facebook twitter instagram

WISATA DENNY

About my journey to explore the world

  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Travelling
    • Indonesia
    • Thailand
    • Vietnam
    • Malaysia
  • Tips




Kali ini pada tanggal 4 Desember 2019 saya akan membuat artikel tempat wisata lokal untuk kalian gaesss, agar kalian tidak bosan dengan artikel saya yang akhir-akhir ini mereview wisata di luar negeri. Jadi kali ini saya akan membagikan pengalaman pertama kali saya mengunjungi salah satu tempat wisata yang bisa dikatakan hits akhir-akhir ini di Mojokerto. Tetapi wisata ini gampang-gampang sulit yah buat kalian terutama yang jarang gerak karena letaknya berada di ketinggian sekitar 1100mdpl dan harus treking jalan kaki 2km jauhnya. Melihat kondisi seperti ini tempat wisata ini lebih tepatnya buat kalian para pendaki pemula yang baru pertamakali ingin mencoba mendaki gunung. Nama tempat wisata yang akan saya kunjungi kali ini adalah Watu Jengger.

Sebenarnya saya sudah pernah mengunjungi tempat ini pada saat belum terekspose lebih luas seperti saat ini. Jadi dulu waktu datang ke tempat ini masih benar-benar hutan belantara yang hanya ada beberapa jalur yang kadang terlihat dan ada juga yang tidak terlihat karena maklum hutan ini masih belum begitu terjamah oleh pendatang seperti saya dan hanya penduduk lokal saja yang datang ke tempat ini untuk mencari kayu. Singkat cerita dulu saya belum sempat sampai ke puncak dan bisa dikatakan hanya seperempat perjalanan saja dan itupun langsung balik lagi karena tidak ada petunjuk yang begitu jelas. Daripada saya tersesat dan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan lebih baik saya kembali lagi ke tempat parkiran. Begitulah cerita saya awal mengunjungi Watu Jengger yang masih belum begitu banyak orang yang tahu tempat ini. Dalam cerita kali ini saya akan mencoba mendaki sampai puncak Watu Jengger dikarenakan sekarang tempat ini sudah mulai terekspose, jadi yang pasti sudah ada jalur resmi untuk dilalui oleh para wisatawan yang akan berkunjung ke tempat ini.

 Ok langsung saja ke ceritanya, awal mula saya ingin mengunjungi tempat ini seperti biasa saya sedang dilanda bosan H-1 malam hari itu dan saya berfikir ingin pergi ke Bromo, camp di pantai Malang atau camp di Watu Jengger karena kebetulan saya belum pernah sampai puncak. Alasan lain mengurungkan niat saya untuk ke Bromo atau pantai Malang yaitu motor saya yang belum di service dan kalau ke pantai terlalu lama perjalanannya, jadi keputusan final jatuh kepada Watu Jengger.

Keesokan harinya pukul 07:00 saya baru prepare dan mengajak teman saya yang kebetulan bisa untuk diajak kesana. Kami start dari Gresik sekitar pukul 09:00 dan sebelumnya saya mengisi bensin full Rp. 30.000 dari Gresik. Perjalanan dari Gresik ke Mojokerto lancar seperti biasa dan kami berhenti di salah satu warung makan untuk sarapan terlebih dahulu karena dari rumah perut masih kosong, selesai sarapan kami melanjutkan perjalanan lagi sampai tempat parkiran Watu Jengger sekitar pukul 12:00an. Tips untuk kalian yang menggunakan motor seperti saya harus lebih waspada karena ketika akan memasuki desa Nawangan/desa terakhir untuk melanjutkan treking ke Watu Jengger medan jalanan berupa batu yang cukup tajam jadi di khawatirkan ban bocor dan disana saya tidak melihat tambal ban.

Tibanya di Desa Nawangan disitulah akhir perjalanan kalian menggunakan transportasi dan disediakan tempat parkir yang ada di beberapa halaman rumah warga yang sengaja digunakan untuk tempat parkir wisata Watu Jengger. Waktu itu saya ke Watu Jengger Weekday dan tarif menginap Rp. 10.000/motor. Selesai mengurus administrasi motor dan packing ulang kami melanjutkan perjalanan lagi menuju pos pendaftaran dari parkiran jauhnya sekitar 30menit berjalan kaki dengan treking lumayan menanjak. Saya melihat di perjalanan ada  beberapa warung tetapi keadaan tutup mungkin dikarenakan weekday jadi warung disana tutup semua, nggak tahu lagi kalau weekend mungkin banyak yang buka. Sesampainya di pos pendaftaran seperti biasa kami disuruh mengisi form pengunjung dengan biaya Rp. 11.000/orang. Untuk jam efektif petugas pos pendaftaran yaitu sekitar pukul 09:00-16:00 setelah saya tanya-tanya. Jika kalian ingin berkunjung gratis hindari jam efektif tersebut, tetapi untuk keamanan ditanggung sendiri yah. Karena gunanya pos pendaftaran yaitu yang pasti untuk keamanan dan kenyamanan pengunjung itu sendiri.

Parkiran yang saya gunakan didepan plang ini

Selesai mengurus administrasi di pos pendaftaran perjalanan kami lanjutkan dengan santai tanpa terburu-buru karena jam masih menunjukan pukul 12:30, kami sering istirahat dengan durasi waktu sekitar 10 menit untuk sekedar minum air dan sedikit mengobrol dan waktu terlama kami istirahat yaitu sekitar 30 menit. Untuk jalur treking masih terlihat jelas karena jalanan tersebut sering digunakan warga lokal mencari kayu menggunakan motor, untuk hewan yang ada disni saya sempat menjumpai  seekor tupai dan saat istirahat di salah satu tempat kami menemukan sarang lebah yang tergeletak di amben/kursi panjang tetapi madunya sudah tidak ada. Mungkin warga lokal disini juga mencari madu untuk dijual atau gimana saya kurang paham.

Treking berbatu di awal start
Sisa madu yang sudah tidak ada sari nya

Perjalanan berlanjut seperti biasa hingga kami tiba di pos 1, pada saat iseng-iseng bertanya dengan penjaga pos pendaftaran tadi dijelaskan bahwa camping ground dibagi menjadi 3 zona yaitu pos 1-3 tetapi untuk lokasi yang cukup luas buat camp ada di pos 3 yang dimana letaknya cukup dekat dengan puncak dan disana merupakan tempat terakhir untuk mendirikan tenda. Jika kalian ingin ke puncak disarankan untuk meninggalkan barang bawaan saja disana karena dari pos 3 menuju puncak hanya memakan waktu sekitar 15-30 menit jalan kaki santai.

kira-kira sudah setengah perjalanan di tempat ini

Pada saat mencapai pos 1 kami sempat diguyur hujan beberapa menit saja dikarenakan cuaca memang sudah memasuki musim hujan, jadi untuk kalian lebih baiknya membawa jas hujan karena sangat penting. Pada saat tiba di pos 2 kami sudah bisa melihat view yang cukup keren sih, kami bisa melihat 2 bukit yang ditengah-tengahnya dipisah oleh sungai dan kami berhenti beberapa menit untuk mengambil beberapa foto dan melanjutkan perjalanan hingga tiba di pos 3 untuk mendirikan tenda.

View saat melewati pos 2

disini saya rasa menjadi spot yang keren buat foto sih

Setibanya di pos 3 sekitar pukul 15:15 kebetulan kami bertemu dengan 1 rombongan berisi sekitar 6 orang asal surabaya yang kami tanya tiba disini sejak pagi dan mereka tidak berencana untuk menginap, pada saat itu mereka sudah prepare dan akan pulang. Selesai mendirikan tenda di pos 3 kami langsung lanjut untuk menuju puncak waktu itu juga. Perlu diperhatikan lagi buat kalian yang ingin menuju puncak harus lebih berhati-hati lagi karena hanya ada 1 jalur yang cukup sempit dan kiri kanan terdapat jurang.

kondisi jalan setapak ketika menuju puncak
not bad for take photo here


beginilah view treking ke puncak saat saya ambil dari jauh

Sesampainya di puncak kami menghabiskan waktu disana sekitar 30-40 menit untuk berfoto-foto sambil menikmati view pemandangan disana dan memang viewnya bagus menurut saya, sebenarnya ada tempat yang tidak cukup luas saat perjalanan menuju puncak yang bisa digunakan untuk camp bisa diisi sekitar 3 tenda saja. Tetapi tempatnya hanya dikelilingi tumbuhan ilalang yang cukup tinggi saja dan lokasinya dekat dengan jurang.

Top of Watu Jengger

Selesai puas berfoto-foto dan menikmati view dari puncak kami memutuskan untuk kembali ke tenda. Sesampai di tenda kami langsung masak mi instan karena kami sudah mulai kelaparan, selesai mengisi perut tiba-tiba ada 1 rombongan berisi 4 orang dari Batu yang ikut camp disini. Akhirnya kami menemukan partner camp di saat weekday, karena di pos pendaftaran tadi dikasih tahu kemungkinan tidak ada rombongan lain selain saya dan teman saya karena bertepatan weekday. Adapun mungkin mereka langsung tektok tanpa ngecamp disana, jadi habis dari puncak langsung balik lagi.

Setelah capek dari puncak langsung masak mi instan

Keadaan di pos 3 memang cukup luas dan ada beberapa pohon untuk berteduh karena di pos 1 dan 2 tidak ada pohon waktu itu, jadi lebih amannya kami memilih camp di pos 3 karena ada pohonnya. Oh iyah ada info yang cukup penting juga ketika camp di pos 3 karena lahannya yang cukup luas dan lumayan terbuka kemudian hanya ada beberapa pohon saja saya sarankan untuk lebih berhati-hati dalam mendirikan tenda karena takutnya ada badai. Jadi  lebih dipersiapkan lagi saat mau mendirikan tenda dan pastikan tenda kalian terpasang dengan kuat. Pada saat malam tiba kami sempat diserang angin yang lumayan kencang tetapi masih aman-aman saja. Pada malam hari kegiatan kami tidak banyak, kami hanya membuat api unggun dan menyantap makanan diluar tenda sambil menikmati gemerlap lampu kota Mojokerto dan sekitarnya dari pos 3, setelah itu kami langsung tidur sampai esok hari.


Keesokan harinya kami bangun sekitar pukul 05:00 awalnya ingin melihat sunrise, ternyata disini kami tidak bisa melihat sunrise hanya saja sore kemarin masih bisa melihat sunset. Jadi jika kalian pencari sunset disini kalian masih bisa menemukannya tetapi dengan catatan treking yang lumayan melelahkan yah..hehehehe. Waktu menunjukan pukul 08:00 kami mulai sedikit demi sedikit packing barang untuk kembali turun. Pada saat kami akan turun ada sekitar 3 rombongan yang baru saja sampai di pos 3, jadi menurut saya ada saja pengunjung di tempat ini khususnya pagi hari dan kemungkinan tidak camp. Waktu yang kami butuhkan untuk sampai pos pendaftaran sekitar 1jam perjalanan dengan 4x istirahat dengan durasi 5 menit. Sesampainya dekat dengan pos pendaftaran kami berpapasan dengan petugas yang ada di pos pendaftaran bersama dengan 2 orang temannya menggunakan motor trail sambil membawa sesuatu. Setelah saya tanya ternyata mereka mau memasang plakat untuk dipasang di puncak. Yaelahhhhh.....kenapa nggak dari kemarin saja mas biar saya bisa foto di puncak yang ada plakatnya. Saat itu salah satu dari mereka bercanda dengan menawari saya untuk berfoto dengan plakat itu tetapi harus naik lagi...wkwkwkwkwk.

View pagi hari dalam tenda

like a dream

Jadi begitulah akhir perjalanan saya ketika mencoba camp di Watu Jengger yang terletak di Mojokerto, ini merupakan pertamakali saya camp disana dan menurut penilaian saya secara pribadi viewnya cukup bagus tetapi untuk tempat campnya agak serem tapi bukan berbau horror yah, melainkan tempatnya yang terbuka dan dekat dengan jurang. Hanya saja yang saya takutkan kalau ada badai saja ketika camp disana. Oke semoga kalian terhibur dan bertambah wawasan kalian dengan artikel ini. Lebih baik lagi kalian bisa share artikel ini kepada teman atau orang lain agar orang lain juga mengetahui informasi tempat wisata yang lagi hits akhir-akhir ini.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

     Perjalanan saya kali ini ditemani seorang teman dari jaman sekolah namanya Wahyu yang sering saya ajak untuk mencari spot atau tempat wisata baru sebelumnya. Beberapa waktu ini saya sudah mulai jarang untuk mencari spot atau mengunjungi tempat wisata lagi dikarenakan ada beberapa hal yang menghambat saya dan kali ini kami ingin mencari spot wisata baru disekitar Jawa Timur saja. Dengan segala keterbatasan informasi dan segala macam pertimbangan kami menemukan spot wisata yang bisa dikatakan masih baru terletak di daerah Jombang namanya Goa Jepang.

     Menurut informasi yang saya dapat Goa Jepang adalah Goa yang tidak terlalu besar dan dalam, dulunya Goa ini digunakan untuk bersembunyi oleh masyarakat setempat ketika masih pada masa penjajahan Jepang. Karena peristiwa tersebut Goa ini diberinama dengan Goa Jepang oleh masyarakat setempat ketika dilihat dari sisi sejarahnya. Akses menuju Goa Jepang wisatawan harus menuruni trek yang cukup curam dan masih minim fasilitas keselamatan yang disediakan disana mengingat tempat wisata ini masih baru.

   Selain Goa Jepang ditempat ini juga dijuluki sebagai bukit Sunrise karena jika wisatawan berkunjung atau melewati sekitaran tempat ini pagi hari pasti mendapatkan pemandangan yang sangat menakjubkan. Spot wisata ini memang cocok bagi kalangan muda-mudi saat ini untuk pamer foto di social media, selain wisata Goa terdapat juga spot-spot menarik yang disediakan untuk berfoto seperti adanya beberapa gardu berbentuk love, bunga matahari, bahkan sarang burung yang lagi hits atau saya biasa menyebutnya Gardu Pandang karena gardu ini mengarah ke bukit hijau yang luas dan pepohonan sejauh mata memandang. Bahkan pengunjung disini bisa melihat view gunung Anjasmoro dari kejauhan dengan puncak bukit yang menjulang ke atap langit. Untuk berfoto diatas gardu tersebut pengunjung hanya membayar sebesar Rp. 2.000/gardu saja. Saya rasa kebanyakan muda-mudi lebih memilih untuk berfoto di Gardu Pandang daripada Goa Jepang, tetapi apabila masih merasa kurang tertantang maka bisa melanjutkan perjalanan menuju Goa Jepang. Waktu terbaik untuk foto di Gardu Pandang sebaiknya sebelum pukul 09:00 karena matahari masih belum terlalu naik keatas sehingga tidak menimbulkan backlight dan waktu terbaik lainnya yaitu sore hari setelah pukul 16:00 karena pada saat itu matahari sudah mulai terbenam sehingga sangat cocok untuk berfoto pada saat itu.

     Pagi itu saya berangkat dengan Wahyu sekitar pukul 05:30 dari kota Gresik menggunakan motor andalan saya Mio J. Suasana perjalanan menuju kota Jombang waktu itu tidak terlalu macet karena kami memilih weekday dan waktu itu udara masih terasa segar ditambah dengan pemandangan hijau ketika memasuki daerah Wonosalam. Rute perjalanan saya berawal dari daerah Bunder à ikuti jalan menuju Mojokerto à setelah itu ikuti arah kota Jombang à kemudian lihat petunjuk jalan yang mengarah ke daerah Wonosalam. Lebih tepatnya tempat wisata Goa Jepang ini terletak di kawasan Alas Gedangan Mojoagung, apabila ingin lebih mudahnya bisa langsung cari di google map saja.
Perjalanan menuju Goa Jepang terasa sangat singkat mungkin karena kami mengambil waktu pagi hari untuk menuju kesana ditambah lagi jarang menemukan kemacetan, mungkin hal itu yang membuat perjalanan kami terasa lancar dan singkat. Sempat waktu itu berhenti di daerah Mojokerto untuk mengisi bensin sebentar dan meneruskan kembali perjalanan hingga sampai di tempat wisata Goa Jepang.

    Sesampainya dilokasi kami langsung parkir kendaraan disana, waktu itu kami dilokasi pukul 08:30 dengan keadaan tempat wisata yang masih sepi. Fasilitas yang disediakan pengelola wisata Goa Jepang bisa dikatakan cukup baik karena fasilitas yang disediakan diantaranya beberapa warung makan, tempat parkir yang luas untuk menampung beberapa kendaraan bermotor, dan beberapa tempat duduk untuk beristirahat bagi pengunjung.

    Berhubung kami tiba di lokasi tempat wisata yang masih terlalu pagi alhasil kami bisa masuk ke spot Gardu Pandang dan Goa Jepang tanpa dipungut biaya alias free karena masih belum ada penjaga pagi itu. Kami langsung saja berfoto sepuas-puasnya di Gardu Pandang dengan berbagai gaya karena masih belum ada pengunjung sama sekali, jadi tidak perlu antri untuk berfoto di spot Gardu Pandang.
Puas berfoto di Gardu Pandang sambil menikmati view bukit yang hijau kami pindah lokasi untuk menuju Goa Jepang yang letaknya tidak terlalu jauh dari Gardu Pandang hanya saja trek yang kami lalui cukup curam dan masih minim fasilitas keamanan. Pada saat menuruni trek yang cukup curam kami hanya menemui pembatas yang terbuat dari kayu dan tali saja, sedangkan disampingnya sudah jurang yang saya rasa cukup dalam. Membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk sampai di Goa Jepang dari gardu pandang, tetapi perlu diingat pengunjung harus tetap waspada ketika menuruni trek yang cukup curam mengarah ke Goa Jepang.

Spot Gardu Pandang Bunga Matahari

Spot Gardu Pandang Love

Spot Gardu Pandang Sangkar Burung

    Sesampainya di Goa Jepang saya sedikit bingung, apa benar ini Goa Jepang? Karena memang bentuk Goa tidak begitu dalam, apabila ingin masuk kedalam Goa harus berjalan jongkok untuk orang. Setelah yakin kalau itu adalah Goa Jepang kami langsung mengabadikan beberapa foto disana. Keadaan di sekitar Goa banyak sekali batu-batu yang tersusun dan ada beberapa batu dengan aksen merah yang membuat Goa terlihat lebih mempunyai history yang kuat. Waktu berada di Goa Jepang kami tidak terlalu lama hanya sekitar 45 menit saja dan langsung kembali naik keatas menuju Gardu Pandang kembali sambil beristirahat sejenak karena trek keatas lumayan terjal.

Trek menuju Goa Jepang
Finally at Goa Jepang



Tampak depan Goa Jepang

    Selesai istirahat kami menuju warung untuk membeli air mineral karena kami sebelumnya tidak membawa perbekalan apapun ketika mengunjungi wisata Goa Jepang ini. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan kembali menuju Gresik.

Istirahat sejenak
Killing time

    Begitulah cerita kami mengunjungi tempat wisata baru yang ada di Jombang yang bernama wisata Goa Jepang. Masih banyak lagi tempat wisata baru di Jawa Timur yang belum sempat saya explore sebelumnya. Semoga untuk kedepannya saya masih bisa mengunjungi beberapa tempat menarik yang mungkin belum kalian kunjungi sebelumnya. Sampai ketemu di cerita saya selanjutnya, masih tetap mengexplore wisata alam yang ada di Indonesia. Enjoy your day ^^


Rincian biaya :

Bensin Gresik – Jombang Rp. 25.000
Parkir wisata Rp. 5.000/motor


Total Biaya : Rp. 30.000


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Perjalanan kali ini berawal dari ajakan teman saya yang ingin berlibur mengunjungi kota Malang kembali setelah beberapa tahun lulus dari kuliah dan kembali ke kota untuk meneruskan kehidupan mereka masing-masing. Namanya Pipit dan Lelita merupakan perempuan tangguh yang sebenarnya mempunyai hobi traveling dan kebetulan kali ini mereka cuti beberapa hari dari kerjaannya untuk menikmati hobi mereka kembali yang sudah lama ditinggalkan setelah mendapat pekerjaan di kota masing-masing.

Suatu hari mereka menghubungi saya dan ingin sekali diajak liburan di kota Malang dan sedikit request dari mereka yaitu ingin menikmati kembali treking dan menikmati keindahan alam dari atas gunung. Pada saat itu saya memikirkan untuk mengajak ke gunung Bromo, tetapi dikarenakan kurangnya personil akhirnya saya batalkan mengajak mereka ke gunung Bromo dan opsi lain yang saya pilih adalah wisata baru yang lagi hits akhir-akhir ini di Malang yaitu Budug Asu yang merupakan dataran tinggi terletak di lereng gunung Arjuno dengan suguhan pemandangan yang tidak kalah indahnya dengan gunung Bromo. Sebelum melakukan perjalanan kesana terlebih dahulu saya mencari beberapa informasi mengenai Budug Asu melalui internet dan survey langsung ke TKP. Setelah mendapat beberapa informasi, ternyata lokasi menuju Budug Asu tidak terlalu jauh dari kota Malang.

Untuk mencapai puncak Budug Asu sebenarnya ada 2 rute yaitu via Kebun Teh Lawang atau mengikuti jalur yang ada di google map, tetapi setelah saya survei sebelumnya jalan yang ditunjukan oleh google map merupakan jalanan yang hanya bisa dilalui menggunakan motor trail atau jeep saja. Mengetahui jalur tersebut hanya bisa dilalui kendaraan trail dan jeep saya langsung memutar arah dan bertanya dengan beberapa orang setempat dan ada salah satu orang menjelaskan kalau ada jalur lagi yaitu melewati kandang sapi dengan kondisi jalan setengah rusak dan setengah beraspal. Pada waktu itu saya lebih yakin untuk menggunakan jalur Kebun Teh Lawang saja karena jalannya beraspal semua. Sesampainya di Kebun Teh Lawang waktu itu sore sekitar pukul 15:00 dan saya diberitahu oleh penjaga parkiran jika ingin menuju ke puncak Budug Asu harus berangkat pagi karena treking dari Kebun Teh Lawang menuju puncak Budug Asu memakan waktu sekitar 2-3 jam perjalanan tergantung stamina dan keadaan dijalan. Mendengar hal itu saya memutuskan untuk kembali ke kota dan melanjutkan perjalanan dengan teman-teman saya keesokan harinya.

Keesokan harinya cuaca di kota Malang lumayan cerah dan bersahabat sehingga sangat cocok untuk melakukan perjalanan menuju destinasi yang akan kami kunjungi kali ini. Sekitar pukul 07:00 saya dan Irma menuju terminal bus Arjosari menggunakan motor masing-masing untuk menjemput Leli dan Pipit yang kabarnya sudah tiba di terminal beberapa menit yang lalu. Sesampainya di terminal bus langsung saja perjalanan kami arahkan menuju Kebun Teh Lawang dengan pemandangan hijau yang luas dikelilingi oleh kebun teh yang sangat menyegarkan mata pagi itu, perjalanan dari kota Malang menuju Kebun Teh lawang dapat ditempuh sekitar 45-60 menit menggunakan motor.

Sesampai di loket pintu masuk Kebun Teh Lawang kami harus membayar retribusi Rp. 5.000/orang dan Rp. 2.000/parkir motor. Setelah memarkirkan motor langsung saja kami  treking menuju jalan yang sudah diberitahu oleh pihak Kebun Teh Lawang menuju Budug Asu. Awal perjalanan kami sangat semangat dan sering mengobrol satu sama lain dengan melewati beberapa wilayah perkebunan teh yang hijau dan asri yang kemudian mengarah ke jurang berbatu dan memasuki wilayah pohon pinus yang menandakan perjalanan kami sudah mulai menjauh dari kawasan perkebunan teh. Saat awal perjalanan didaerah perkebunan teh kami sempat menemui rombongan lain dengan jumlah personil sekitar 6 orang yang tujuannya sama yaitu menuju puncak Budug Asu. Tetapi semakin lama perjalanan semakin terasa terjal dengan medan berbatu yang membuat kami merasa kelelahan dan sering untuk istirahat sambil menikmati pemandangan sekitar yang membuat kami betah berfoto lama-lama ditempat kami beristirahat.

Perjalanan awal dimulai dari perkebunan teh

Sempat berpapasan dengan mobil kesehatan yang akan menuju puncak

Pemotretan dikala break

Pemotretan dikala break

Kawasan hutan pinus yang harus dilewati menuju puncak Budug Asu

Leli in action

Pipit in action

Inilah pekerjaan saya dibalik semua foto itu

Beberapa menit kemudian kami kembali melanjutkan perjalanan menuju puncak Budug Asu yang tidak kunjung tiba. Sempat kami berpapasan lagi dengan beberapa orang yang menggunakan kendaraan jeep yang mencoba menawari kami untuk ikut dengan rombongan mereka, tetapi tawaran itu saya tolak karena waktu berpapasan dengan orang lain  sebelum rombongan jeep ini bilang kepada saya kalau puncak Budug Asu sudah dekat. Setelah mengetahui informasi itu saya menolak tawaran rombongan yang menggunakan kendaraan jeep tersebut dan kami kembali melanjutkan perjalanan, setelah berjalan cukup lama ternyata perjalanan ini masih belum menemui titik akhir dari Budug Asu. Sempat di perjalanan saya di omelin sama cewek-cewek ini karena saya telah menolak tawaran rombongan yang menggunakan jeep tersebut yang sebenarnya mempermudah perjalan kami.

Dari perjalanan yang menguras cukup banyak tenaga ini akhirnya kami baru menemukan loket pintu masuk menuju puncak Budug Asu saja yang terletak ditengah hutan yang sebelahnya terdapat tempat parkir untuk kendaraan yang kuat menanjak sampai loket pintu masuk ini. Keadaan disekitar loket pintu masuk sangat sepi tanpa ada penjaga dan hanya ada kami berempat saja, tetapi dari kejauhan saya seperti mendengar teriakan seseorang yang menurut saya menandakan sedikit lagi kami akan sampai puncak Budug Asu. Saat di loket pintu masuk kami sempat beristirahat untuk meminum air beberapa teguk dan meluruskan kaki sebentar, setelah itu saya memaksa untuk melanjutkan perjalanan lagi karena jam sudah menunjukan siang hari dan kabut sudah mulai turun ditambah lagi waktu itu kami tidak membawa perbekalan apapun hanya membawa 4 gelas air minum yang harus benar-benar dihemat untuk perjalanan menuju puncak dan turun menuju perkebunan teh kembali.

Loket pintu masuk yang terlihat kosong di jam operasional saat week day

Setelah istirahat di lokasi loket pintu masuk tadi kami lanjutkan berjalalan kembali hingga melewati papan kayu yang bertuliskan sambutan berada di kawasan Budug Asu, melewati papan kayu itu saya melihat trek yang akan kami lalui semakin lumayan sulit karena harus melewati tanah becek dan itu merupakan bekas jalan kendaraan off road buat jeep. Terpaksa kami harus lebih berhati-hati dalam setiap melangkah karena tanah yang akan kami lewati cukup licin. Tidak jauh dari loket pintu masuk yang tepatnya berada disamping pohon-pohon besar kami kembali berhenti untuk istirahat beberapa menit dan membuka  segelas air untuk diminum bersama. Sedikit tegukan air waktu itu sangat berarti bagi kami untuk membasahi tenggorokan yang terasa kering akibat treking yang lumayan jauh tanpa ada persiapan apapun. Selesai dari istirahat kami melanjutkan perjalanan hingga menemukan persimpangan yang membuat sedikit bingung karena ada 2 jalan yang terlihat jelas bagi kami, kalau lewati sebelah kanan jalanan terjal yang licin dan bertuliskan jalan hanya satu arah dan kalau saya prediksi waktu itu merupakan jalan setelah balik dari puncak Budug Asu, kemudian disisi lain jalurnya memang benar menuju puncak dan terlihat cukup jauh karena harus memutari bukit terlebih dahulu. Akhirnya setelah berfikir beberapa saat diantara kami ada yang menunjukan jalan setapak yang memang terlihat samar, didalam kondisi bingung saat menentukan jalan yang benar saya langsung mencoba survey jalan setapak yang terlihat samar itu apakah benar bisa dilewati atau tidak. Setelah saya mencoba menyusuri jalanan tersebut memang benar jalan ini bisa dilalui dan lebih cepat daripada kami harus memutari bukit. Tidak berfikir panjang saya langsung memberi kode kepada teman saya yang lain untuk mengikuti jalan yang saya lalui ini. Perjalanan kami lanjutkan dan bertemu juga dengan beberapa anak yang turun dari puncak dan saya juga sempat bertanya apakah jalan yang saya lalui ini nantinya mengarah ke puncak, benar saja jalan yang kami lalui memang benar menuju ke puncak.

Gerbang selamat datang menuju Budug Asu

Beberapa jam perjalanan akhirnya sampai juga di puncak Budug Asu yang  menawarkan keindahan dari jauh beberapa bukit-bukit hijau yang terselimuti oleh kabut tipis sejauh mata kami memandang. Langsung saja kami menikmati keindahan bukit-bukit dari puncak Budug Asu dengan berfoto di puncak dan tak lupa untuk berfoto di spot favorit berbentuk seperti logo firefox itu. Sekedar informasi diatas puncak ini terdapat sumber mata air yang berada didalam sebuah tangki besar, jika kalian ingin meminum air atau sekedar membasahi muka kalian juga bisa. Kemudian ada juga beberapa informasi yang saya dapat dari bertanya dengan beberapa orang yang ada dipuncak saat itu mengenai Budug Asu, apabila ingin mengunjungi tempat ini saat weekend pasti ada ojek yang menawarkan jasanya membantu pengunjung menuju puncak ketika mengalami kelelahan dan ada orang berjualan makanan ditempat ini. Pada waktu kami diatas puncak menemukan sebuah bangunan seperti rumah yang didalamnya seperti ruang tamu yang belum tahu fungsinya untuk apa. Kalau prediksi saya bangunan itu merupakan tempat singgah bagi para pengunjung yang ada di puncak bukit Budug Asu. Untuk Toilet kebetulan saya belum menemukan dan kebetulan juga diantara kami waktu itu tidak ada yang ingin ke toilet juga. 

Sesampainya di puncak Budug Asu

Great view

Spot favorit di Budug Asu

Selesai beristirahat di puncak dan meluangkan waktu untuk berfoto-foto kami langsung memutuskan turun ke bawah kembali karena waktu sudah menunjukan pukul 13:00 sedangkan perjalanan menuju kebun teh masih sekitar 3 jam lagi, tetapi kami diberitahu oleh salah satu orang yang ada dipuncak yang sepertinya warga sekitar kalau turunnya lewat jalan pintas saja yang telah ditunjukan oleh orang tersebut. Selain waktu yang ditempuh lebih singkat viewnya juga lebih bagus dan berbeda dengan jalan kami naik menuju puncak sebelumnya. Tetapi untuk treknya cukup berbahaya karena hanya berbentuk jalan tanah yang lumayan licin dengan kemiringan sekitar 70º kebawah. Sempat juga berpapasan dengan beberapa orang yang naik kepuncak melewati jalan pintas itu, kami lebih berhati-hati lagi dalam melangkah karena jalan yang dilewati harus saling berbagi dengan pengunjung lain yang naik menuju puncak melalui trek maut ini.

View sabana di jalan pintas yang kami lewati

Ini adalah kondisi jalan pintas yang kami lalui

Perjuangan Leli dan Pipit ketika menuruni trek maut

Memang benar jalan pintas ini cukup banyak memotong waktu yang sudah kami prediksi sebelumnya, tetapi trek turunnya sangat maut sehingga membuat diantara kami terpeleset beberapa kali. Setelah melewati jalan pintas kami beristirahat sejenak karena kaki saya masih lemas dan gemetar terus menerus karena harus menumpu beban badan saya dengan trek turun yang curam. Disini kami kembali menghabiskan segelas air terakhir persediaan yang kami bawa dari dalam tas. Selesai membasahi tenggorokan dengan 2 tegukan air kami kembali meneruskan perjalanan hingga waktu menunjukan sekitar pukul 15:00 tibalah kami di sebuah warung makan yang berada dalam wisata Kebun Teh. Ditempat ini hanya istirahat sampai pukul 15:40 ada yang sekedar membeli minuman dan ada juga yang bersih-bersih untuk mandi. Selesai beristirahat dari warung makan kami langsung menuju parkiran untuk mengambil motor dan melanjutkan perjalanan kembali ke kota Malang dengan selamat. Pada malam harinya Leli dan Pipit pamit untuk pulang menggunakan jasa travel yang sudah mereka pesan menuju kota masing-masing karena besok pagi harus kembali bekerja dan kembali kedunia nyata.

Jalan pintas menuju puncak Buduk Asu berada dibalik spanduk itu, jalan pintas itu disebut dengan fox hill dengan trek yang ekstrim

View perjalanan pulang melewati hutan pinus

Back to nature

Begitulah akhir cerita perjalanan kami menyusuri tempat wisata baru yang lagi hits di kota Malang yang bernama Budug Asu. Memang kota Malang banyak sekali tempat wisata yang harus dikunjungi, apalagi akhir-akhir ini banyak sekali tempat atau spot wisata terbaru mulai bermunculan bukan hanya di Malang saja melainkan hampir diseluruh kota di Indonesia karena banyaknya orang yang menggemari hobi traveling akhir-akhir ini. Jangan lupa untuk terus mengikuti dan update perjalanan wisata saya selanjutnya dikota yang akan saya kunjungi selanjutnya, Happy holiday ^^

Rincian Biaya :

Bensin berangkat dari kota Malang – Kebun teh Rp. 20.000
Tiket masuk Kebun Teh Rp. 5.000/orang                          
Karcis parkir Kebun Teh Rp. 2.000/motor


Total Biaya : Rp. 27.000
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


     Siapa diantara kalian yang belum pernah ke Dieng atau belum pernah mendengar nama tempat tersebut, kalau belum pernah kesana maka teman-teman harus bergegas dan angkat ransel kalian buat mengexplore daerah Dieng. Dataran tinggi Dieng merupakan daerah populer tertinggi yang sering dikunjungi wisatawan lokal maupun dari luar negeri, jadi patutlah dataran tinggi Dieng mendapat julukan sebagai negeri diatas awan karena terletak diketinggian sekitar 2000mdpl bahkan didataran tinggi Dieng pernah mencapai suhu 0º bahkan sampai minus disekitar bulan Agustus.

    Tidak ada kata bosan bagi saya untuk mengunjungi dataran tinggi Dieng yang selalu membuat rindu akan suasananya, saya pribadi sudah 4 kali ini mengunjungi dataran tinggi Dieng. Malah saya ingin sekali untuk tinggal lebih lama didaerah ini. Banyak sekali tempat wisata yang harus dikunjungi di dataran tinggi Dieng misalnya gunung Prau, Sikunir, Batu ratapan pandang, kawah sikidang, telaga warna, dan masih banyak tempat wisata lainnya. Beberapa tempat wisata Dieng yang sudah pernah saya kunjungi sebelumnya sudah pernah saya bahas (disini). Disamping tempat wisata yang harus dikunjungi teman-teman juga harus mencoba beberapa makanan khas seperti mie onglok, manisan carica, purwaceng, kacang Dieng dan masih banyak lagi. Belum lengkap rasanya kalau lagi berwisata ketempat baru tanpa dengan kuliner asli setempat.

     Kunjungan keempat saya ke dataran tinggi Dieng ini berawal dari Muzaki yang lagi pulang ke Gresik menyuruh teman saya yang bernama Ajib untuk main ke Solo, kemudian topik pembicaraan yang saya dengar mulai membahas wisata disekitar kawasan Dieng soalnya Muzaki lagi ambil cuti waktu itu dan kebetulan Ajib ingin mengunjungi wisata Batu ratapan pandang dengan jembatan merah putihnya. Setelah beberapa lama membahas wisata di kawasan Dieng munculah sebuah kesepakatan yaitu saya dan Ajib memutuskan untuk pergi ke Dieng tetapi singgah ke Solo terlebih dahulu untuk istirahat sebentar di kos Muzaki dan barulah kami berangkat ke Dieng dari Solo bersama.

    Waktu itu saya, Ajib dan 1 temannya berangkat malam hari tidak seperti biasanya yang selalu berangkat pagi hari saat pergi liburan, karena saat itu kami hanya mempunyai sedikit waktu untuk pergi ke Dieng. Rencana yang kami susun rapi yaitu hari Jum’at malam berangkat dari Gresik dan Minggu malam harus sudah ada di Gresik karena hari Senin Ajib harus kembali bekerja, oleh sebab itu kami harus menyusun rencana seefektif mungkin. Perjalanan berawal dari Gresik pukul 20:00 yang harusnya berangkat pukul 19:00 sesuai rencana awal. Perjalanan menuju Solo seperti biasa saya melewati Bunder, Lamongan, Babat, Bojonegoro, Cepu, Ngawi, Sragen, Karanganyar, dan terakhir Solo. Perjalanan liburan ke Dieng seperti biasa saya tetap membawa motor andalan yaitu si Mio J yang selalu saya bawa touring kemanapun perginya karena sudah nyaman dan pastinya irit bahan bakar. Waktu itu Ajib berbonceng dengan temannya membawa motor sendiri jadi kondisinya kami membawa 2 motor saja. Start dari Gresik kondisi bensin motor kami hanya setengah tangki dan bertahan sampai Bojonegoro, disana kami mengisi bensin Rp. 20.000 setelah itu lanjut perjalanan lagi seperti biasa. Perjalanan malam itu terasa dingin karena angin malam yang berhembus kencang sehingga membuat mata saya mulai sedikit mengantuk. Ditengah perjalanan kami memutuskan untuk berhenti sejenak di spot andalan saya yaitu perbatasan provinsi Jawa Timur – Jawa Tengah sambil meminum sedikit air segar ataupun kopi hasil membeli di indomaret perbatasan sembari menghilangkan kantuk yang melanda.

     Sedikit pesan buat kalian yang suka touring atau sedang berkendara ketika kantuk menyerang sebaiknya menepikan kendaraan atau mencari tempat peristirahatan yang nyaman demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan waktu dijalan. Tempat istirahat yang dipilih biasanya kebanyakan di supermarket karena bisa juga sambil beli kopi untuk mengusir rasa kantuk dan tempat lainnya yaitu pom bensin karena disana teman-teman bisa merebahkan badan sejenak di mushola sekalian untuk sholat juga bagi yang muslim.

    Selesai dari istirahat di perbatasan provinsi sekitar pukul 23:00 kami melanjutkan perjalanan kembali hingga tiba di kota Solo tepatnya di kos Muzaki, sesampainya di kos Muzaki sekitar pukul 02:00 kami langsung memilih istirahat untuk mengumpulkan energi kembali karena rencana awal berangkat ke Dieng dari Solo sekitar pukul 05:00 pagi. Selang beberapa jam dari tidur pulas kami alarm handphone berbunyi saling bergantian yang menandakan untuk persiapan berangkat, tetapi kami semua masih terjaga dalam tidur yang lelap dikarenakan masih kelelahan perjalanan sebelumnya memakan waktu sekitar 6 jam untuk sampai di kota Solo. Mata saya terbuka pertama kali sekitar pukul 06:00 dan langsung bergegas membangunkan yang lain untuk bersiap-siap. Waktu itu kami semua berangkat dengan kondisi belum mandi hanya cuci muka dan gosok gigi saja. Selesai mempersiapkan semuanya sekitar pukul 07:00 barulah kami berangkat dengan terlebih dahulu mengisi bahan bakar di salah satu pom bensin di dekat kos Muzaki Rp. 20.000, setelah itu melanjutkan perjalanan lagi hingga sesampainya di daerah Boyolali kami berhenti sebentar untuk mencari warung makan karena kami semua sudah kelaparan. Selesai sarapan pagi kami langsung melanjutkan perjalanan dengan suasana pagi yang masih segar, sekeliling jalan bewarna hijau, dan ditambah sedikit kabut tipis yang menyelimuti. Sesampainya di daerah Parakan atau sudah dekat dengan Wonosobo kami memilih untuk istirahat di salah satu pom bensin karena semua sudah merasa lelah. Selesai dari istirahat kami melanjutkan perjalanan kembali hingga sampai gapura pintu masuk kawasan dataran tinggi Dieng sekitar pukul 11:00, disana kami berhenti sebentar untuk foto di gapura tersebut dan lanjut lagi sampai di kawasan wisatanya. Masuk kawasan wisatanya terlebih dahulu harus membayar retribusi Rp. 15.000/ orang +  motor. Selesai mengurus administrasi kami langsung menuju destinasi pertama yaitu Batu ratapan pandang untuk mengabulkan permintaan teman saya Ajib.

Lagi istirahat di daerah Parakan

Bukan jembatan Suramadu

Didepan gapura Dieng 

Mio J ikut foto di gapura masuk Dieng

Tiket masuk kawasan wisata Dieng

    Sebelum masuk ke Batu ratapan pandang harus membayar tiket masuk terlebih dahulu Rp. 10.000/orang dan parkir Rp. 5.000/motor. Sesudah membeli tiket masuk kami langsung menuju spot Batu ratapan pandang dan berfoto di bongkahan batu dengan view telaga warna dibelakangnya. Waktu itu pengunjung Batu ratapan pandang tidak terlalu ramai, jadi untuk antri di spot bongkahan batu tersebut tidak terlalu lama. Selesai mengabulkan permintaan Ajib untuk foto di spot favorit batu ratapan pandang dengan view yang ditawarkan telaga warna kami melanjutkan perjalanan menuju jembatan merah putih yang tidak jauh dari spot sebelumnya. Disini Ajib mencoba menyebrangi jembatan merah putih dengan tiket masuk sebesar Rp. 15.000/orang. Kebetulan dia waktu itu mendapat antrian paling akhir dan tidak ada pengunjung lagi yang menyebrangi jembatan tersebut, jadi dia bisa foto sepuasnya sampai bosan dengan berbagai gaya dari yang biasa sampai paliang alay.
Selesai dari jembatan merah putih kami langsung turun dan menuju depan terminal Dieng untuk foto di tulisan “welcome to Dieng” itu merupakan keinginan saya selama bertahun-tahun mengunjungi Dieng belum pernah kesampaian foto si Mio J disana, seteah itu barulah menuju rumah kediaman mas Dedi yang pernah saya singgahi bersama Muzaki di acara Dieng Culture Festival tahun 2016. Sesampai di kediaman mas Dedi kami mengobrol dengan orang rumah untuk mencairkan suasana kembali yang dulu sempat saya rasakan sebelumnya. Selesai mengobrol kami disuruh masuk kedalam ruangan untuk istirahat karena pukul 04:00 pagi kami harus menuju bukit Sikunir yang terkenal dengan Golden Sunrisenya.  

Beli tiket masuk di Batu ratapan pandang

Spot favourite Batu ratapan pandang

Ternyata ada spot baru di bawah sana

Menuju spot selanjutnya yaitu Jembatan Merah-Putih

View belakang Jembatan Merah-Putih

Akhirnya tersampaikan si Mio J foto disini

     Alarm handphone di pagi buta sudah berdering menunjukan pukul 03.30, saya beranjak dari tempat tidur dan membangunkan yang lain. Dengan susah payah membangunkan mereka akhirnya kami semua siap dan berangkat dari rumah mas Dedi sekitar pukul 04:15 menggunakan motor. Waktu itu saya merasa kedinginan karena memang udara pagi hari disana sangat dingin ditambah kami harus memacu motor menuju bukit Sikunir menambah  rasa dingin dari angin yang berhembus kencang rasanya sampai menusuk tulang. Perjalanan dari rumah mas Dedi menuju bukit Sikunir sangat sepi hanya waktu itu kami sempat bertemu dengan 2 mobil yang juga mengarah menuju ke bukit Sikunir juga, setibanya di kawasan pintu masuk bukit Sikunir barulah keadaan berubah menjadi sangat ramai dengan ditunjukan antrian kendaraan yang begitu panjang. Langsung saja kami di suruh bayar tiket masuk Rp. 10.000/orang dan menuju ke parkiran motor dikenakan tarif Rp. 5.000/motor.

Mempersiapkan stamina untuk memburu Golden Sunrise

    Setelah memarkir motor kami langsung saja treking menuju bukit Sikunir tanpa ada streaching terlebih dahulu, start dari parkiran sekitar pukul 04:40 dan langsung hajar sampai puncak Sikunir. Keadaan awal perjalanan dari parkiran motor banyak beberapa warung yang menjual makanan, minuman, syal, sarung tangan, dan masih banyak yang lainnya. Saya menemukan beberapa orang yang masih singgah diwarung untuk menghangatkan badan. Dipertengahan jalan tiba-tiba nafas saya sudah mulai tidak teratur, kaki mulai lemas, kepala sedikit pusing, dan jantung berdetak sangat cepat. Mungkin karena kami yang terlalu terburu-buru mengejar sunrise tanpa melakukan streching terlebih dahulu ditambah kondisi jalan menuju bukit yang terus menanjak dari start awal sampai puncak. Melihat kondisi seperti ini saya memutuskan untuk istirahat sebentar sekitar 5 kali dengan jeda istirahat sekitar 2-3 menit saja dan teman saya yang lain masih terus berjalan dengan perlahan.

    Setelah melewati jalan tanjakan cukup lama akhirnya kami tiba di puncak sekitar pukul 05:10 dengan kondisi awan yang sudah mulai berubah sedikit menguning karena tersibak dengan cahaya matahari yang perlahan mulai menampakan kemegahannya di dataran tinggi Dieng. Momen yang di tunggu-tunggu oleh semua orang di bukit Sikunir akhirnya tercapai yaitu mengamati dan menunggu proses muncul sampai terbentuknya sang surya di bukit Sikunir yang sangat menakjubkan itu. Waktu itu saya sangat bersyukur bisa melihat golden sunrise untuk kedua kalinya di bukit Sikunir. Ketika matahari sudah mulai menyinari kawasan Dieng kami langsung mengabadikan momen dengan berfoto dan membuat video sepuasnya. Sekedar informasi untuk kalian yang muslim apabila tidak ingin meninggalkan ibadahnya tidak perlu khawatir karena di puncak sudah disediakan tempat untuk beribadah, jadi untuk para pendaki tetap bisa beribadah diatas puncak bukit Sikunir dengan tenang tanpa meninggalkan ibadahnya.

The Most Beautiful Golden Sunrise from Sikunir

     Puas setelah melihat golden sunrise dan indahnya bukit Sikunir kami langsung turun dari bukit Sikunir menuju parkiran untuk menikmati hangatnya kopi dan gorengan dengan view pemandangan telaga dan bukit-bukit. Kapan lagi menikmati kopi sambil makan gorengan yang masih hangat di pagi hari dengan view yang sangat menakjubkan seperti ini. Selesai menikmati hidangan di area parkiran kami kembali menuju rumah mas Dedi untuk berkemas dan melanjutkan perjalanan ke kota Solo. Waktu itu kami meninggalkan dataran tinggi Dieng sekitar pukul 10:00 dan sesampainya di kota Solo pukul 16:00. Didaerah Magelang kami sempat mengisi bensin Rp. 25.000 sekalian untuk istirahat sebentar, dan kebetulan dari daerah Magelang sampai kota Solo kami kehujanan sepanjang jalan. Sekitar pukul 17:00 Ajib dan temannya terlebih dahulu pulang ke Gresik karena besoknya harus kerja, sebenarnya saya juga berniat untuk kembali ke Gresik bersama mereka berhubung kepala sedikit pusing dan badan drop dikarenakan perjalanan dari Magelang sampai Solo diterpa hujan terus-menerus akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke Gresik keesokan harinya.

Biar tidak bosan waktu menuruni bukit Sikunir

Sampainya dibawah disambut oleh seniman musik warga setempat

Breakfast with amazing view

     Keesokan harinya sekitar pukul 07:00 saya pamit untuk kembali ke Gresik dengan disambut cuaca kota Solo pagi itu yang masih sedikit berkabut dan mendung, tak heran diperjalanan masih di daerah Karanganyar mata saya masih terasa berat ditambah dengan semilir angin yang berhembus pagi itu. Sesampai di daerah Bojonegoro saya berhenti sejenak di salah satu pom untuk mengisi bensin Rp. 25.000 dan langsung saja saya meneruskan perjalanan hingga sampai di rumah sekitar pukul 13:00. Sesampainya dirumah saya langsung mencari kasur untuk kembali istirahat karena masih merasa lelah.

    Begitulah akhir cerita memburu golden sunrise di bukit Sikunir dimana bersemayamnya para dewa dan dewi, jangan lupa untuk terus mengikuti perjalanan wisata saya selanjutnya mengexplore alam Indonesia yang sangat indah ini.

Rincian Biaya :

Isi bensin di Bojonegoro Rp. 20.000
Isi bensin di Solo Rp.20.000
Tiket masuk kawasan wisata Dieng Rp. 15.000/orang + motor
Tiket masuk Batu ratapan pandang Rp. 10.000/orang
Biaya parkir di Batu ratapan pandang Rp. 5.000/motor
Tiket Jembatan merah putih Rp. 15.000/orang
Tiket masuk bukit Sikunir Rp. 10.000/orang
Biaya parkir kendaraan di Sikunir Rp. 5.000/motor
Isi Bensin di Magelang Rp. 25.000
Isi Bensin di Bojonegoro Rp. 25.000

Total biaya : Rp. 150.000


#YamahaIndonesia #PesonaIndonesia #EigerAdventure #ExploreDieng 

Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Older Posts

About me


Hi...I am Denny — Writer & a photographer.
Join me as I share great stories, amazing photos, incredible travel life and awesome tips for people who love to travel the world.


Follow Us

  • instagram
  • facebook
  • twitter
  • google+

Labels

  • Bali
  • Bandung
  • Bangkok
  • Banyuwangi
  • Blitar
  • Bojonegoro
  • Chiang Mai
  • Chiang Rai
  • Da Nang
  • Dieng
  • Genting
  • Hanoi
  • Ho Chi Minh
  • Indonesia
  • Jombang
  • Kediri
  • Kuala Lumpur
  • Malang
  • Malaysia
  • Melaka
  • Mojokerto
  • Solo
  • Thailand
  • Tips
  • Touring ramadhan
  • Tuban
  • Vietnam
  • Yogyakarta

recent posts

Sponsor

Blog Archive

  • Desember 2019 (1)
  • November 2019 (2)
  • April 2019 (1)
  • Desember 2018 (2)
  • Mei 2017 (1)
  • April 2017 (1)
  • Maret 2017 (1)
  • Februari 2017 (2)
  • Januari 2017 (1)
  • November 2016 (1)
  • Oktober 2016 (2)
  • September 2016 (7)
  • Agustus 2016 (1)

Created with by BeautyTemplates | Distributed by Blogger