facebook twitter instagram

WISATA DENNY

About my journey to explore the world

  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Travelling
    • Indonesia
    • Thailand
    • Vietnam
    • Malaysia
  • Tips


Berawal dari rasa bosan tiap hari dirumah dengan kegiatan yang gitu-gitu saja, saya kemudian berniat untuk main ke kos Muzaki yang ada di Solo. Seperti biasanya saya berangkat ke Solo menggunakan motor andalan saya yaitu Mio J karena selain motor matic enak buat perjalanan jauh, di samping itu juga Mio J tidak boros bahan bakar. Untuk perjalanan dari Gresik ke Solo saya hanya mengisi bensin hanya sekali saja disekitar perbatasan provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah atau lebih tepatnya di daerah Sragen.

Perjalanan saya mulai seperti biasanya, saya mengambil waktu pagi hari atau lebih tepatnya sehabis sholat subuh sekitar pukul 05:00 dengan alasan suasana pagi yang sangat segar. Perjalanan menuju Solo saya mengambil jalur seperti dulu yaitu melewati daerah Lamongan, Babat, Bojonegoro, mengambil arah Cepu, kemudian ikuti plang jalan yang menunjukan arah ke Ngawi dan di teruskan menuju Sragen, Setelah itu ikuti jalur yang menunjukan arah Solo. Waktu itu saya sempat berhenti sejenak di indomaret perbatasan provinsi untuk merebahkan punggung sambil beli minum air es karena suhu udara sudah mulai panas. Setelah cukup istirahat saya lihat ban motor nampaknya mengalami kebocoran dan dengan terpaksa mencari tambal ban yang ada disekitar perbatasan, untung saja waktu itu menemukan tambal ban disekitar situ dengan bantuan orang sekitar. Waktu itu menunjukan pukul 11:00 dan saya masih menunggu ban motor selesai ditambal, setelah ban selesai ditambal saya sempat mengobrol-ngobrol dengan pemilik tambal ban yang kebetulan beliau dulu sempat kuliah di tempat saya kuliah juga yaitu di UNESA. Jadi saya agak lama ngobrol dengan beliau cerita tentang sejarah kampus dan lain-lain hingga waktu tak terasa menunjukan pukul 12:00 dan saya terpaksa harus berpamitan dengan beliau karena saya sudah ditunggu Muzaki di kos waktu itu.

Spot andalan untuk rest area

Perjalanan dilanjutkan kembali setelah menambal ban motor, ketika memasuki daerah Sragen saya menyempatkan untuk mengisi bensin Rp. 25.000 karena bensin motor sudah mulai habis. Perjalanan saya lanjutkan kembali hingga sampailah di kota Solo. Sesampainya di dekat kos Muzaki saya berhenti dulu di warung untuk mengabari bahwa saya sudah berada didekat kos. Ternyata Muzaki lagi nganterin kuliner temannya dari Gresik yang kebetulan main juga di Solo, terpaksa saya harus menunggu sampai selesai mereka kuliner. Tak berapalama akhirnya Muzaki datang dan menyuruh saya untuk mengikuti dia menuju kos temannya.

Sesampai di kos temannya saya diberitahu kalau kami semua akan diajak camp di Bukit Skipan atau lebih detailnya di bumi perkemahan yang letaknya di lereng gunung Lawu, mendapat kabar seperti itu saya kaget dongggg...soalnya saya baru saja menempuh perjalanan 7jam an dan abis ini langsung lanjut lagi perjalanan...wihhhhhh....sungguh perjalanan yang melelahkan. Tanpa pikir panjang saya ikutin saja ajakannya, karena saya juga membutuhkan acara seperti ini juga biar rasa bosan saya hilang sejenak. Okelah waktu itu saya diajak untuk mengambil perlengkapan camp di persewaan kemudian menuju kos Muzaki sebentar untuk mandi dan sholat ashar. Setelah itu kami semua menuju ke kosan temannya tadi untuk packing dan siap untuk berangkat, kami berangkat menuju Bukit Skipan terdiri dari 6 orang dengan detail personil 4 cowok dan 2 cewek.

Start dimulai dari kos sekitar pukul 16:00 dan waktu itu kami sempat mampir di indomaret beberapa menit untuk membeli ransum buat camp nanti. Sesampai di Bukit Skipan waktu itu malam hari sekitar pukul 19:00, suhu udara disana tidak seberapa dingin karena waktu itu banyak sekali wisatawan yang camp disana jadi suasananya lumayan ramai. Untuk memasuki Bukit Skipan kita diharuskan membayar kontribusi Rp. 10.000/orang dan Rp. 2.000/motor. Selesai mengurus administrasi kami langsung mencari lokasi yang cocok untuk mendirikan tenda, dan setelah mencari-cari akhirnya kami menemukan lokasi yang dikira cukup pas buat mendirikan tenda yang letaknya sedikit jauh dari keramaian. Selesai mendirikan tenda dan memasukan semua perlengkapan kedalam tenda kami langsung menikmati suasana camp di Bukit Skipan malam itu.

Kamar kami waktu itu

Bumi perkemahan Skipan merupakan tempat yang dijadikan sebagai tempat piknik wisata alam, tracking dan untuk kegiatan perkemahan. Jadi untuk para wisatawan yang ingin melakukan kegiatan alam tempat ini bisa jadi solusinya, wisatawan bisa camping sekaligus outbound dalam satu wilayah.Tempat ini dikelola oleh Perhutani dan menyediakan beberapa fasilitas memadahi seperti terdapat beberapa warung, toilet, mushola, gazebo, dan spot air terjun. Aktivitas kami di malam hari waktu itu hanya masak-masak sebentar diluar tenda, jalan-jalan melihat suasana area camp yang ramai, nongkrong diwarung, dan sebelum tidur kami sempatkan untuk main kartu didalam tenda biar suasana lebih akrab.

Waktu berjalan dengan cepat dan menunjukan pukul 07:00, pada waktu itu tumben-tumbennya saya bisa tidur nyenyak didalam tenda. Padahal biasanya saya tidak bisa tidur lama-lama didalam tenda, mungkin karena waktu itu saya kecapekan dan udara di area camp tidak terlalu dingin sehingga membuat saya tidur dengan nyenyak. Bangun dari tidur saya melihat keadaan sekitar ternyata teman-teman semuanya sudah pada bangun, hanya saya saja  bangun paling akhir...hahahahaha.

Pagi yang cerah di Skipan

Aktivitas pagi itu kami akan menuju ke air terjun, kami berangkat dari tenda sekitar pukul 08:00 dan memakan waktu sekitar 50 menit untuk menuju air terjun dengan medan naik turun yang lumayan buat olahraga pagi sekalian...hehehehehe. Sesampainya di air terjun kami langsung bermain air ada yang langsung merasakan dinginnya air terjun, ada yang nontonin aja, ada yang foto-foto, pokoknya acara kami bebas tapi teratur. Setelah puas main-main disekitar air terjun kami memutuskan kembali ke tenda sekitar pukul 10:30. Sesampainya di tenda kami langsung mengemasi barang masing-masing dan mengemasi perlengkapan camp karena destinasi selanjutnya yaitu ke Candi Cetho yang letaknya lumayan jauh dari Bukit Skipan sekitar 2jam perjalanan kalau lancar.

Wisatawan yang ikut camp di Skipan
Air terjun yang ada di Bukit Skipan
Fasilitas jalan-jalan dengan kuda juga ada kok

Waktu itu kami meninggalkan Bukit Skipan sekitar pukul 13:00 dan langsung menuju Candi Cetho. Candi Cetho merupakan candi peninggalan kerajaan beragama Hindu, bahkan sampai sekarang di waktu-waktu tertentu umat Hindu  masih sering melakukan aktivitas keagamaan di Candi Cetho. Jadi disekitar candi masih banyak sesajen bekas ritual keagamaan, sangat beruntung bagi para pengunjung yang kesana bebarengan dengan ritual keagamaan. Selain itu juga Candi Cetho sering digunakan para pendaki untuk start treking menuju gunung Lawu. Kemudian untuk medan menuju kesana letaknya dikemiringan 45derajat meurut Muzaki. Perjalanan menuju Candi Cetho waktu itu memakan waktu sekitar 3jam perjalanan karena medannya berupa tanjakan yang curam ditambah waktu itu adalah weekend jadi banyak sekali kendaraan yang lalu-lalang melewati jalur tersebut untuk berlibur. Memang pemandangan yang ditawarkan di daerah sekitar Candi Cetho sangat menarik dan hijau karena melewati perkebunan teh yang sangat luas dan ditambah kita bisa melihat bukit teletubies. Waktu itu banyak sekali kendaraan yang mogok karena tidak kuat untuk melewati tanjakan jalan menuju Candi Cetho.

Foto yang saya ambil dari warung dengan view seperti ini
Setelah melewati jalanan yang sangat ekstrim sampailah kami di parkiran Candi Cetho waktu itu sekitar pukul 15:00 dan kami istirahat sebentar di warung yang berada di dekat area parkir kendaraan untuk menyantap sate kelinci. Selesai sarapan kami lanjutkan perjalanan untuk memasuki area Candi Cetho. Ketika akan memasuki area Candi Cetho kami diharuskan untuk membeli tiket masuk sekitar Rp. 7.000/orang dan Rp. 2.000/motor. Apabila kita akan memasuki kompleks Candi Cetho kita diharuskan untuk memakai kain seperti di uluwatu (Bali) karena area candi yang dianggap suci, Setelah memakai kain kami diharuskan untuk mengisi data rombongan dan mengisi kotak amal seikhlasnya untuk persewaan kainnya.

Area parkir Candi Cetho
Disekitar area Candi Cetho ada juga yang menjual Burung
Ada juga yang menjual kelinci, dan itu kain yang harus dipakai
ketika memasuki area Candi Cetho



Jalur pendakian Gunung Lawu


Gapura menuju Candi Cetho
Ini dia Candi utama yang ada di Cetho

Waktu itu kami hanya 1 jam saja di area Candi Cetho karena teman-teman Muzaki yang dari Gresik akan pulang pada hari itu juga, jadi kami benar-benar membagi waktu untuk perjalanan balik ke Solo dan memberikan waktu istirahat untuk teman-teman Muzaki yang akan pulang ke Gresik. Pada waktu itu kami meninggalkan area Candi Cetho sekitar pukul 16:00 dan memutuskan untuk balik ke Solo. Setibanya di Solo kami langsung mengisi bensin lagi Rp. 25.000 dan menuju kos teman Muzaki untuk istirahat. Keesokan harinya saya melanjutkan trip selanjutnya ke kota gudeg yaitu kota Yogyakarta.  

Rincian Biaya :
  1. Bensin Sragen-Solo Rp. 25.000
  2. Tiket masuk camp Bukit Skipan Rp. 10.000/orang
  3. Parkir di Bukit Skipan Rp. 2.000/motor
  4. Tiket masuk Candi Cetho Rp. 7.000/orang
  5. Parkir di Candi Cetho Rp. 2.000/motor
  6. Biaya kain (Seikhlasnya)
  7. Bensin di Solo Rp. 25.000

Total Biaya : Rp. 71.000


(Hari berikutnya Wisata Historis kerajaan Yogyakarta)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

     Yogyakarta, sebuah nama kota di Jawa Tengah yang mungkin sudah tidak asing lagi ditelinga masyarakat indonesia ataupun turis asing. Yogyakarta sangat terkenal dengan orangnya yang ramah-ramah, kota yang nyaman meskipun sekarang sudah mulai ramai, kota yang kental akan sentuhan tradisi Jawa dan masih di lestarikan sampai saat ini meskipun perkambangan jaman yang sangat pesat. Salah satu tempat yang mempunyai nilai historis dan nilai kebudayaan Jawa yang sangat tinggi yaitu berada di Keraton Yogyakarta.

    Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat atau yang dikenal dengan nama Kraton Yogyakarta merupakan pusat dari museum hidup kebudayaan Jawa yang ada di daerah istimewa Yogyakarta. Kraton ini bukan hanya dijadikan tempat tinggal raja dan keluarganya saja, Kraton ini juga menjadi kiblat perkembangan budaya Jawa yang sekaligus kebudayaan tersebut. Apabila wisatawan ingin berkunjung kesini, wisatawan dapat belajar dan melihat secara langsung bagaimana budaya Jawa terus hidup dan dilestarikan.

    Sejarahnya Kraton Yogyakarta dibangun oleh Pangeran Mangkubumi pada tahun 1755. Usia bangunan Keraton Yogyakarta yang ratusan tahun ini sempat rusak akibat gempa besar pada tahun sekitar 1867, tetapi bangunan Keraton ini tetap berdiri kokoh dan terawat sampai saat ini. Mengunjungi Keraton Yogyakarta akan memberikan pengalaman yang berharga sekaligus mengesankan. Keraton yang menjadi pusat garis imajiner yang menghubungkan pantai Parangtritis dan Gunung Merapi ini memiliki 2 loket masuk yaitu didepan alun-alun utara dan Regol Keben.

    Kali ini saya akan mengunjungi tempat paling bersejarah di Yogyakarta salah satunya yah di Keraton Yogyakarta ini. Saya berangkat menuju kota Yogyakarta dari Solo pukul 13:30 menggunakan motor andalan saya yaitu Mio J seorang diri, rute perjalanan yang saya ambil waktu itu dari Solo-ambil arah boyolali-diteruskan ambil jalur Klaten-dan kemudian ikuti jalur Yogyakarta. Untuk waktu tempuh perjalanan dari Solo ke Yogyakarta memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan darat dengan lalulintas yang tidak terlalu macet. Pukul 15:30 sampailah saya di kota yang tenang dan berkesan buat saya, sesampainya di Yogyakarta saya langsung menuju rumah teman yang sudah saya anggap sebagai mbak sendiri namanya mbak Novi yang waktu nikahan di Bali saya sempatkan pergi kesana menggunakan motor dari Surabaya bersama pacar saya baca disin. Lha perjlanan ke Yogyakarta saya kali ini ingin nengokin bayi dari mbak Novi yang sudah berumur sekitar 5 bulan, karena waktu itu saya sudah sering janji sama mbak Novi untuk mau nengokin adek bayinya. Selain nengokin adek bayi besoknya saya mau jalan-jalan dengan teman marching band yang baru-baru ini saya kenal namanya mbak Meko yang kerja di Kalimantan dan kebetulan sedang liburan ke Yogyakarta jadi sekalian meet up gitu serta teman saya yang lain namanya Sena yang tinggal di Yogyakarta, mereka suka banget yang namanya ngetrip. Maka dari itu waktu saya ada di Yogyakarta saya langsung diajak ke Keraton Yogyakarta. Malam ini untuk sementara saya numpang tidur di rumah mbak Novi dan besoknya dilanjut untuk menelusuri Keraton Yogyakarta.

    Siang harinya kami janjian bertemu langsung di Keraton Yogyakarta pukul 11:00, sebelum berangkat menuju keraton saya berpamitan dulu dengan mbak Novi karena setelah dari keraton nanti saya langsung balik ke Solo dan bermalam disana. Setelah pamit saya langsung berangkat menuju keraton Yogyakarta, saya waktu itu hanya mengandalkan papan plang di jalan raya menuju Malioboro saja karena keratonnya berada di dekat Malioboro lebih tepatnya di alun-alun kidul yang terdapat pohon beringin kembar yang mempunyai mitos bahwa kalau berhasil melewati kedua pohon beringin tersebut dengan menutup mata katanya segala keinginan dapat terkabul (percaya tidak percaya kembali ke diri masing-masing gaesss).

     Lanjut setelah sampai Keraton saya langsung parkir motor dan waktu itu kondisi Keraton lumayan ramai dengan para wisatawan karena mungkin mendekati akhir tahun yang membuat wisatawan untuk tinggal di Yogyakarta sampai tahun baru. Sesampai di Keraton saya langsung mencari mbak Meko dan Sena, tidak berapa lama akhirnya kami bertemu dan langsung menuju kedalam Keraton. Untuk tarif masuknya sekitar Rp. 5.000/orang dan untuk biaya dokumentasi dikenakan tarif sekitar Rp. 2.000/grup untuk handphone. Selesai mengurus administrasi kami langsung memasuki pintu masuk dengan aula yang sangat besar ditambah view depan keraton adalah gunung merapi yang waktu itu tampak berdiri kokoh. Saat di keraton kami memasuki beberapa ruangan seperti ruangan alat musik tradisional yang sering dimainkan waktu itu, pakaian yang dikenakan orang keraton, beberapa foto dari raja Hamengkubuwono pertama sampai Hamengkubuwono yang sekarang menjabat sebagai raja, tempat pertemuan raja, dan masih banyak lainnya.

Area dalam keraton
Alat musik tradisional yang masih hits sampai saat ini
Foto Raja Hamengkubuwono yang terpampang di Keraton Yogyakarta


Foto Raja Hamengkubuwono saat ini
Next destination

Setelah lama berputar-putar mengunjungi setiap ruangan yang ada di Keraton kami melanjutkan menuju museum kereta kencana milik raja Hamengkubuwono pertama sampai Hamengkubuwono yang menjabat sebagai raja sekarang. Lokasi museum kereta kencana tidak terlalu jauh dari Keraton hanya sekitar 5 menit berjalan kaki karena letaknya berada di seberang jalan dari sebelah kiri Keraton. Untuk tarif masuk museum kereta kencana sekitar Rp. 7.000/orang dan dokumentasi Rp. 2.000/grup untuk handphone.

Museum kereta kencana ini tidak hanya memamerkan kereta kencana milik raja saja, selain itu ada beberapa display pakaian prajurit dan beberapa senjata milik prajurit. Apabila temen-temen ingin mendalami sejarah dari setiap kereta kencana ataupun barang-barang yang ada di museum kereta kencana ini temen-temen bisa menyewa guide lokal yang ada di museum ini. Banyak sekali kereta kencana yang sangat artistik dan unik disini. Mulai dari kereta kencana model retro sampai yang paling mewah, selain itu ada beberapa fungsi lain dari kereta kencana yang ada di museum ini contohnya ada kereta kencana yang fungsinya seperti ambulance.

Topi yang sering digunakan prajurit Keraton
Salah satu kereta kencana yang dimiliki oleh raja Hamengkubuwono
Alat transportasi lama tapi keren gaesss
kereta kencana yang berfungsi sebagai ambulans waktu itu

Setelah selesai mengunjungi museum kereta kencana milik para raja kami melanjutkan tour Keraton menuju Taman Sarinya Keraton Yogyakarta gitu sih dikenalnya. Letaknya tepat dibelakang Keraton Yogyakarta itu sendiri tetapi waktu itu tidak bisa langsung dimasuki dari Keraton, melainkan harus keluar dari Keraton dan mengambil arah kiri terus masuk dari pintu belakang. Untuk tiket masuk ke  Taman Sari sekitar Rp. 7.000/orang dan dokumentasi Rp. 2.000/grup untuk handphone. Didalam Taman Sari sendiri areanya sangat luas dan memiliki beberapa ruangan dengan fungsi yang macam-macam. Dengan fungsi ruangan yang bermacam-macam seperti keramik dan barang pecah belah, senjata, foto, miniatur, replika, dan aneka jenis batik beserta deorama proses pembuatannya. Untuk lebih jelasnya silahkan berkunjunjung saja.....Hahahahahaha. Untuk mengunjungi semua ruangan yang ada di Taman Sari ini bisa memakan waktu sekitar 1,5-2 jam karena ruangannya yang sangat banyak dan banyak juga barang peninggalan milik raja Hamengkubuwono. Pada waktu itu kami sempat melihat sebuah pertunjukan musik gratis dari beberapa sinden dan wayang didalam Taman Sari yang mungkin disuguhkan untuk para wisatawan. Keraton Yogyakarta sangat cocok untuk wisatawan yang ingin mengetahui histori lebih dalam tentang raja Hamengkubuwono sang penguasa Yogyakarta dan budaya Jawa.

Salah satu bangunan di Taman Sari Keraton Yogyakarta
Musik daerah yang dimainkan oleh beberapa musisi Keraton 
Salah satu arsitektur yang berada diruangan Taman Sari Keraton Yogyakarta
Piagam penghargaan yang diberikan presiden RI kepada Sri Sultan Hamengkubuwono IX

Selesai dari study tour Keraton Yogyakarta kami nampaknya sudah mulai kelaparan dan lelah, waktu itu kami memilih makan yang letaknya tidak jauh dari Keraton dan diteruskan nongkrong di daerah Kaliurang. Waktupun berjalan dengan cepat hingga matahari  perlahan tenggelam, sekitar pukul 16:00 saya berpamitan untuk balik ke Solo menuju kos teman saya dan nantinya saya akan bermalam disana. Karena besok paginya saya harus meneruskan perjalanan pulang ke Gresik.

Gellato dulu sebelum berpisah

Sekian perjalanan Study tour saya untuk menambah wawasan saya akan budaya Jawa dan kemegahan Keraton Yogyakarta yang penuh akan nilai historis dan tak lekang oleh waktu. Tunggu postingan saya selanjutnya dan jangan bosan-bosan untuk melihat dan menambah wawasan dari blog saya, dijamin nggak rugi kok...hehehehe ^^

Rincian Biaya :

  1. Tiket masuk Keraton Yogyakarta Rp. 5.000/orang
  2. Dokumentasi di Keraton Yogyakarta Rp. 2.000/grup
  3. Tiket masuk Museum kereta kencana Rp. 7.000/orang
  4. Dokumentasi di Museum kereta kencana Rp. 2.000/grup
  5. Tiket masuk di Taman sari Keraton Yogyakarta Rp. 7.000/orang
  6. Dokumentasi di Taman sari Keraton Yogyakarta Rp. 2.000/grup

Total Biaya : Rp. 25.000

Sumber : www.yogyes.com (diolah)

   
Share
Tweet
Pin
Share
3 komentar
Newer Posts
Older Posts

About me


Hi...I am Denny — Writer & a photographer.
Join me as I share great stories, amazing photos, incredible travel life and awesome tips for people who love to travel the world.


Follow Us

  • instagram
  • facebook
  • twitter
  • google+

Labels

  • Bali
  • Bandung
  • Bangkok
  • Banyuwangi
  • Blitar
  • Bojonegoro
  • Chiang Mai
  • Chiang Rai
  • Da Nang
  • Dieng
  • Genting
  • Hanoi
  • Ho Chi Minh
  • Indonesia
  • Jombang
  • Kediri
  • Kuala Lumpur
  • Malang
  • Malaysia
  • Melaka
  • Mojokerto
  • Solo
  • Thailand
  • Tips
  • Touring ramadhan
  • Tuban
  • Vietnam
  • Yogyakarta

recent posts

Sponsor

Blog Archive

  • Desember 2019 (1)
  • November 2019 (2)
  • April 2019 (1)
  • Desember 2018 (2)
  • Mei 2017 (1)
  • April 2017 (1)
  • Maret 2017 (1)
  • Februari 2017 (2)
  • Januari 2017 (1)
  • November 2016 (1)
  • Oktober 2016 (2)
  • September 2016 (7)
  • Agustus 2016 (1)

Created with by BeautyTemplates | Distributed by Blogger