facebook twitter instagram

WISATA DENNY

About my journey to explore the world

  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Travelling
    • Indonesia
    • Thailand
    • Vietnam
    • Malaysia
  • Tips

Perjalanan kali ini berawal dari ajakan teman saya yang ingin berlibur mengunjungi kota Malang kembali setelah beberapa tahun lulus dari kuliah dan kembali ke kota untuk meneruskan kehidupan mereka masing-masing. Namanya Pipit dan Lelita merupakan perempuan tangguh yang sebenarnya mempunyai hobi traveling dan kebetulan kali ini mereka cuti beberapa hari dari kerjaannya untuk menikmati hobi mereka kembali yang sudah lama ditinggalkan setelah mendapat pekerjaan di kota masing-masing.

Suatu hari mereka menghubungi saya dan ingin sekali diajak liburan di kota Malang dan sedikit request dari mereka yaitu ingin menikmati kembali treking dan menikmati keindahan alam dari atas gunung. Pada saat itu saya memikirkan untuk mengajak ke gunung Bromo, tetapi dikarenakan kurangnya personil akhirnya saya batalkan mengajak mereka ke gunung Bromo dan opsi lain yang saya pilih adalah wisata baru yang lagi hits akhir-akhir ini di Malang yaitu Budug Asu yang merupakan dataran tinggi terletak di lereng gunung Arjuno dengan suguhan pemandangan yang tidak kalah indahnya dengan gunung Bromo. Sebelum melakukan perjalanan kesana terlebih dahulu saya mencari beberapa informasi mengenai Budug Asu melalui internet dan survey langsung ke TKP. Setelah mendapat beberapa informasi, ternyata lokasi menuju Budug Asu tidak terlalu jauh dari kota Malang.

Untuk mencapai puncak Budug Asu sebenarnya ada 2 rute yaitu via Kebun Teh Lawang atau mengikuti jalur yang ada di google map, tetapi setelah saya survei sebelumnya jalan yang ditunjukan oleh google map merupakan jalanan yang hanya bisa dilalui menggunakan motor trail atau jeep saja. Mengetahui jalur tersebut hanya bisa dilalui kendaraan trail dan jeep saya langsung memutar arah dan bertanya dengan beberapa orang setempat dan ada salah satu orang menjelaskan kalau ada jalur lagi yaitu melewati kandang sapi dengan kondisi jalan setengah rusak dan setengah beraspal. Pada waktu itu saya lebih yakin untuk menggunakan jalur Kebun Teh Lawang saja karena jalannya beraspal semua. Sesampainya di Kebun Teh Lawang waktu itu sore sekitar pukul 15:00 dan saya diberitahu oleh penjaga parkiran jika ingin menuju ke puncak Budug Asu harus berangkat pagi karena treking dari Kebun Teh Lawang menuju puncak Budug Asu memakan waktu sekitar 2-3 jam perjalanan tergantung stamina dan keadaan dijalan. Mendengar hal itu saya memutuskan untuk kembali ke kota dan melanjutkan perjalanan dengan teman-teman saya keesokan harinya.

Keesokan harinya cuaca di kota Malang lumayan cerah dan bersahabat sehingga sangat cocok untuk melakukan perjalanan menuju destinasi yang akan kami kunjungi kali ini. Sekitar pukul 07:00 saya dan Irma menuju terminal bus Arjosari menggunakan motor masing-masing untuk menjemput Leli dan Pipit yang kabarnya sudah tiba di terminal beberapa menit yang lalu. Sesampainya di terminal bus langsung saja perjalanan kami arahkan menuju Kebun Teh Lawang dengan pemandangan hijau yang luas dikelilingi oleh kebun teh yang sangat menyegarkan mata pagi itu, perjalanan dari kota Malang menuju Kebun Teh lawang dapat ditempuh sekitar 45-60 menit menggunakan motor.

Sesampai di loket pintu masuk Kebun Teh Lawang kami harus membayar retribusi Rp. 5.000/orang dan Rp. 2.000/parkir motor. Setelah memarkirkan motor langsung saja kami  treking menuju jalan yang sudah diberitahu oleh pihak Kebun Teh Lawang menuju Budug Asu. Awal perjalanan kami sangat semangat dan sering mengobrol satu sama lain dengan melewati beberapa wilayah perkebunan teh yang hijau dan asri yang kemudian mengarah ke jurang berbatu dan memasuki wilayah pohon pinus yang menandakan perjalanan kami sudah mulai menjauh dari kawasan perkebunan teh. Saat awal perjalanan didaerah perkebunan teh kami sempat menemui rombongan lain dengan jumlah personil sekitar 6 orang yang tujuannya sama yaitu menuju puncak Budug Asu. Tetapi semakin lama perjalanan semakin terasa terjal dengan medan berbatu yang membuat kami merasa kelelahan dan sering untuk istirahat sambil menikmati pemandangan sekitar yang membuat kami betah berfoto lama-lama ditempat kami beristirahat.

Perjalanan awal dimulai dari perkebunan teh

Sempat berpapasan dengan mobil kesehatan yang akan menuju puncak

Pemotretan dikala break

Pemotretan dikala break

Kawasan hutan pinus yang harus dilewati menuju puncak Budug Asu

Leli in action

Pipit in action

Inilah pekerjaan saya dibalik semua foto itu

Beberapa menit kemudian kami kembali melanjutkan perjalanan menuju puncak Budug Asu yang tidak kunjung tiba. Sempat kami berpapasan lagi dengan beberapa orang yang menggunakan kendaraan jeep yang mencoba menawari kami untuk ikut dengan rombongan mereka, tetapi tawaran itu saya tolak karena waktu berpapasan dengan orang lain  sebelum rombongan jeep ini bilang kepada saya kalau puncak Budug Asu sudah dekat. Setelah mengetahui informasi itu saya menolak tawaran rombongan yang menggunakan kendaraan jeep tersebut dan kami kembali melanjutkan perjalanan, setelah berjalan cukup lama ternyata perjalanan ini masih belum menemui titik akhir dari Budug Asu. Sempat di perjalanan saya di omelin sama cewek-cewek ini karena saya telah menolak tawaran rombongan yang menggunakan jeep tersebut yang sebenarnya mempermudah perjalan kami.

Dari perjalanan yang menguras cukup banyak tenaga ini akhirnya kami baru menemukan loket pintu masuk menuju puncak Budug Asu saja yang terletak ditengah hutan yang sebelahnya terdapat tempat parkir untuk kendaraan yang kuat menanjak sampai loket pintu masuk ini. Keadaan disekitar loket pintu masuk sangat sepi tanpa ada penjaga dan hanya ada kami berempat saja, tetapi dari kejauhan saya seperti mendengar teriakan seseorang yang menurut saya menandakan sedikit lagi kami akan sampai puncak Budug Asu. Saat di loket pintu masuk kami sempat beristirahat untuk meminum air beberapa teguk dan meluruskan kaki sebentar, setelah itu saya memaksa untuk melanjutkan perjalanan lagi karena jam sudah menunjukan siang hari dan kabut sudah mulai turun ditambah lagi waktu itu kami tidak membawa perbekalan apapun hanya membawa 4 gelas air minum yang harus benar-benar dihemat untuk perjalanan menuju puncak dan turun menuju perkebunan teh kembali.

Loket pintu masuk yang terlihat kosong di jam operasional saat week day

Setelah istirahat di lokasi loket pintu masuk tadi kami lanjutkan berjalalan kembali hingga melewati papan kayu yang bertuliskan sambutan berada di kawasan Budug Asu, melewati papan kayu itu saya melihat trek yang akan kami lalui semakin lumayan sulit karena harus melewati tanah becek dan itu merupakan bekas jalan kendaraan off road buat jeep. Terpaksa kami harus lebih berhati-hati dalam setiap melangkah karena tanah yang akan kami lewati cukup licin. Tidak jauh dari loket pintu masuk yang tepatnya berada disamping pohon-pohon besar kami kembali berhenti untuk istirahat beberapa menit dan membuka  segelas air untuk diminum bersama. Sedikit tegukan air waktu itu sangat berarti bagi kami untuk membasahi tenggorokan yang terasa kering akibat treking yang lumayan jauh tanpa ada persiapan apapun. Selesai dari istirahat kami melanjutkan perjalanan hingga menemukan persimpangan yang membuat sedikit bingung karena ada 2 jalan yang terlihat jelas bagi kami, kalau lewati sebelah kanan jalanan terjal yang licin dan bertuliskan jalan hanya satu arah dan kalau saya prediksi waktu itu merupakan jalan setelah balik dari puncak Budug Asu, kemudian disisi lain jalurnya memang benar menuju puncak dan terlihat cukup jauh karena harus memutari bukit terlebih dahulu. Akhirnya setelah berfikir beberapa saat diantara kami ada yang menunjukan jalan setapak yang memang terlihat samar, didalam kondisi bingung saat menentukan jalan yang benar saya langsung mencoba survey jalan setapak yang terlihat samar itu apakah benar bisa dilewati atau tidak. Setelah saya mencoba menyusuri jalanan tersebut memang benar jalan ini bisa dilalui dan lebih cepat daripada kami harus memutari bukit. Tidak berfikir panjang saya langsung memberi kode kepada teman saya yang lain untuk mengikuti jalan yang saya lalui ini. Perjalanan kami lanjutkan dan bertemu juga dengan beberapa anak yang turun dari puncak dan saya juga sempat bertanya apakah jalan yang saya lalui ini nantinya mengarah ke puncak, benar saja jalan yang kami lalui memang benar menuju ke puncak.

Gerbang selamat datang menuju Budug Asu

Beberapa jam perjalanan akhirnya sampai juga di puncak Budug Asu yang  menawarkan keindahan dari jauh beberapa bukit-bukit hijau yang terselimuti oleh kabut tipis sejauh mata kami memandang. Langsung saja kami menikmati keindahan bukit-bukit dari puncak Budug Asu dengan berfoto di puncak dan tak lupa untuk berfoto di spot favorit berbentuk seperti logo firefox itu. Sekedar informasi diatas puncak ini terdapat sumber mata air yang berada didalam sebuah tangki besar, jika kalian ingin meminum air atau sekedar membasahi muka kalian juga bisa. Kemudian ada juga beberapa informasi yang saya dapat dari bertanya dengan beberapa orang yang ada dipuncak saat itu mengenai Budug Asu, apabila ingin mengunjungi tempat ini saat weekend pasti ada ojek yang menawarkan jasanya membantu pengunjung menuju puncak ketika mengalami kelelahan dan ada orang berjualan makanan ditempat ini. Pada waktu kami diatas puncak menemukan sebuah bangunan seperti rumah yang didalamnya seperti ruang tamu yang belum tahu fungsinya untuk apa. Kalau prediksi saya bangunan itu merupakan tempat singgah bagi para pengunjung yang ada di puncak bukit Budug Asu. Untuk Toilet kebetulan saya belum menemukan dan kebetulan juga diantara kami waktu itu tidak ada yang ingin ke toilet juga. 

Sesampainya di puncak Budug Asu

Great view

Spot favorit di Budug Asu

Selesai beristirahat di puncak dan meluangkan waktu untuk berfoto-foto kami langsung memutuskan turun ke bawah kembali karena waktu sudah menunjukan pukul 13:00 sedangkan perjalanan menuju kebun teh masih sekitar 3 jam lagi, tetapi kami diberitahu oleh salah satu orang yang ada dipuncak yang sepertinya warga sekitar kalau turunnya lewat jalan pintas saja yang telah ditunjukan oleh orang tersebut. Selain waktu yang ditempuh lebih singkat viewnya juga lebih bagus dan berbeda dengan jalan kami naik menuju puncak sebelumnya. Tetapi untuk treknya cukup berbahaya karena hanya berbentuk jalan tanah yang lumayan licin dengan kemiringan sekitar 70º kebawah. Sempat juga berpapasan dengan beberapa orang yang naik kepuncak melewati jalan pintas itu, kami lebih berhati-hati lagi dalam melangkah karena jalan yang dilewati harus saling berbagi dengan pengunjung lain yang naik menuju puncak melalui trek maut ini.

View sabana di jalan pintas yang kami lewati

Ini adalah kondisi jalan pintas yang kami lalui

Perjuangan Leli dan Pipit ketika menuruni trek maut

Memang benar jalan pintas ini cukup banyak memotong waktu yang sudah kami prediksi sebelumnya, tetapi trek turunnya sangat maut sehingga membuat diantara kami terpeleset beberapa kali. Setelah melewati jalan pintas kami beristirahat sejenak karena kaki saya masih lemas dan gemetar terus menerus karena harus menumpu beban badan saya dengan trek turun yang curam. Disini kami kembali menghabiskan segelas air terakhir persediaan yang kami bawa dari dalam tas. Selesai membasahi tenggorokan dengan 2 tegukan air kami kembali meneruskan perjalanan hingga waktu menunjukan sekitar pukul 15:00 tibalah kami di sebuah warung makan yang berada dalam wisata Kebun Teh. Ditempat ini hanya istirahat sampai pukul 15:40 ada yang sekedar membeli minuman dan ada juga yang bersih-bersih untuk mandi. Selesai beristirahat dari warung makan kami langsung menuju parkiran untuk mengambil motor dan melanjutkan perjalanan kembali ke kota Malang dengan selamat. Pada malam harinya Leli dan Pipit pamit untuk pulang menggunakan jasa travel yang sudah mereka pesan menuju kota masing-masing karena besok pagi harus kembali bekerja dan kembali kedunia nyata.

Jalan pintas menuju puncak Buduk Asu berada dibalik spanduk itu, jalan pintas itu disebut dengan fox hill dengan trek yang ekstrim

View perjalanan pulang melewati hutan pinus

Back to nature

Begitulah akhir cerita perjalanan kami menyusuri tempat wisata baru yang lagi hits di kota Malang yang bernama Budug Asu. Memang kota Malang banyak sekali tempat wisata yang harus dikunjungi, apalagi akhir-akhir ini banyak sekali tempat atau spot wisata terbaru mulai bermunculan bukan hanya di Malang saja melainkan hampir diseluruh kota di Indonesia karena banyaknya orang yang menggemari hobi traveling akhir-akhir ini. Jangan lupa untuk terus mengikuti dan update perjalanan wisata saya selanjutnya dikota yang akan saya kunjungi selanjutnya, Happy holiday ^^

Rincian Biaya :

Bensin berangkat dari kota Malang – Kebun teh Rp. 20.000
Tiket masuk Kebun Teh Rp. 5.000/orang                          
Karcis parkir Kebun Teh Rp. 2.000/motor


Total Biaya : Rp. 27.000
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


     Siapa diantara kalian yang belum pernah ke Dieng atau belum pernah mendengar nama tempat tersebut, kalau belum pernah kesana maka teman-teman harus bergegas dan angkat ransel kalian buat mengexplore daerah Dieng. Dataran tinggi Dieng merupakan daerah populer tertinggi yang sering dikunjungi wisatawan lokal maupun dari luar negeri, jadi patutlah dataran tinggi Dieng mendapat julukan sebagai negeri diatas awan karena terletak diketinggian sekitar 2000mdpl bahkan didataran tinggi Dieng pernah mencapai suhu 0º bahkan sampai minus disekitar bulan Agustus.

    Tidak ada kata bosan bagi saya untuk mengunjungi dataran tinggi Dieng yang selalu membuat rindu akan suasananya, saya pribadi sudah 4 kali ini mengunjungi dataran tinggi Dieng. Malah saya ingin sekali untuk tinggal lebih lama didaerah ini. Banyak sekali tempat wisata yang harus dikunjungi di dataran tinggi Dieng misalnya gunung Prau, Sikunir, Batu ratapan pandang, kawah sikidang, telaga warna, dan masih banyak tempat wisata lainnya. Beberapa tempat wisata Dieng yang sudah pernah saya kunjungi sebelumnya sudah pernah saya bahas (disini). Disamping tempat wisata yang harus dikunjungi teman-teman juga harus mencoba beberapa makanan khas seperti mie onglok, manisan carica, purwaceng, kacang Dieng dan masih banyak lagi. Belum lengkap rasanya kalau lagi berwisata ketempat baru tanpa dengan kuliner asli setempat.

     Kunjungan keempat saya ke dataran tinggi Dieng ini berawal dari Muzaki yang lagi pulang ke Gresik menyuruh teman saya yang bernama Ajib untuk main ke Solo, kemudian topik pembicaraan yang saya dengar mulai membahas wisata disekitar kawasan Dieng soalnya Muzaki lagi ambil cuti waktu itu dan kebetulan Ajib ingin mengunjungi wisata Batu ratapan pandang dengan jembatan merah putihnya. Setelah beberapa lama membahas wisata di kawasan Dieng munculah sebuah kesepakatan yaitu saya dan Ajib memutuskan untuk pergi ke Dieng tetapi singgah ke Solo terlebih dahulu untuk istirahat sebentar di kos Muzaki dan barulah kami berangkat ke Dieng dari Solo bersama.

    Waktu itu saya, Ajib dan 1 temannya berangkat malam hari tidak seperti biasanya yang selalu berangkat pagi hari saat pergi liburan, karena saat itu kami hanya mempunyai sedikit waktu untuk pergi ke Dieng. Rencana yang kami susun rapi yaitu hari Jum’at malam berangkat dari Gresik dan Minggu malam harus sudah ada di Gresik karena hari Senin Ajib harus kembali bekerja, oleh sebab itu kami harus menyusun rencana seefektif mungkin. Perjalanan berawal dari Gresik pukul 20:00 yang harusnya berangkat pukul 19:00 sesuai rencana awal. Perjalanan menuju Solo seperti biasa saya melewati Bunder, Lamongan, Babat, Bojonegoro, Cepu, Ngawi, Sragen, Karanganyar, dan terakhir Solo. Perjalanan liburan ke Dieng seperti biasa saya tetap membawa motor andalan yaitu si Mio J yang selalu saya bawa touring kemanapun perginya karena sudah nyaman dan pastinya irit bahan bakar. Waktu itu Ajib berbonceng dengan temannya membawa motor sendiri jadi kondisinya kami membawa 2 motor saja. Start dari Gresik kondisi bensin motor kami hanya setengah tangki dan bertahan sampai Bojonegoro, disana kami mengisi bensin Rp. 20.000 setelah itu lanjut perjalanan lagi seperti biasa. Perjalanan malam itu terasa dingin karena angin malam yang berhembus kencang sehingga membuat mata saya mulai sedikit mengantuk. Ditengah perjalanan kami memutuskan untuk berhenti sejenak di spot andalan saya yaitu perbatasan provinsi Jawa Timur – Jawa Tengah sambil meminum sedikit air segar ataupun kopi hasil membeli di indomaret perbatasan sembari menghilangkan kantuk yang melanda.

     Sedikit pesan buat kalian yang suka touring atau sedang berkendara ketika kantuk menyerang sebaiknya menepikan kendaraan atau mencari tempat peristirahatan yang nyaman demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan waktu dijalan. Tempat istirahat yang dipilih biasanya kebanyakan di supermarket karena bisa juga sambil beli kopi untuk mengusir rasa kantuk dan tempat lainnya yaitu pom bensin karena disana teman-teman bisa merebahkan badan sejenak di mushola sekalian untuk sholat juga bagi yang muslim.

    Selesai dari istirahat di perbatasan provinsi sekitar pukul 23:00 kami melanjutkan perjalanan kembali hingga tiba di kota Solo tepatnya di kos Muzaki, sesampainya di kos Muzaki sekitar pukul 02:00 kami langsung memilih istirahat untuk mengumpulkan energi kembali karena rencana awal berangkat ke Dieng dari Solo sekitar pukul 05:00 pagi. Selang beberapa jam dari tidur pulas kami alarm handphone berbunyi saling bergantian yang menandakan untuk persiapan berangkat, tetapi kami semua masih terjaga dalam tidur yang lelap dikarenakan masih kelelahan perjalanan sebelumnya memakan waktu sekitar 6 jam untuk sampai di kota Solo. Mata saya terbuka pertama kali sekitar pukul 06:00 dan langsung bergegas membangunkan yang lain untuk bersiap-siap. Waktu itu kami semua berangkat dengan kondisi belum mandi hanya cuci muka dan gosok gigi saja. Selesai mempersiapkan semuanya sekitar pukul 07:00 barulah kami berangkat dengan terlebih dahulu mengisi bahan bakar di salah satu pom bensin di dekat kos Muzaki Rp. 20.000, setelah itu melanjutkan perjalanan lagi hingga sesampainya di daerah Boyolali kami berhenti sebentar untuk mencari warung makan karena kami semua sudah kelaparan. Selesai sarapan pagi kami langsung melanjutkan perjalanan dengan suasana pagi yang masih segar, sekeliling jalan bewarna hijau, dan ditambah sedikit kabut tipis yang menyelimuti. Sesampainya di daerah Parakan atau sudah dekat dengan Wonosobo kami memilih untuk istirahat di salah satu pom bensin karena semua sudah merasa lelah. Selesai dari istirahat kami melanjutkan perjalanan kembali hingga sampai gapura pintu masuk kawasan dataran tinggi Dieng sekitar pukul 11:00, disana kami berhenti sebentar untuk foto di gapura tersebut dan lanjut lagi sampai di kawasan wisatanya. Masuk kawasan wisatanya terlebih dahulu harus membayar retribusi Rp. 15.000/ orang +  motor. Selesai mengurus administrasi kami langsung menuju destinasi pertama yaitu Batu ratapan pandang untuk mengabulkan permintaan teman saya Ajib.

Lagi istirahat di daerah Parakan

Bukan jembatan Suramadu

Didepan gapura Dieng 

Mio J ikut foto di gapura masuk Dieng

Tiket masuk kawasan wisata Dieng

    Sebelum masuk ke Batu ratapan pandang harus membayar tiket masuk terlebih dahulu Rp. 10.000/orang dan parkir Rp. 5.000/motor. Sesudah membeli tiket masuk kami langsung menuju spot Batu ratapan pandang dan berfoto di bongkahan batu dengan view telaga warna dibelakangnya. Waktu itu pengunjung Batu ratapan pandang tidak terlalu ramai, jadi untuk antri di spot bongkahan batu tersebut tidak terlalu lama. Selesai mengabulkan permintaan Ajib untuk foto di spot favorit batu ratapan pandang dengan view yang ditawarkan telaga warna kami melanjutkan perjalanan menuju jembatan merah putih yang tidak jauh dari spot sebelumnya. Disini Ajib mencoba menyebrangi jembatan merah putih dengan tiket masuk sebesar Rp. 15.000/orang. Kebetulan dia waktu itu mendapat antrian paling akhir dan tidak ada pengunjung lagi yang menyebrangi jembatan tersebut, jadi dia bisa foto sepuasnya sampai bosan dengan berbagai gaya dari yang biasa sampai paliang alay.
Selesai dari jembatan merah putih kami langsung turun dan menuju depan terminal Dieng untuk foto di tulisan “welcome to Dieng” itu merupakan keinginan saya selama bertahun-tahun mengunjungi Dieng belum pernah kesampaian foto si Mio J disana, seteah itu barulah menuju rumah kediaman mas Dedi yang pernah saya singgahi bersama Muzaki di acara Dieng Culture Festival tahun 2016. Sesampai di kediaman mas Dedi kami mengobrol dengan orang rumah untuk mencairkan suasana kembali yang dulu sempat saya rasakan sebelumnya. Selesai mengobrol kami disuruh masuk kedalam ruangan untuk istirahat karena pukul 04:00 pagi kami harus menuju bukit Sikunir yang terkenal dengan Golden Sunrisenya.  

Beli tiket masuk di Batu ratapan pandang

Spot favourite Batu ratapan pandang

Ternyata ada spot baru di bawah sana

Menuju spot selanjutnya yaitu Jembatan Merah-Putih

View belakang Jembatan Merah-Putih

Akhirnya tersampaikan si Mio J foto disini

     Alarm handphone di pagi buta sudah berdering menunjukan pukul 03.30, saya beranjak dari tempat tidur dan membangunkan yang lain. Dengan susah payah membangunkan mereka akhirnya kami semua siap dan berangkat dari rumah mas Dedi sekitar pukul 04:15 menggunakan motor. Waktu itu saya merasa kedinginan karena memang udara pagi hari disana sangat dingin ditambah kami harus memacu motor menuju bukit Sikunir menambah  rasa dingin dari angin yang berhembus kencang rasanya sampai menusuk tulang. Perjalanan dari rumah mas Dedi menuju bukit Sikunir sangat sepi hanya waktu itu kami sempat bertemu dengan 2 mobil yang juga mengarah menuju ke bukit Sikunir juga, setibanya di kawasan pintu masuk bukit Sikunir barulah keadaan berubah menjadi sangat ramai dengan ditunjukan antrian kendaraan yang begitu panjang. Langsung saja kami di suruh bayar tiket masuk Rp. 10.000/orang dan menuju ke parkiran motor dikenakan tarif Rp. 5.000/motor.

Mempersiapkan stamina untuk memburu Golden Sunrise

    Setelah memarkir motor kami langsung saja treking menuju bukit Sikunir tanpa ada streaching terlebih dahulu, start dari parkiran sekitar pukul 04:40 dan langsung hajar sampai puncak Sikunir. Keadaan awal perjalanan dari parkiran motor banyak beberapa warung yang menjual makanan, minuman, syal, sarung tangan, dan masih banyak yang lainnya. Saya menemukan beberapa orang yang masih singgah diwarung untuk menghangatkan badan. Dipertengahan jalan tiba-tiba nafas saya sudah mulai tidak teratur, kaki mulai lemas, kepala sedikit pusing, dan jantung berdetak sangat cepat. Mungkin karena kami yang terlalu terburu-buru mengejar sunrise tanpa melakukan streching terlebih dahulu ditambah kondisi jalan menuju bukit yang terus menanjak dari start awal sampai puncak. Melihat kondisi seperti ini saya memutuskan untuk istirahat sebentar sekitar 5 kali dengan jeda istirahat sekitar 2-3 menit saja dan teman saya yang lain masih terus berjalan dengan perlahan.

    Setelah melewati jalan tanjakan cukup lama akhirnya kami tiba di puncak sekitar pukul 05:10 dengan kondisi awan yang sudah mulai berubah sedikit menguning karena tersibak dengan cahaya matahari yang perlahan mulai menampakan kemegahannya di dataran tinggi Dieng. Momen yang di tunggu-tunggu oleh semua orang di bukit Sikunir akhirnya tercapai yaitu mengamati dan menunggu proses muncul sampai terbentuknya sang surya di bukit Sikunir yang sangat menakjubkan itu. Waktu itu saya sangat bersyukur bisa melihat golden sunrise untuk kedua kalinya di bukit Sikunir. Ketika matahari sudah mulai menyinari kawasan Dieng kami langsung mengabadikan momen dengan berfoto dan membuat video sepuasnya. Sekedar informasi untuk kalian yang muslim apabila tidak ingin meninggalkan ibadahnya tidak perlu khawatir karena di puncak sudah disediakan tempat untuk beribadah, jadi untuk para pendaki tetap bisa beribadah diatas puncak bukit Sikunir dengan tenang tanpa meninggalkan ibadahnya.

The Most Beautiful Golden Sunrise from Sikunir

     Puas setelah melihat golden sunrise dan indahnya bukit Sikunir kami langsung turun dari bukit Sikunir menuju parkiran untuk menikmati hangatnya kopi dan gorengan dengan view pemandangan telaga dan bukit-bukit. Kapan lagi menikmati kopi sambil makan gorengan yang masih hangat di pagi hari dengan view yang sangat menakjubkan seperti ini. Selesai menikmati hidangan di area parkiran kami kembali menuju rumah mas Dedi untuk berkemas dan melanjutkan perjalanan ke kota Solo. Waktu itu kami meninggalkan dataran tinggi Dieng sekitar pukul 10:00 dan sesampainya di kota Solo pukul 16:00. Didaerah Magelang kami sempat mengisi bensin Rp. 25.000 sekalian untuk istirahat sebentar, dan kebetulan dari daerah Magelang sampai kota Solo kami kehujanan sepanjang jalan. Sekitar pukul 17:00 Ajib dan temannya terlebih dahulu pulang ke Gresik karena besoknya harus kerja, sebenarnya saya juga berniat untuk kembali ke Gresik bersama mereka berhubung kepala sedikit pusing dan badan drop dikarenakan perjalanan dari Magelang sampai Solo diterpa hujan terus-menerus akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke Gresik keesokan harinya.

Biar tidak bosan waktu menuruni bukit Sikunir

Sampainya dibawah disambut oleh seniman musik warga setempat

Breakfast with amazing view

     Keesokan harinya sekitar pukul 07:00 saya pamit untuk kembali ke Gresik dengan disambut cuaca kota Solo pagi itu yang masih sedikit berkabut dan mendung, tak heran diperjalanan masih di daerah Karanganyar mata saya masih terasa berat ditambah dengan semilir angin yang berhembus pagi itu. Sesampai di daerah Bojonegoro saya berhenti sejenak di salah satu pom untuk mengisi bensin Rp. 25.000 dan langsung saja saya meneruskan perjalanan hingga sampai di rumah sekitar pukul 13:00. Sesampainya dirumah saya langsung mencari kasur untuk kembali istirahat karena masih merasa lelah.

    Begitulah akhir cerita memburu golden sunrise di bukit Sikunir dimana bersemayamnya para dewa dan dewi, jangan lupa untuk terus mengikuti perjalanan wisata saya selanjutnya mengexplore alam Indonesia yang sangat indah ini.

Rincian Biaya :

Isi bensin di Bojonegoro Rp. 20.000
Isi bensin di Solo Rp.20.000
Tiket masuk kawasan wisata Dieng Rp. 15.000/orang + motor
Tiket masuk Batu ratapan pandang Rp. 10.000/orang
Biaya parkir di Batu ratapan pandang Rp. 5.000/motor
Tiket Jembatan merah putih Rp. 15.000/orang
Tiket masuk bukit Sikunir Rp. 10.000/orang
Biaya parkir kendaraan di Sikunir Rp. 5.000/motor
Isi Bensin di Magelang Rp. 25.000
Isi Bensin di Bojonegoro Rp. 25.000

Total biaya : Rp. 150.000


#YamahaIndonesia #PesonaIndonesia #EigerAdventure #ExploreDieng 

Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar


Berawal dari rasa bosan tiap hari dirumah dengan kegiatan yang gitu-gitu saja, saya kemudian berniat untuk main ke kos Muzaki yang ada di Solo. Seperti biasanya saya berangkat ke Solo menggunakan motor andalan saya yaitu Mio J karena selain motor matic enak buat perjalanan jauh, di samping itu juga Mio J tidak boros bahan bakar. Untuk perjalanan dari Gresik ke Solo saya hanya mengisi bensin hanya sekali saja disekitar perbatasan provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah atau lebih tepatnya di daerah Sragen.

Perjalanan saya mulai seperti biasanya, saya mengambil waktu pagi hari atau lebih tepatnya sehabis sholat subuh sekitar pukul 05:00 dengan alasan suasana pagi yang sangat segar. Perjalanan menuju Solo saya mengambil jalur seperti dulu yaitu melewati daerah Lamongan, Babat, Bojonegoro, mengambil arah Cepu, kemudian ikuti plang jalan yang menunjukan arah ke Ngawi dan di teruskan menuju Sragen, Setelah itu ikuti jalur yang menunjukan arah Solo. Waktu itu saya sempat berhenti sejenak di indomaret perbatasan provinsi untuk merebahkan punggung sambil beli minum air es karena suhu udara sudah mulai panas. Setelah cukup istirahat saya lihat ban motor nampaknya mengalami kebocoran dan dengan terpaksa mencari tambal ban yang ada disekitar perbatasan, untung saja waktu itu menemukan tambal ban disekitar situ dengan bantuan orang sekitar. Waktu itu menunjukan pukul 11:00 dan saya masih menunggu ban motor selesai ditambal, setelah ban selesai ditambal saya sempat mengobrol-ngobrol dengan pemilik tambal ban yang kebetulan beliau dulu sempat kuliah di tempat saya kuliah juga yaitu di UNESA. Jadi saya agak lama ngobrol dengan beliau cerita tentang sejarah kampus dan lain-lain hingga waktu tak terasa menunjukan pukul 12:00 dan saya terpaksa harus berpamitan dengan beliau karena saya sudah ditunggu Muzaki di kos waktu itu.

Spot andalan untuk rest area

Perjalanan dilanjutkan kembali setelah menambal ban motor, ketika memasuki daerah Sragen saya menyempatkan untuk mengisi bensin Rp. 25.000 karena bensin motor sudah mulai habis. Perjalanan saya lanjutkan kembali hingga sampailah di kota Solo. Sesampainya di dekat kos Muzaki saya berhenti dulu di warung untuk mengabari bahwa saya sudah berada didekat kos. Ternyata Muzaki lagi nganterin kuliner temannya dari Gresik yang kebetulan main juga di Solo, terpaksa saya harus menunggu sampai selesai mereka kuliner. Tak berapalama akhirnya Muzaki datang dan menyuruh saya untuk mengikuti dia menuju kos temannya.

Sesampai di kos temannya saya diberitahu kalau kami semua akan diajak camp di Bukit Skipan atau lebih detailnya di bumi perkemahan yang letaknya di lereng gunung Lawu, mendapat kabar seperti itu saya kaget dongggg...soalnya saya baru saja menempuh perjalanan 7jam an dan abis ini langsung lanjut lagi perjalanan...wihhhhhh....sungguh perjalanan yang melelahkan. Tanpa pikir panjang saya ikutin saja ajakannya, karena saya juga membutuhkan acara seperti ini juga biar rasa bosan saya hilang sejenak. Okelah waktu itu saya diajak untuk mengambil perlengkapan camp di persewaan kemudian menuju kos Muzaki sebentar untuk mandi dan sholat ashar. Setelah itu kami semua menuju ke kosan temannya tadi untuk packing dan siap untuk berangkat, kami berangkat menuju Bukit Skipan terdiri dari 6 orang dengan detail personil 4 cowok dan 2 cewek.

Start dimulai dari kos sekitar pukul 16:00 dan waktu itu kami sempat mampir di indomaret beberapa menit untuk membeli ransum buat camp nanti. Sesampai di Bukit Skipan waktu itu malam hari sekitar pukul 19:00, suhu udara disana tidak seberapa dingin karena waktu itu banyak sekali wisatawan yang camp disana jadi suasananya lumayan ramai. Untuk memasuki Bukit Skipan kita diharuskan membayar kontribusi Rp. 10.000/orang dan Rp. 2.000/motor. Selesai mengurus administrasi kami langsung mencari lokasi yang cocok untuk mendirikan tenda, dan setelah mencari-cari akhirnya kami menemukan lokasi yang dikira cukup pas buat mendirikan tenda yang letaknya sedikit jauh dari keramaian. Selesai mendirikan tenda dan memasukan semua perlengkapan kedalam tenda kami langsung menikmati suasana camp di Bukit Skipan malam itu.

Kamar kami waktu itu

Bumi perkemahan Skipan merupakan tempat yang dijadikan sebagai tempat piknik wisata alam, tracking dan untuk kegiatan perkemahan. Jadi untuk para wisatawan yang ingin melakukan kegiatan alam tempat ini bisa jadi solusinya, wisatawan bisa camping sekaligus outbound dalam satu wilayah.Tempat ini dikelola oleh Perhutani dan menyediakan beberapa fasilitas memadahi seperti terdapat beberapa warung, toilet, mushola, gazebo, dan spot air terjun. Aktivitas kami di malam hari waktu itu hanya masak-masak sebentar diluar tenda, jalan-jalan melihat suasana area camp yang ramai, nongkrong diwarung, dan sebelum tidur kami sempatkan untuk main kartu didalam tenda biar suasana lebih akrab.

Waktu berjalan dengan cepat dan menunjukan pukul 07:00, pada waktu itu tumben-tumbennya saya bisa tidur nyenyak didalam tenda. Padahal biasanya saya tidak bisa tidur lama-lama didalam tenda, mungkin karena waktu itu saya kecapekan dan udara di area camp tidak terlalu dingin sehingga membuat saya tidur dengan nyenyak. Bangun dari tidur saya melihat keadaan sekitar ternyata teman-teman semuanya sudah pada bangun, hanya saya saja  bangun paling akhir...hahahahaha.

Pagi yang cerah di Skipan

Aktivitas pagi itu kami akan menuju ke air terjun, kami berangkat dari tenda sekitar pukul 08:00 dan memakan waktu sekitar 50 menit untuk menuju air terjun dengan medan naik turun yang lumayan buat olahraga pagi sekalian...hehehehehe. Sesampainya di air terjun kami langsung bermain air ada yang langsung merasakan dinginnya air terjun, ada yang nontonin aja, ada yang foto-foto, pokoknya acara kami bebas tapi teratur. Setelah puas main-main disekitar air terjun kami memutuskan kembali ke tenda sekitar pukul 10:30. Sesampainya di tenda kami langsung mengemasi barang masing-masing dan mengemasi perlengkapan camp karena destinasi selanjutnya yaitu ke Candi Cetho yang letaknya lumayan jauh dari Bukit Skipan sekitar 2jam perjalanan kalau lancar.

Wisatawan yang ikut camp di Skipan
Air terjun yang ada di Bukit Skipan
Fasilitas jalan-jalan dengan kuda juga ada kok

Waktu itu kami meninggalkan Bukit Skipan sekitar pukul 13:00 dan langsung menuju Candi Cetho. Candi Cetho merupakan candi peninggalan kerajaan beragama Hindu, bahkan sampai sekarang di waktu-waktu tertentu umat Hindu  masih sering melakukan aktivitas keagamaan di Candi Cetho. Jadi disekitar candi masih banyak sesajen bekas ritual keagamaan, sangat beruntung bagi para pengunjung yang kesana bebarengan dengan ritual keagamaan. Selain itu juga Candi Cetho sering digunakan para pendaki untuk start treking menuju gunung Lawu. Kemudian untuk medan menuju kesana letaknya dikemiringan 45derajat meurut Muzaki. Perjalanan menuju Candi Cetho waktu itu memakan waktu sekitar 3jam perjalanan karena medannya berupa tanjakan yang curam ditambah waktu itu adalah weekend jadi banyak sekali kendaraan yang lalu-lalang melewati jalur tersebut untuk berlibur. Memang pemandangan yang ditawarkan di daerah sekitar Candi Cetho sangat menarik dan hijau karena melewati perkebunan teh yang sangat luas dan ditambah kita bisa melihat bukit teletubies. Waktu itu banyak sekali kendaraan yang mogok karena tidak kuat untuk melewati tanjakan jalan menuju Candi Cetho.

Foto yang saya ambil dari warung dengan view seperti ini
Setelah melewati jalanan yang sangat ekstrim sampailah kami di parkiran Candi Cetho waktu itu sekitar pukul 15:00 dan kami istirahat sebentar di warung yang berada di dekat area parkir kendaraan untuk menyantap sate kelinci. Selesai sarapan kami lanjutkan perjalanan untuk memasuki area Candi Cetho. Ketika akan memasuki area Candi Cetho kami diharuskan untuk membeli tiket masuk sekitar Rp. 7.000/orang dan Rp. 2.000/motor. Apabila kita akan memasuki kompleks Candi Cetho kita diharuskan untuk memakai kain seperti di uluwatu (Bali) karena area candi yang dianggap suci, Setelah memakai kain kami diharuskan untuk mengisi data rombongan dan mengisi kotak amal seikhlasnya untuk persewaan kainnya.

Area parkir Candi Cetho
Disekitar area Candi Cetho ada juga yang menjual Burung
Ada juga yang menjual kelinci, dan itu kain yang harus dipakai
ketika memasuki area Candi Cetho



Jalur pendakian Gunung Lawu


Gapura menuju Candi Cetho
Ini dia Candi utama yang ada di Cetho

Waktu itu kami hanya 1 jam saja di area Candi Cetho karena teman-teman Muzaki yang dari Gresik akan pulang pada hari itu juga, jadi kami benar-benar membagi waktu untuk perjalanan balik ke Solo dan memberikan waktu istirahat untuk teman-teman Muzaki yang akan pulang ke Gresik. Pada waktu itu kami meninggalkan area Candi Cetho sekitar pukul 16:00 dan memutuskan untuk balik ke Solo. Setibanya di Solo kami langsung mengisi bensin lagi Rp. 25.000 dan menuju kos teman Muzaki untuk istirahat. Keesokan harinya saya melanjutkan trip selanjutnya ke kota gudeg yaitu kota Yogyakarta.  

Rincian Biaya :
  1. Bensin Sragen-Solo Rp. 25.000
  2. Tiket masuk camp Bukit Skipan Rp. 10.000/orang
  3. Parkir di Bukit Skipan Rp. 2.000/motor
  4. Tiket masuk Candi Cetho Rp. 7.000/orang
  5. Parkir di Candi Cetho Rp. 2.000/motor
  6. Biaya kain (Seikhlasnya)
  7. Bensin di Solo Rp. 25.000

Total Biaya : Rp. 71.000


(Hari berikutnya Wisata Historis kerajaan Yogyakarta)
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me


Hi...I am Denny — Writer & a photographer.
Join me as I share great stories, amazing photos, incredible travel life and awesome tips for people who love to travel the world.


Follow Us

  • instagram
  • facebook
  • twitter
  • google+

Labels

  • Bali
  • Bandung
  • Bangkok
  • Banyuwangi
  • Blitar
  • Bojonegoro
  • Chiang Mai
  • Chiang Rai
  • Da Nang
  • Dieng
  • Genting
  • Hanoi
  • Ho Chi Minh
  • Indonesia
  • Jombang
  • Kediri
  • Kuala Lumpur
  • Malang
  • Malaysia
  • Melaka
  • Mojokerto
  • Solo
  • Thailand
  • Tips
  • Touring ramadhan
  • Tuban
  • Vietnam
  • Yogyakarta

recent posts

Sponsor

Blog Archive

  • Desember 2019 (1)
  • November 2019 (2)
  • April 2019 (1)
  • Desember 2018 (2)
  • Mei 2017 (1)
  • April 2017 (1)
  • Maret 2017 (1)
  • Februari 2017 (2)
  • Januari 2017 (1)
  • November 2016 (1)
  • Oktober 2016 (2)
  • September 2016 (7)
  • Agustus 2016 (1)

Created with by BeautyTemplates | Distributed by Blogger