kalau kalian merasa lapar, langsung saja menuju beberapa stand yang menjual makanan atau sekedar ngopi untuk mengusir rasa kantuk tapi ingat gunakan mata uang dollar Amerika atau Singapura. Waktupun cepat berlalu dan tiba saatnya untuk penerbangan selanjutnya menuju negara paman Ho atau dikenal dengan Ho Chi Minh City.
     
      Dari atas sudah terlihat pemandangan yang cukup indah negara Vietnam yang membuat saya semakin bersemangat untuk mengexplore negara ini, sesampainya di bandara Tan Son Nhat airport Ho Chi Minh sekitar pukul 08:30 pagi. Saya langsung menuju pintu keluar kedatang internasional dan langkah awal saya waktu itu adalah menuju money changer yang ada didekat pintu keluar, untuk kalian yang masih bingung bagaimana rate money changer disana sebaiknya tanya terlebih dahulu atau lihat turis untuk menukarkan uangnya dan berapa yang mereka dapatkan. Waktu itu saya menuju salah satu money changer disana dan melihat turis menukarkan uang USD nya setalah itu barulah kita tahu berapa duit yang didapat. Ternyata untuk money changer yang pertama kursnya tidak cukup baik, dan saya beralih ke money changer sebelahnya langsung mencoba bertanya kepada salah satu pegawai disana “untuk USD 100 berapa VND yang saya dapatkan?” waktu itu dia langsung menghitung di kalkulator dan menunjukan kepada saya. Setelah saya lihat kursnya lebih baik daripada money changer sebelumnya. Money changer yang saya temui ini harganya sesuai dengan kurs yang ada di internet dan tanpa ada biaya tambahan administrasi. Pada waktu itu saya langsung menukar semua uang USD yang saya miliki sebesar USD 200 = VND 4.600.000an selain itu saya menyimpan  Rp. 2.500.000 cash didalam tas untuk cadangan ketika keadaan tidak terkondisi dengan baik. Jadi untuk kalian yang malu bertanya bisa contoh cara saya tadi untuk melihat turis terlebih dahulu. Apabila penasaran langsung saja bertanya dengan bahasa inggris sebisa kalian. Ingat selalu untuk tidak gegabah dalam memutuskan suatu keputusan, apalagi ini berada diluar jangkauan area kekuasaanmu..hahahaha.
saya menukarkan uang di money changer sebelah kiri

      Selesai menukarkan uang langkah selanjutnya menuju konter sim card yang letaknya berdekatan dengan money changer yang saya kunjungi tadi. Pada waktu itu saya membeli Sim Card seharga VND 200.000 dengan fasilitas 4G unlimited kuota selama 20 hari, kalau tidak salah namanya Vinatel untuk operatornya. Untuk informasi saja sebenarnya ada beberapa operator Sim Card cuman saya setelah membaca beberapa artikel dari orang-orang akhirnya saya memilih vinatel dengan harga VND 200.000 meskipun saya disana hanya sekitar 7 hari saja. Keputusan ini saya ambil untuk jaga-jaga saja dan opsi dari para blogger yang sudah pernah kesana.
Tempat saya membeli SIM card

      Setelah membeli Sim Card saya langsung memberikan kabar kepada orang tua yang ada dirumah kalau saya sudah sampai di Vietnam dengan selamat dan masih sendiri pastinya..hahahahahaha. Tidak lupa sesampainya di Vietnam saya langsung upload di Instagram dan media sosial lainnya agar tetap eksis..hehehehe. Setelah itu saya langsung keluar dan sudah banyak sekali orang-orang yang menawarkan jasa taxi, ojek, dan lainnya. Semuanya hanya saya lewati dan saya tolak semuanya, bukan karena saya sombong atau apa nih...karena saya hanya takut terkena beberapa scam yang sudah saya baca di artikel orang-orang sebelumnya. Jadi waktu itu setelah keluar dari bandara saya memilih untuk menaiki bus warna biru bernomor 152 dengan tujuan Ben Tanh Market dengan tarif VND 5.000 atau sekitar Rp. 2.000, sangat murah meriah bukan. Padahal jarak bandara ke Ben Tanh Market sekitar 30 menit perjalanan menggunakan transportasi darat. Sebelumnya kalau saya baca artikel orang-orang yang ada di internet untuk menyarankan ke bus nomor 109 dengan warna kuning, biayanya VND 20.000 lebih mahal dari bus yang saya tumpangi saat itu.Tetapi saat itu kondektur bus 152 langsung menawarkan diri ke Ben Tanh Market dengan biaya VND. 5.000 langsung saja saya naik bus tersebut yang pasti biayanya jauh lebih murah dan tujuannya sama. Saya sih lebih menyarankan untuk menggunakan Bus ketika sampai di bandara, mengapa? Apabila kalian menaiki ojek/mobil kemungkinan scam lebih besar karena kalian hanya berdua saja jika melakukan solo backpacker. Itulah mengapa saya lebih memilih bus untuk menuju tempat yang akan saya tuju. Kecuali kalau penginapan atau tempat yang akan kalian tuju tidak dilewati bus barulah gunakan alat transportasi mobil/ojek lainnya.
Setibanya di Tan Son Nhat Airport

BUs yang akan saya naiki menuju Ben Tanh Market

      Perjalanan menggunakan bus nomor 152 ini cukup nyaman, fasilitas yang ada didalam bus terdapat Ac, tempat duduk yang lumayan empuk, kursi penumpang yang lumayan banyak, dan menurut saya sih nggak masalah untuk opsi menuju Ben Tanh Market menggunakan bus 152 ini. Untuk perbedaan dengan bus nomor 109 sebenarnya sama-sama nyaman, hanya saja ukuran bus 109 lebih besar daripada bus 152 yang saya naiki ini. Kemudian kursi yang disediakan bus 109 lebih sedikit dan kesan lebih VIP saja. Pada saat itu saya menaiki bus 152 dengan kondektur yang bisa sedikit berbahasa inggris. Sedikit informasi untuk kalian apabila sedang menaiki bus untuk menuju ke penginapan atau tempat yang dituju pastikan rute bus yang kalian naiki sesuai dengan alamat tujuan. Tanyakan terlebih dahulu tempat tujuan kalian ke kondektur agar lebih jelas tujuan kalian kemana nantinya dengan cara melihatkan secarik kertas dengan alamat yang sudah kalian tulis sebelumnya untuk kondektur yang tidak bisa berbahasa asing.
Karcis Bus nomor 152

      Sesampai di Ben Tanh Market saat itu saya langsung saja masuk kedalam, awalnya saya hanya ingin melihat-lihat bagaimana sih keadaan didalam pasar Ben Tanh Market yang katanya terkenal di Ho Chi Minh itu. Pas saya masuk pasarnya sih lumayan besar, bersih, teratur, dan didalamnya menjual berbagai macam makanan, minuman, jajanan, souvenir, pakaian, dll. Apabila kalian ingin mencari beberapa souvenir disini kalian bisa membelinya yang pasti dengan tawar menawar terlebih dahulu agar tidak menyesal nantinya karena setelah membaca beberapa artikel sebelumnya kalau pedagang disini menaikan beberapa harga dagangannya sampai nggak masuk akal. Saat itu saya hanya berkeliling didalam sambil cek-cek harga saja dan itu membuat saya merasa lapar. Akhirnya saya mampir disalah satu kedai makanan menjual seperti bihun yang lebih tebal dengan tekstur seperti mie udon dan rasa rempah yang unik pastinya seharga VND 60.000 dan air mineral VND 10.000.
Penampilan luar Ben Tanh Market

Sky Deck Bitexco

Nih tekstur mie yang cukup tebel

      Selesai mengisi perut saya melanjutkan perjalanan dengan berjalanan kaki  ke Thien Hau pagoda yang saya lihat di instagram mempunyai arsitektur yang unik dan instagramable pastinya. Perjalanan dari Ben Tanh Market meunuju Thien Hau pagoda sekitar 30 menit dan cukup menguras tenaga. Waktu itu saya berjalan kaki santai sembari melihat lingkungan sekitar yang membuat perjalanan saya tidak begitu capek. Setibanya di pintu masuk Thien Hau pagoda saya merasa bingung, karena ini merupakan tempat ibadah. Jadi mikirnya apakah saya boleh masuk untuk mengambil beberapa foto dokumentasi atau tidak. Setelah berfikir sejenak saya langsung beranikan diri untuk masuk dan apabila ada orang yang memanggil dan melarang yah berarti tidak boleh masuk, itu sih yang ada di pikiran saya waktu itu. Setelah saya masuk lebih dalam dan melihat seseorang pemuda yang lagi duduk di meja yang saya rasa itu merupakan tempat kerjanya. Langsung saja saya menghampiri dan meminta ijin apakah saya boleh berkunjung dan melihat-lihat sekitar pagoda ini dengan bahasa inggris yang sangat mepet sawah banget (pas-pas an).
      Setelah menanyakan ijin berkunjung pemuda tersebut langsung menjawab dengan bahasa tubuh mengulurkan tangannya yang berarti mempersilahkan saya untuk berkunjung dan melihat-lihat area pagoda. Saat saya berkunjung suasananya sangat sepi, ya iyalah karena ini tempat ibadah..hahahahaha. Maksud saya hanya ada saya saja sebagai pengunjung dan ada beberapa orang perawat tempat ini. Saat di Thien Hau pagoda saya hanya mengambil beberapa foto dan video untuk dokumentasi perjalanan. Bangunan Thien Hau pagoda termasuk bangunan tempat ibadah yang umurnya cukup tua juga, jadi alasan mengapa saya kesini yaitu melihat bangunanan kuno yang bersejarah pastinya.

Spot foto yang menarik di Thien Hau Pagoda

Suasana yang sangat sunyi didalam Thien Hau Pagoda

Kebanyakan menggunakan warna merah perabotannya

 Dari Thien Hau pagoda tujuan saya selanjutnya yaitu mampir ke kedai kopi yang ada di salah satu pinggir jalan yang saya lewati untuk perjalanan balik ke Ben Tanh Market. Nama kedai kopi tersebut adalah Cong Caphe yang lumayan cukup terkenal bagi kalangan muda pecinta kopi. Kedai ini menawarkan beberapa kopi khas vietnam yang mau diseduh dengan cara panas atau dingin dengan varian harga yang tidak terlalu mahal menurut saya. Pada saat itu saya memesan kopi seharga VND 30.000 dan di saat mencicipi sruputan pertama saya langsung auto tersenyum karena kopi ini asli wenakkkkk. Meskipun saya hanya penikmat kopi biasa dan ketika menyruput kopi asli Vietnam untuk pertama kali saya akuin kopinya bener-bener enak dan pas menurut saya. Paduan kopi yang tidak terlalu pahit dan manis ditambah kopi yang tidak ada ampas serta tidak membuat kembung. Jangan salah Ini bukan bagian dari iklan luwak white coffee...hahahahahaha. Kedai Cong Caphe menurut saya tempatnya sangat nyaman sih, kebanyakan yang berkunjung waktu itu muda-mudi yang masih sekolah. Kalian bisa memilih tempat duduk bisa indoor atau outdoor, kalau outdoor duduknya disebelah jalan raya dan bisa menyatu dengan hiruk-pikuk kota Ho Chi Minh. Saat berada di kedai ini saya lebih memilih untuk di Outdoor saja, karena pada waktu itu saya ingin menikmati suasana jalanan di Ho Chi Minh.
Es kopi paling cocok menemani disaat Vietnam lagi musim kemarau

      Dari meluangkan waktu untuk mencoba kopi Vietnam saya melanjutkan perjalanan selanjutnya menuju Independant palace atau kantor pemerintahan kota Ho Chi Minh hanya sekedar berfoto didepan gerbang saja dan tidak memutuskan untuk masuk kedalam karena waktu itu saya melihat turis hanya berjalan mengelilingi gedung saja sambil berfoto. Kalau tidak salah untuk masuk kantor pemerintahan ini dikenakan biaya VND 20.000.
Kantor pemerintahan Vietnam

Setelah itu saya melanjutkan perjalanan lagi ke Northerdam Cathedral dan post office yang letaknya berdekatan di jantung kota Ho Chi Minh. Untuk masuk ke dua tempat ini tidak di pungut biaya apapun alias gratis, kalian bisa foto sepuasnya di Chatedral ini. Pada saat saya mampir di Cathedral sayangnya dalam masa perbaikan untuk di beberapa bagian yang membuat tidak bisa masuk kedalam dan hanya berfoto diluar saja. Setelah dari Chatedral saya lanjutkan ke Post Office yang dimana tempat ini merupakan kantor pos dengan bangunan berarsitektur tua yang masih terjaga dan beroperasi sekaligus menjadi tujuan wisata bagi para wisatawan lokal maupun asing. Seperti halnya kantor pos biasa yang dapat mengirim surat, kalian bisa mencoba menulis surat dan mengirimnya dari Vietnam. Apabila kalian mempunyai rencana membeli souvenir cobalah untuk membeli disini, karena banyak macamnya mulai dari gantungan kunci, magnet, kartu pos, art paper, perangko, dan masih banyak yang lain dengan harga yang cukup terjangkau.
Epic moment

Situasi transportasi di Ho Chi Minh City

Sisi luar Northerdam Cathedral

Sisi luar lainnya

Bangunan sepanjang Northerdam Cathedral

Tampak luar Central Post Office

Tampak bagian dalam Central Post Office

Selesai dari Cathedral dan Central Post Office saya merasa kelelahan akibat terlalu lama berjalan kaki, kemudian saya berjalan kaki kedepan menjauh dari tempat ini dan membeli jajanan di pinggir jalan seperti sale pisang seharga VND. 10.000 tetapi ini kalau digigit sulit banget dan harus sedikit berusaha keras. Kemudian diseberang jalan saya melihat ibu-ibu tua yang tampak duduk di pinggir jalan menjual kelapa muda lalu saya menghampiri awalnya merasa kasihan, melihat kondisi ini akhirnya saya memberanikan diri untuk menanyakan berapa harga kelapa ini. Ehhhhhhh....si Ibu langsung tuh pecahin kelapa muda yang ukurannya tidak terlalu besar dan memberikannya ke pada saya. Dengan si Ibu menyodorkan kelapa muda langsung saja saya menerima kemudian meminumnya, seger banget aseli di tambah cuaca Vietnam siang itu sangat terik. Jadi minum air kelapanya di dalam tempurungnya langsung tanpa di masukan gelas,  otomatis tanpa menggunakan gula tambahan. Ketika air kelapa abis si ibu mengerok bagian dalam kelapa tersebut untuk mengambil daging kelapa dan menyuruh saya untuk memakannya. Setelah abis 1 buah kelapa muda saya bilang lagi berapa harganya dan si Ibu menjawab one hundred...sontak saya kaget kelapa muda kecil ini harganya VND. 100.000. Saya langsung bilang “are you serious ?” si ibu tetap aja bilang one hundred. Bangkeeee...gua kena scam nih. Awalnya lihat si Ibu ini Iba ehhhh jadi nya kezelll. Untung saya orangnya gak ribet kalau masalah kayak gini, langsung deh saya bayar dan langsung saya tinggal sambil muka masam meskipun dia bilang careful kepada saya.
Bentuk jajanan yang persis kayak sale pisang

Nih Si Ibu Penjual kelapa dengan harga selangit

Kelapa segini harganya VND 100.000

Lanjut perjalanan berikutnya habis dari kena scam kelapa  muda pada saat itu waktu sudah menunjukan pukul 15:00 dan saya harus mencari bus dengan tujuan bandara Tan Son Nhat agar tidak terburu-buru nantinya karena saya belum hafal benar nomor-nomor bus beserta tujuannya. Berputar-putar sekitar 1 jam untuk mencari halte bus dengan pikiran sedikit cemas dan takut kalau tidak mendapatkan bus sedangkan matahari sudah mulai terbenam akhirnya saya menemukan bus dengan tujuan bandara dengan nomor 109 yang berwarna kuning itu dengan biaya VND 20.000. Ternyata tuhan masih sayang dengan hambanya yang jadi gembel di negeri orang ini..hehehehe... Sesampai bandara sekitar pukul 17:30 dan langsung boarding. Pada saat itu banyak sekali orang-orang yang mengantri sampai mengular 3 kelokan dengan sedikit khawatir apakah masih bisa nantinya untuk masuk ke pesawat, sedangkan take off pukul 19:00. Untungnya kami semua masih bisa boarding meskipun dengan waktu yang mepet banget. Kali ini saya akan bertolak menuju daerah utara Vietnam menuju Hanoi untuk stay beberapa hari disana, perjalanan menggunakan pesawat memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan.


      Setibanya di Hanoi pada waktu itu sekitar pukul 21:00 dan bus yang saya baca di artikel sebelumnya dengan nomor berapa saya lupa, saya lihat sudah tidak ada di bandara. Pada waktu itu saya melihat jasa taxi saja yang menawarkan untuk menuju ke old quarter tempat dimana saya akan menginap. Setelah mengitari sisi luar bandara akhirnya saya menemukan satu bus dengan nomor 17, saya tidak tahu apakah bus ini akan menuju old quarter atau tidak. Kemudian saya memberanikan diri untuk bertanya ke kondektur bus yang ada didalam, untung saja kondektur bisa sedikit berbahasa inggris dan dia menjawab bisa untuk menuju old quarter dengan tujuan akhir terminal Long Bien yang letaknya tidak jauh dari old quarter. Langsung saja saya menaiki bus tersebut dan membayar VND 9.000 untuk sampai ke terminal Long Bien. Perjalanan menggunakan bus dari bandara ke terminal Long Bien memakan waktu hampir 1 jam dan cukup lama. Perjalanan ini saya gunakan untuk beristirahat dan sedikit memejamkan mata karena saya sangat kelelahan akibat selama di Ho Chi Minh saya menuju semua destinasi bermodalkan jalan kaki saja. Waktu berjalan sangat cepat hingga saya tidak sadar kalau sudah di terminal akhir yaitu di terminal Long Bien.
Welcome to Hanoi

Sesampai disana sudah banyak ojek / supir grab lebih tepatnya yang banyak menawarkan jasanya. Kalau saya lihat di map Old quarter letaknya tidak jauh dari terminal Long Bien dengan cara berjalan kaki dan saya memutuskan untuk berjalan kaki meskipun badan sudah sangat lelah sekali. Ternyata perjalanan dari terminal Long Bien ke penginapan yang saya tuju di daerah Old Quarter memakan waktu sekitar 30 menit jalan kaki. Awalnya agak sulit mencari penginapan yang sudah saya booking dikarenakan banyak sekali berjejer penginapan disekitar situ, tetapi tidak lama setelah berputar-putar akhirnya saya menemukan juga.
Sesampainya di penginapan saya langsung disambut oleh pemilik hostel dan menujukan kode booking kamar yang saya pesan sebelumnya. Tempat menginap saya di Hanoi bernama Hanoi High Five Hostel, Staff nya sangat ramah dan saya juga langsung ditanyai seputar perjalanan saya selama di Vietnam dan juga ditawari beberapa tour wisata yang ada di Hanoi seperti  Halong Bay, Tam Coc River, Perfume Pagoda, dan masih banyak yang lain. Saat itu saya hanya mendengarkan dan menyerap beberapa informasi yang diberikan saja. Apabila kalian ingin menggunakan jasa agen tour, kalian harus siap dengan biaya yang nantinya di keluarkan yang pastinya agak mahal, ditambah kalian juga tidak bisa keliling ke tempat lain yang terkadang tiba-tiba muncul di pikiran saat itu juga. Tetapi dengan menggunakan jasa tour travel kalian bisa lebih save semisal dari scam yang ada dan waktu kalian lebih teratur dalam mengunjungi tempat wisata. Setelah mendengarkan informasi yang banyak diberikan dari pihak penginapan saya ijin untuk pergi ke tempat tidur karena rasa lelah yang amat sangat pada diri saya. Kemudian pihak penginapan mengantarkan saya menuju kamar dan saya langsung bersih-bersih terus langsung tidur sepanjang malam.
Pemilik hostel lagi presentasi seputar destinasi wisata di Hanoi

I got the key and ready to sleep

      Keesokannya hari pertama di Hanoi saya bangun agak siang sekitar pukul 10:00 akibat badan saya yang masih kurang fit, untuk destinasi hari ini saya hanya berkeliling di sekitar Old Quarter, mengunjungi Hoan Kiem Lake, ST. Josephs Cathedral, dan Night Market saja. Selesai dari bangun tidur saya langsung bersih-bersih dan sarapan di penginapan karena biaya penginapan sudah include makan pagi. Tetapi disini tidak menghidangkan nasi, hanya menu roti bakar, mie, dan sandwich yang saya rasa makan pagi disini tidak makanan berat yah. Sembari menikmati sarapan di hostel tiba-tiba ada salah satu staff hostel yang datang menghamipiri dan mengajak ngobrol tentang destinasi saya hari itu. Ada beberapa masukan dari pihak hostel apabila hanya berjalan-jalan di kota saja lebih baik di area night market dan beberapa tempat yang recomended dari pihak hostel. Waktu itu pihak hostel memberikan brosur kecil yang bergambarkan map Hanoi beserta tempat wisatanya, pihak hostel mencoret-coret map tersebut yang nantinya cocok untuk dikunjungi dan juga memberikan informasi didalamnya.
Sekelumit informasi dari pihak hostel ketika berwisata di dalam kota Hanoi

Setelah mendapat beberapa informasi dari pihak hostel saya langsung pergi keluar berjalan kaki untuk mencari yang namanya nasi kali aja ketemu yah, sekalian untuk menuju destinasi yang sudah saya planning sebelumnya. Memang pada saat itu saya menemukan beberapa orang berjualan nasi di pinggir jalan tetapi saya tidak tahu untuk lauknya apakah halal atau tidak,  kemudian saya tinggalkan dan mencari makanan lain saja. Setelah berjalan-jalan cukup lama laper juga dan nemuin penjual makanan dipinggir jalan dekat dengan taman bermain namanya Banh My semacam roti dengan ukuran panjang yang didalamnya diisi sayuran seperti salad, timun, daun seledri, mayones, sambal tomat, telor, dan daging kemudian di panggang beberapa menit. Pada waktu itu saya meminta untuk tidak di kasih daging pork, saya meminta di ganti daging ayam saja. Awalnya agak sulit berbicara dengan si penjual karena tidak begitu mengerti bahasa inggris. Kemudian si penjual bilang yang intinya semua Banh My menggunakan daging babi karena daging ayam disini harganya cukup mahal, dan akhirnya saya ditawari dengan menggunakan telor double saja. Harga Banh My yang saya beli saat itu hanya VND 6.000 saja, busettttt murah bener nih jajan Banh My. Sepertinya bisa  di gunakan makan sehari-hari nih...hahahahaha. Ukurannya yang cukup besar membuat cukup kenyang dan ditambah harga yang murah banget, kalau di rupiahkan sekitar Rp. 3.000 saja. Pada waktu itu saya juga pesan es tebu sebagai pendamping Banh My seharga VND 10.000.
Suasana sekitar Old Quarter

Alat Pembuat Banh My

Nih model Banh My ketika ready to eat

Isi rotinya seperti ini

Es tebu penyegar dahaga ketika suhu Vietnam semakin memanas

Tempat beribadah umat islam di kawasan Old Quarter

      Setelah perut terisi saya lanjutkan perjalanan lagi menuju Hoan Kiem Lake yang merupakan danau yang cukup luas di sekitar Old Quarter dan juga menjadi salah satu destinasi wisata di Hanoi, Karena di tengah danau terdapat jembatan yang menghubungkan ke sebuah bangunan tua berarsitektur. Untuk biaya masuk menuju bangunan tua merogoh kocek tidak cukup mahal sih hanya VND 20.000, tetapi pada saat itu saya memilih untuk duduk di pinggir danau sambil menikmati keindahan jembatan dan bangunan tua dari kejauhan saja ditambah dengan awan mendung yang sedikit menutupi kawasan tersebut. Pada saat itu di Hanoi cuacanya mendung dan sedikit gerimis. Biasanya area danau Hoan Kiem Lake digunakan beberapa orang lokal untuk berolahraga dan berkumpul dengan keluarga. Memang saat itu suasananya sangat syahdu akibat mendung dan sedikit gerimis.
Suasana sepoi-sepoi siang itu


Killing time di Hoan Kiem Lake aja

Nyobain minuman Ha Noi

Dari Hoan Kiem Lake saya melanjutkan perjalanan lagi menuju destinasi selanjutnya yaitu ST. Josephs Cathedral yang cukup terkenal karena designnya sangat kuno dan itu merupakan peninggalan dari negara Perancis yang sempat menjajah negara Vietnam pada saat itu, jadi wajar bangunan disini memiliki gaya seperti Eropa terutama Cathedral ini. Bangunan kuno menjulang tinggi dengan cat berwarna hitam keabu-abuan yang sangat vintage dan terkesan sedikit crepy menjadi daya tarik tersendiri yang dimiliki bangunan ST. Josephs Cathedral ini, ditambah juga lonceng yang berbunyi pada waktu tertentu. Saya disini tidak terlalu lama hanya beberapa menit saja untuk mengambil foto dan video untuk dokumentasi saya selama di Hanoi, Hujan pun cukup deras pada saat itu yang membuat saya untuk masuk ke sebuah kedai kopi yang ada di sekitar Cathedral tersebut.
Tampak luar ST. Josephs Cathedral

Gaada yang potoin, jadi fotonya selfi aja yah

Kopi addict
Sisi lain kota Ha Noi

Sepertinya ini alun-alun Ha Noi

Saya berada di kedai sekitar 1jam sambil menunggu hujan reda kemudian saya memutuskan untuk kembali ke penginapan sebentar untuk bersih-bersih, kemudian malamnya keluar lagi mencari persewaan motor di sekitar penginapan. Setelah berputar-putar di sekeliling penginapan akhirnya membuahkan hasil juga, saya menemukan persewaan motor untuk saya gunakan keesokan harinya menuju Perfume Pagoda yang letaknya cukup jauh dari tempat saya menginap ini. Dari persewaan motor saya menuju Night market untuk membeli beberapa oleh-oleh dan pada saat itu saya tidak sengaja bertemu dengan rombongan ibu-ibu dari salah satu rumah sakit dari semarang, kami waktu itu sempat menawar souvenir bersama dan kami langsung berpencar lagi. Selesai mendapatkan apa yang saya inginkan di Night Market saya kembali meuju Hoan Kiem Lake dan menikmati suasana malam disana, uniknya saat saya ke Hoan Kiem Lake saya melihat beberapa orang lanjut usia yang sedang berolahraga dan berdansa di sepanjang jalan sekitar Hoan Kiem Lake. Pemandangan ini sangat langkah untuk saya dapatkan di Indonesia, ternyata orang-orang yang sudah lanjut usia disini semangat untuk hidup sehatnya sangat tinggi juga. Selepas menikmati indahnya malam di Hoan Kiem Lake saya kembali menuju penginapan untuk beristirahat karena keesokan harinya merupakan perjalanan yang cukup panjang dan meletihkan pastinya.
Penjual Souvenir di Night Market

Food Street Night Market

Souvenir lampu hiasan

Souvenir dengan bentuk kipas

Pedagang yang kaos hijau bisa bahasa melayu dan menerima uang Rupiah
Hoan Kiem Lake malam hari sangat ramai

Paginya hari ke 2 di Hanoi saya bangun pukul 07:00 kemudian bergegas untuk mandi dan sarapan di penginapan setelah itu langsung menuju persewaan motor yang sudah saya kunjungi kemarin untuk menyewa motor. Persewaan motor yang saya datangi tidak begitu jauh dari penginapan, sekitar 15menit jalan kaki itupun masih lupa tempatnya jadi agak lama. Sesampainya di persewaan motor saya langsung dimintai paspor sebagai jaminan seperti biasa ditambah deposit sebesar VND. 300.000, kemudian saya memilih motor matic seperti mio,vario, dan sebagainya. Sewa motor matic waktu itu sekitar VND. 180.000/hari kemudian ditambah jasa pengantaran motor VND. 40.000. Dipersewaan ini tidak terlalu rumit dalam mengurusi persyaratannya, terkadang ada beberapa persewaan motor yang diharuskan memiliki surat izin mengendara internasional dan juga jarak tempuh menggunakan motor juga ditentukan oleh pihak persewaan motor.  Setelah motor saya datang langsung saja mengecek kondisi motor apakah baik-baik saja dan jangan sampai kecolongan. Tips untuk kalian ketika menyewa kendaraan apapun di luar negeri hal yang perlu diperhatikan adalah cek kondisi motor apakah semua kondisinya bagus atau tidak, seperti rem, lampu sen, ban, dan kondisi motor lain yang sekiranya sangat vital. Pengecekan kondisi ini dilakukan untuk membuat perjalanan kalian nantinya lebih safety dan tidak terjadi hal-hal yang diinginkan dijalan nantinya.
Mie yang sama saya beli waktu di Ben Tanh Market

Disinilah pertamakalinya saya solo touring menggunakan motor merasakan kondisi jalanan kota Hanoi yang begitu ramai, semua pengendara saling kebut dijalanan. Meskipun dijalanan kecil pengendara motor sangat padat dan sangat membahayakan. Waktu itu saya selalu sigap untuk melihat kondisi sepanjang jalan, apalagi ketika berkendara disini kalian harus berada di kanan jalan dan jangan sekali-sekali kehilangan fokus apabila tidak ingin terjadi sesuatu kepada diri kalian. Destinasi hari ini adalah pergi ke Perfume pagoda yang jaraknya kalau dari map sekitar 2,5 Jam perjalanan dari penginapan dan ternyata ketika saya realisasikan memakan waktu 4 jam perjalanan. Cukup beda jauh memang dari estimasi sebelumnya, karena pada saat mengikuti google map jalan yang di arahkan yaitu mengarah ke tol. Padahal settingan hp saya sudah menghindari jalan tol, dan itu saya coba berkali-kali dan tetap berujung menuju jalan tol. Cuaca Vietnam waktu itu sangat panas dan membuat saya untuk berhenti sejenak untuk menenangkan pikiran sambil berfikir caranya agar sampai di Perfume Pagoda apapun caranya. Munculah ide untuk mengambil jalur alternatif di map yaitu dengan mengikuti rute terjauh, otomatis jalanan alternatif ini melewati gang-gang kecil dan nantinya bisa menembus hingga ke perfume pagoda dan itu bekerja dengan mulus. Tips buat kalian yang ingin menjelajah Hanoi khususnya mau ke arah Ninh Binh menggunakan motor gunakanlah cara seperti saya apabila tidak ingin tersesat menuju tol. Cuaca disana juga sering hujan dan membuat saya untuk berhenti berkali-kali khususnya di dekat provinsi Ninh Binh, baiknya lagi sediakan jas hujan apabila ingin mengejar waktu untuk menuju tempat wisata yang kalian tuju agar dapat berjalan mulus.
Ketika sudah dekat dengan lokasi....whoaahhhhh..akhirnya saya bisa melihat view landscape bukit-bukit kecil seperti di Raja Ampat dari jalan yang saya lalui menggunakan motor sewaan ini. Saya berhenti sejenak untuk take a selfi with lime stone/bukit-bukit kecil tersebut. Kemudian saya melanjutkan perjalanan kembali agar tidak terlalu larut ketika perjalanan pulang. Sesampainya di lokasi waktu itu sekitar pukul 14:00 dan ketika memasuki pintu masuk lebih tepatnya kampung terdekat dengan perfume pagoda saya bisa melihat dermaga beserta kapal-kapal yang bersandar dengan kapasitas orang cukup banyak. Ketika saya masuk lebih dalam ada orang lokal yang berboncengan menghampiri saya untuk menanyakan apakah saya mau ke Perfume Pagoda, saya jawab iya. Seketika itu langsung diarahkan orang yang saya temui dijalan tersebut menuju lokasi tempat parkir untuk menemui guide yang akan membawa saya ke Perfume Pagoda. Saat bertemu guidenya seperti biasa lah untuk berkenalan dan mengobrol basa-basi sambil menaiki motor guidenya untuk menuju tempat terdekat menuju dermaga yang lebih kecil lagi. Setibanya di dermaga yang lebih kecil itu terdapat 3 kapal dengan kapasitas 6 orang dan ada rumah kecil yang saya rasa itu adalah rumah dari guide yang menamani saya nantinya. Didalam rumah tersebut dijelaskan beberapa informasi mengenai tarif guide, tarif wisatanya, tempat mana saja yang akan dikunjungi, dan masih banyak yang lain.
Selalu gunakan lajur kanan

Berangkat dari panasnya matahari sampai hujan pun saya lalui

Sudah terlihat Lime Stone dari kejauhan

Dia adalah teman perjalananku kali ini menembus Ha Noi

Lagi lagi selfi yah gaesss


Kampung terdekat Perfume Pagoda, sepi yahhh...

Kalau ini tempat dimana saya dan Chim akan mulai menggunakan kapal menuju dermaga Perfume Pagoda

Dibawain Chim Duku satu kresek

Setelah selesai menjelaskan beberapa informasi guide tersebut membawakan buah duku satu kresek dan menuju kapal yang akan dinaiki menuju perfume pagoda. Kapal yang saya naiki waktu itu bermuatan 6 orang dengan biaya kapal VND 600.000, berhubung saya hanya sendirian jadi yang naik kapal hanya saya dan guide tersebut, otomatis saya membayar full kapal berkapasitas 6 orang tersebut seorang diri. Tips ketika kamu solo backpacker dan diharuskan menggunakan kapal sebaiknya kalian mencari rombongan terlebih dahulu agar budget kapal bisa dibagi rata, karena sistem pembayaran menggunakan kapal yaitu dibayar per kapal bukan per orang. Untuk menuju Perfume Pagoda nantinya harus melewati sungai dengan pemandang beberapa bukit yang sangat menakjubkan (lime stone) seperti di film Khong Skull Island.
Perjalanan menggunakan kapal menyusuri sungai memakan waktu 30 menit dan itu sangatlah cepat karena disuguhkan pemandangan yang sangat menakjubkan beserta suara-suara alam yang mulai terdengar sangat menenangkan hati dan pikiran ketika akan berlabuh. Sesampainya di dermaga yang letaknya lebih dekat lagi dengan Perfume Pagoda saya langsung disuruh turun oleh guide dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Perjalanan ke Perfume Pagoda tidaklah mudah, pertama harus menyusuri sungai untuk menuju dermaga yang terletak dibawah bukit yang nantinya diatas bukit terdapat Perfume Pagoda, setelah dari dermaga perjalanan dilanjutkan dengan treking berjalan kaki menuju perfume pagoda sekitar 60 menit.
Guide yang menemani saya kali ini, Chim

Lime Stone tampak dari dekat

Sesampainya di dermaga yang paling dekat dengan Perfume Pagoda dan lanjut treking

Selama treking saya terkadang mengobrol dengan guide agar perjalanan tidak terasa melelahkan. Oh iyah nama guide saya adalah Chim seorang perempuan kalau tidak salah umurnya 28-30an dan masih single. Beliau tinggal di perkampungan yang dekat dengan Perfume Pagoda, jadi untuk stamina dalam pendakian ini tidak perlu diragukan lagi. Meskipun beliau seorang perempuan tetapi staminanya melebihi saya, terkadang merasa malu ketika saya meminta waktu untuk istirahat karena saya memang merasa sangat kelelahan. Maklum saya tidak ada persiapan fisik apapun untuk menuju Perfume Pagoda. Ketika saya merasa kelelahan Chim memberikan saya semangat dan memberikan topik lelucon yang mengundang tawa agar tidak merasakan rasa lelah itu. Ketika Chim menunjukan kalau itu Perfume Pagoda akhirnya perjalanan menuju Perfume Pagoda tercapai sudah dengan keringat yang mengucur deras seperti air terjun..hahahaha.
Trek menuju Perfume Pagoda

Sesampai di Perfume Pagoda kami beristirahat beberapa menit saja untuk minum dan memakan buah duku yang dibawa oleh Chim tadi. Setelah itu Chim menuju ke beberapa patung yang ada di kawasan Perfume Pagoda untuk menyalakan dupa dan berdoa, sesekali saya diberikan dupa oleh Chim dan kemudian disuruh untuk menaruhnya di sudut-sudut patung yang berdiri disana. Selesai menyalakan dupa Chim mengajak saya untuk menuju ke sebuah mulut goa yang terdapat di sebelah Perfume Pagoda dan mengajak saya untuk masuk kedalam Goa. Chim mengatakan kepada saya bahwa tak banyak orang yang masuk kedalam Goa, jadi kali ini saya spesial di ajak Chim untuk memasuki Goa yang terletak di sebelah Perfume Pagoda tersebut.
Sesampainya di Perfume Pagoda dengan fake smile, padahal capek banget

Tempat menuju Goa, nggak kelihatan yah? itu lubang kecil antara patung.

Pertama memasuki Goa hawanya sangat dingin, gelap, dan tidak ada cahaya apapun. Chim menyuruh saya untuk menyalakan flash HP sebagai penerang selama kami berada di dalam Goa. Jalurnya sedikit licin karena didalam goa terdapat stalaktit dan stalakmit yang mengeluarkan air. Ketika masuk lebih dalam jalurnya sedikit turun dan lumayan agak curam, Chim terus mengingatkan saya untuk  tetap fokus pada pijakan agar tidak terjatuh nantinya. Setelah sampai di area yang agak datar Chim memberitahu saya kalau ada beberapa patung disini, kemudian Chim mencari dupa untuk dinyalakan dan menyuruh saya menaruhnya di sisi patung yang ada disana. Selesai menyalakan dupa Chim mengajak saya untuk menuju mata air yang ada didalam Goa. Sesampainya di mata air Chim menyuruh saya untuk meminum air tersebut yang katanya bisa memberikan awet muda, tidak pikir panjang saya meminum air tersebut karena memang kebetulan saya merasa sangat haus. Setelah meminum air tersebut badan saya merasa segar kembali dan siap untuk melanjutkan perjalanan kembali menuju mulut Goa.  Dari mulut Goa Chim mengajak saya untuk meneruskan perjalanan selanjutnya turun menuju dermaga untuk pindah ke pagoda lainnya beserta 1 guide tambahan lagi dan tidak lain yaitu teman Chim sendiri. Sesampai di dermaga kami beristirahat sejenak untuk menikmati suasana disana, saat itu saya mengambil beberapa foto dan video untuk dokumentasi perjalanan saya ketika mengunjungi perfume pagoda. Selanjutnya dari parfume pagoda kami melanjutkan perjalanan kembali menuju sebuah pagoda lain yang jaraknya tidak cukup jauh dari perfume pagoda tetapi harus menggunakan kapal yang saya naiki sebelumnya.
trek perjalanan balik menuju dermaga

Chim, fotoin yah....hei belom siap

Chim, foto bareng lagi yok..biar gak keliatan jomblo

Dermaga Perfume Pagoda

Chim dan temannya yang kami temui di dermaga Perfume Pagoda

Setelah sampai di pagoda yang saya lupa namanya disuruhlah untuk masuk kedalam dan berdo’a untuk keluarga yang ada di rumah, saya ikuti saja apa kata guide tersebut toh masih positif juga meskipun di depan patung tapi saya tetap berdo’a dengan niat dan berdo’a sesuai dengan agama saya. Sebelum berdo’a di depan beberapa patung yang ada di pagoda ini saya terlebih dahulu di berikan seserahan 3 buah yang didalamnya terdapat seperti biskuit, air mineral, uang palsu, dan masih banyak lainnya yang ditujukan untuk dewa yang dipujanya beserta untuk kelangsungan hidup warga disekitar pagoda. Teman Chim memberitahukan bahwa harga seserahan itu sekitar VND. 200.000 atau kalau dirupiahkan sekitar Rp. 160.000an untuk 1 seserahan saja, sedangkan saya dikasih 3 untuk ditaruh disamping patung. Pertamanya saya oke sajalah toh niatnya baik juga untuk kelangsungan hidup warga sekitar juga, saya ikutin saja nih alur dari guide tersebut. Kali ini Chim hanya menjaga kapal saja diseberang dan yang menjadi pemandu saya ketika memasuki pagoda adalah teman Chim yang kami temui di Perfume Pagoda.
Nih bentukan pagoda setelah dari Perfume Pagoda, agak creepy

Bangunan yang terlihat cukup kuno

Bentuk seserahan yang saya bawa

Setelah selesai dari pagoda dan berdo’a saya beserta guide menuju kapal lagi untuk diantarkan ke sebuah pagoda lainnya, dan lagi-lagi saya diberikan 3 buah seserahan seperti yang sebelumnya. Disaat itu saya mulai agak aneh dan merasa seperti ditipu dengan kondisi saya yang masih muda dan sendirian pula. Berhubung saya dasarannya orangnya nggak enakan akhirnya yasudahlah merelakan VND. 600.000 lagi untuk seserahan saja. Jadi total biaya yang saya keluarkan untuk membayar seserahan tersebut sekitar VND. 1.200.000 belum termasuk tips untuk guide, tips teman Chim waktu itu dia meminta VND. 200.000. Pada waktu itu saya merasa benar-benar lemas setelah dari Parfume Pagoda, karena saya merasa terkena scam dari penduduk lokal yang sebelumnya saya sudah pelajari. Sampai-sampai Chim bertanya kepada saya ketika sedang menaiki perahu apakah saya baik-baik saja, mungkin dia mengamati muka saya dari tadi yang awal berangkat terasa excited banget dan pas waktu perjalanan mau pulang seperti tidak puas. Tetapi saya mencoba untuk menyimpan muka masam saya dan mencoba untuk sedikit tersenyum kepada mereka.
Selesai dari tour pagoda yang menggunakan jalur air kali ini Chim mengajak saya untuk pergi ke pagoda lainnya yang katanya masih baru dan tempatnya lumayan agak jauh dari dermaga namanya Vihara Tam Chuc Ba Sao kalau dilihat dari google map, kali ini kami menggunakan motor untuk mencapai pagoda tersebut. Yah....kami hanya mengedarai satu motor dengan 3 orang seperti cabe-cabean layaknya di Indonesia. Kali ini saya sangat beruntung karena saya berada di posisi tengah yang merupakan posisi yang strategis...hahahahaha. Kali ini saya tidak mau rugi lebih banyak lagi, biarkan mereka yang mengurus semuanya. Sampai-sampai ditengah jalan awan sudah terlihat tebal dan mereka bilang kalau tidak akan hujan, eh belum 5 menit berhenti berbicara hujan turun dengan deras dan menghujani kami semua. Chim waktu itu berada di posisi paling belakang menutupi kepala saya menggunakan topi jerami yang dia gunakan, sedangkan temannya berada di posisi depan fokus menyetir motor. Jalur menuju pagoda agak licin dikarenakan jalannya yang masih dalam perbaikan dan banyak sekali pasir dan kerikil kecil-kecil, apabila mengendarai kendaraan tidak berhati-hati kami semua bisa terjatuh.
Setelah perjalanan sekitar 30-40 menit mengendarai motor sampailah kami di pagoda yang di janjikan oleh Chim, dan benar saja pagodanya sangat besar dan masih dalam proyek pembangunan. Chim juga memberi informasi kepada saya bahwa masih ada 2 pagoda besar lagi disekitar pagoda yang kami tuju kali ini. Tepatnya Chim waktu itu mengarahkan tangannya ke atas bukit dan saya melihat seperti bangunan yang terlihat kecil dari saya berdiri waktu itu dan pagoda satunya berada dibawah, jadi posisi kami saat itu berada di pagoda tengah. Disela Chim memberikan informasi tentang beberapa pagoda besar Chim sempat memberikan lelucon seperti kami setelah ini akan menuju ke pagoda yang terletak di atas bukit tadi dengan berjalan kaki..memang Chim orangnya suka bercanda ketika menjadi pemandu saya waktu itu. Setelah memberikan informasi Chim mengajak untuk masuk ke dalam pagoda yang cukup besar, pada saat itu didalam pagoda masih dalam keadaan renovasi dengan terlihatnya beberapa pekerja yang sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya masing-masing. Waktu berada didalam pagoda yang sangat besar saya hanya melihat-lihat sebentar kemegahan bangunan ini yang didalamnya terdapat 3 budha besar yang sedang duduk. Setelah dari Vihara Tam Chuc Ba Sao  langsung kembali ke tempat dimana saya memarkirkan motor. Sesampainya di tempat parkir saya mengobrol dengan Chim soal biaya tour kali ini, Chim bilang dari awal kalau tour nya sendiri dihargai VND. 600.000 sedangkan untuk tips guide VND. 200.000. Buahhhhhhhhhhh.....banyak banget pengeluaran saya hari ini, kalau ditotal untuk 1 destinasi ini sekitar VND. 2.200.000 kalau di rupiahkan sekitar Rp. 1.000.000an yah. Wajar kalau saya langsung lemas waktu itu.
View menuju Vihara Tam Chuc Ba Sao, epic yahhh

berikut tampilan Vihara Tam Chuc Ba Sao, seperti istana raja

Suasana didalam Vihara yang terlihat masih dalam proses renovasi

Hari itu merupakan hari dimana saya mendapatkan sangat banyak pelajaran untuk solo travelling pertama kalinya. Jadi untuk kalian yang ingin mencoba solo travelling atau baru pertama kali mencoba untuk melakukan harus lebih banyak mencari informasi yang jeleknya agar kalian bisa lebih waspada terhadap situasi kondisi yang tidak terduga. Tetapi dibalik itu semua saya sangat menikmati lika-liku perjalanan yang panjang hari itu.
Selesai dari tour  Perfume Pagoda saya langsung balik menuju ke penginapan dengan mengandalkan dari google map saja seperti sebelumnya dengan mengambil rute terjauh agar sampai Hanoi kembali tanpa tersesat. Tidak lama keluar dari perkampungan terdekat dengan Perfume Pagoda, itupun saya sempat tersesat selama 1 jam karena jalannya memang sungguh membingungkan hingga akhirnya saya menemukan jalan raya untuk menuju ke Old Quarter kembali.
Sesampainya di penginapan sekitar pukul 20:00 saya langsung bergegas mandi dan merebahkan badan sebentar dikasur kemudian langsung keluar menuju tempat kopi yang katanya sudah melegenda sejak dulu nama kedainya “Coffee Giang”. Lokasinya memang agak tersebunyi, dari jalan besar memang tidak terlihat kalau tempatnya ramai karena harus masuk seperti gang kecil dan ketika sudah masuk lebih dalam suasananya sangat berbeda dengan apa yang saya lihat dari luar. Pada waktu itu sangat ramai sekali oleh pemuda-pemudi Hanoi menghabiskan waktu untuk sekedar ngopi di temani dengan kuaci yang sudah menjadi tradisi ngopi anak Vietnam dari dulu. Harga kopi yang ditawarkan cukup terjangkau dan banyak juga pilihannya, malam itu saya ingin mencicipi bagaimana rasanya egg coffee yang sudah melegenda di Vietnam. Pertama kali saya mencicipi kopinya sangat terasa dan foam telurnya menambah ciri khas dari egg coffee tersebut. Memang sedikit tercium bau amis dari telur tersebut tapi itu hanya samar saja, karena bau tersebut dapat di netralisir oleh kopi itu sendiri. Memang terasa agak aneh bagi saya untuk mencicipi egg coffee ini karena saya sudah terbiasa dengan kopi standart yang ada di indonesia. Kalau di Vietnam apapun kopinya sangat terasa sekali biji kopinya dan sedikit pahit juga tetapi tidak sepahit apa yang saya pikirkan sebelumnya. Selesai menikmati egg coffee saya kembali ke penginapan untuk beristirahat dan melanjutkan perjalanan esok harinya, karena esok hari saya harus check out dan pindah ke Vietnam bagian tengah yaitu menuju kota Danang.
Ini nih yang namanya Egg Coffee

Foto keluarga pemilik Coffee Giang

            Pagi harinya sekitar pukul 09:00 saya terbangun dengan badan sedikit kesakitan terutama kaki karena sejak awal di Vietnam saya lebih banyak berjalan kaki dengan menempuh jarak yang lumayan jauh agar terlihat seperti turis..hehehehehe..akibatnya yah seperti ini kaki terasa sakit. Untuk kalian yang ingin travelling dengan cara berjalan kaki jangan lupa untuk membawa koyo yah..karena itu akan sangat membantu untuk pemulihan dan juga sebelum tidur untuk minum vitamin agar menjaga kodisi badan tetap vit, gak asik dong kalau travelling yang direncanakan jauh-jauh hari malah tepar pas hari H di negara orang, kalau ada yang perhatian sih nggak masalah. hahahahaha. Ok lanjut lagi setelah terbangun saya langsung bergegas untuk mandi dan sarapan, setelah itu saya lanjutkan untuk prepare lagi dan sekalian checkout sekitar pukul 11:30. Setelah checkout saya tidak lupa untuk berpamitan dengan pegawai hostel karena menurut saya pelayanannya sangat memuaskan mulai dari bagaimana menerima customer sampai memberikan service terbaik lainnya.
Keluar dari hostel saya hanya berjalan-jalan saja di sekitar oldquarter dan hal yang konyol terjadi menimpa saya kala itu. Jadi awal ceritanya saya berfikir untuk menuju terminal bus yang saya tuju kemarin dan nanti akan menuju air port lebih awal. Lha waktu itu saya bingung harus menuju terminal mana yang dekat dengan penginapan, akhirnya saya jalan kaki saja dan menemukan sebuah halte. Ketika saya lihat peta yang tersedia disana saya melihat terminal yang akan saya tuju nanti yaitu namanya “Long Bien”. Ketika bus datang saya dengan percaya diri menaiki bus tersebut dan mencari tempat duduk yang nyaman. Ok sambil duduk saya langsung membuka google map di HP yang saya pegang karena takutnya nanti malah kelewatan. Bus berjalan mengikuti trayek seperti biasa, dan saya lihat di map kok tidak lewat jalan yang kemarin yah “kata saya dalam hati”. Mungkin ini trayek yang harus dilewati bus kali ini, saya mencoba untuk stay cool dan tenang tetapi mata saya tidak lepas dari google map..hahahahaha.. Semakin lama jalannya kok mulai melenceng jauh yah, apa saya salah jurusan atau bagaimana saya kurang paham waktu itu. Tetapi saya tetap saja kekeh untuk percaya dengan pendirian saya dan tidak mencoba untuk bertanya langsung kepada kondekturnya. Ketika terminal bus yang akan saya tuju sudah terlewat jauh sekali pada saat itu saya berfikir OK FIX saya salah alamat seperti lagunya ayu ting-ting. Saya hanya menunggu saja didalam bus untuk ingin tahu dimana sih bus ini akan berlabuh.....kapalllll kalee berlabuh. Akhirnya setelah lama menunggu di dalam bus dan bus yang saya tumpangi menuju terminal akhir di salah satu daerah yang namanya Long Bien. OK saya kena troll dengan nama LONG BIEN, saya bingung ketika turun dari bus saat itu. Diluar terminal banyak sekali orang-orang grab memanggil saya secara bergantian berasa saya ini artis..bahahahahaha. Dengan keadaan yang bingung saya memilih untuk mencari tempat duduk dan mencoba untuk memikirkan bagaimana keluar dari red zone ini...PAPJI kaleeeeee..bahahaha.
Niatnya sih mau ke terminal Long Bien taunya malah tersesat

Suasana Bus yang saya tumpangi ketika detik-detik tersesat

Lama-lama duduk diterminal akhirnya buntu juga ini kepala, jadi saya memutuskan untuk keluar dari terminal berjalan kaki dan mencoba kembali lagi menuju old quarter. Saat itu saya pengennya naik bus sih, cuman saya tidak tahu bus mana yang harus saya tumpangi karena penjelasan di google tidak begitu rinci dan saya memutuskan untuk berjalan kaki saja. Perjalanan jauh ini terasa sangat berat bagi saya, karena saya harus membawa beberapa tas yang kian bertambah akibat saya membeli oleh-oleh kemarin ditambah cuaca panas yang tidak ada angin sama sekali membuat saya berhenti berkali-kali. Apakah anda tahu berapa lama perjalanan yang saya tempuh untuk menuju old quarter menurut google map? Membutuhkan waktu sekitar 2jam dengan jalan kaki, itupun dengan kecepatan tertentu dan belum lagi kalau ditambah dengan jam istirahat. Waktu itu saya cepatkan tempo berjalan saya agar cepat sampai tujuan karena saya harus mengejar waktu untuk tiba di bandara Hanoi, karena pesawat saya flight pukul 22:00 setidaknya saya standby di bandara 2jam sebelum flight. Sekitar pukul 17:00 saya berhenti di sebuah halte kecil untuk beristirahat sejenak karena saya benar-benar merasa kelelahan. Ketika di terminal ini saya melihat peta atau jalur bus yang di lalui, akhirnya saya melihat tulisan LONG BIEN lagi yang waktu itu sedikit menjadi momok bagi saya. Akhirya saya memastikan untuk bertanya kepada remaja perempuan yang kebetulan menunggu bus disana. Untungnya remaja tersebut paham bahasa inggris meskipun sama seperti saya yang sedikit terbata-bata. Intinya bus yang berhenti di halte ini menuju di terminal Long Bien yang aselii bukan abal-abal, beberapa menit menunggu bus datang untuk membawa penumpang yang ada di halte. Setelah perjalanan nyasar tadi akhirnya saya merasa lega  dan merasakan dinginnya AC kembali. Sesampainya di terminal Long Bien saya langsung mencari bus dengan nomor 17 seperti yang saya naiki ketika dari airport dan kali ini saya menuju ke Noi Ba airport kebalikan dari yang kemarin dengan menggunakan bus yang sama.
jalan kaki sampai gempor

Harus paham tujuan dan nomor bus nih kalau yang mau naik kendaraan bus

Akhirnya drama Long Bien berakhir dengan happy Ending

       Sesampainya di Noi Ba airport sekitar pukul 18:00 dan langsung saja saya menuju dalam dan kembali istirahat sampai menunggu waktu checkin. Pada saat itu saya mendapat kabar bahwa penerbangan saya kali ini delay yang awalnya flight pukul 22:00 di undur menjadi pukul 23:00. Apakah ini berkah atau ujian kembali yang saya dapatkan, saya hanya pasrah saja karena saya sudah cukup lelah untuk mengejar waktu pada saat itu. Sedikit informasi saja kali ini penerbangan saya dari Hanoi menuju Da Nang menggunakan maskapai lokal yaitu vietjet yang setelah saya review di beberapa artikel orang-orang memang terkenal molor penerbangannya layaknya Lion Air. Waktu berjalan dengan cepat dan waktunya untuk Checkin dan berada di dalam pesawat untuk terbang menuju Da Nang. Perjalanan udara dari Hanoi ke Da Nang membutuhkan waktu sekitar 1jam perjalanan.
Akhirnya sampai juga di Noi Ba International Airport dan siap bertolak ke Da Nang

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me


Hi...I am Denny — Writer & a photographer.
Join me as I share great stories, amazing photos, incredible travel life and awesome tips for people who love to travel the world.


Follow Us

  • instagram
  • facebook
  • twitter
  • google+

Labels

  • Bali
  • Bandung
  • Bangkok
  • Banyuwangi
  • Blitar
  • Bojonegoro
  • Chiang Mai
  • Chiang Rai
  • Da Nang
  • Dieng
  • Genting
  • Hanoi
  • Ho Chi Minh
  • Indonesia
  • Jombang
  • Kediri
  • Kuala Lumpur
  • Malang
  • Malaysia
  • Melaka
  • Mojokerto
  • Solo
  • Thailand
  • Tips
  • Touring ramadhan
  • Tuban
  • Vietnam
  • Yogyakarta

recent posts

Sponsor

Blog Archive

  • Desember 2019 (1)
  • November 2019 (2)
  • April 2019 (1)
  • Desember 2018 (2)
  • Mei 2017 (1)
  • April 2017 (1)
  • Maret 2017 (1)
  • Februari 2017 (2)
  • Januari 2017 (1)
  • November 2016 (1)
  • Oktober 2016 (2)
  • September 2016 (7)
  • Agustus 2016 (1)

Created with by BeautyTemplates | Distributed by Blogger