facebook twitter instagram

WISATA DENNY

About my journey to explore the world

  • Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Travelling
    • Indonesia
    • Thailand
    • Vietnam
    • Malaysia
  • Tips
Liburan saya kali ini mengunjungi kota Bandung yang dimana banyak sekali tempat nongkrong maupun tempat wisata yang mulai bermunculan dan instagrameble banget, selain kota Bandung dikenal sebagai kota fashion di Indonesia disamping itu juga banyak sekali tempat wisata alam ataupun tempat rekreasi lainnya yang harus dikunjungi di kota Bandung. Oleh sebab itu saya memilih perjalanan kali ini berada di kota Bandung, sebelumnya dulu saya sempat mampir sebentar di kota Bandung sehabis dari Jakarta dan menyempatkan rekreasi ke salah satu pemandian air panas Ciater. Sekarang saya ingin mencoba lagi mengunjungi kota Bandung dan sedikit lebih lama dari kunjungan saya sebelumnya yang hanya transit semalam saja.

Perjalanan ke kota Bandung kali ini sedikit berbeda dari perjalanan saya sebelumnya yang biasanya sering touring menggunakan motor tetapi kali ini saya berangkat kesana menggunakan transportasi kereta api kelas ekonomi yang dimulai dari stasiun Gubeng, Surabaya. Setelah saya vakum lama dari transportasi kereta api akhirnya saya menaiki transportasi ini lagi yang dimana terakhir naik kereta api sekitar tahun 2012 pada zaman transisi E-ticketing. Seperti biasanya sebelum planning ke sebuah kota yang akan dikunjungi saya browsing tiket kereta api terlebih dahulu dan mendapatkan tiket kereta api paling murah, namanya kereta api Pasundan dengan jalur Gubeng-Kiaracondong. Waktu itu harga tiketnya sekitar Rp. 98.000 dan langsung saja saya sekalian beli tiket pulang biar nggak ribet dengan harga yang sama Rp. 98.000. Jam keberangkatan kereta api dari Gubeng-Kiaracondong pukul 08:15-23:00 di hari Jum’at sedangkan untuk pulangnya dari Kiaracondong-Gubeng 05:15-22:00 di hari Senin, waktu yang saya gunakan berkunjung ke bandung sekitar 2hari 3malam. Perjalanan ini membuat pantat saya menjadi tidak beraturan, bayangkan saja duduk berlama-lama didalam kereta api dengan durasi selama 15jam an, gausah dibayangkan tapi cobain aja deh biar sama-sama tahu rasanya..hahahaha.

Perjalanan backpaker saya kali ini ditemani sesosok pria yang pernah satu SMA dan satu kelas waktu kuliah dari semester awal sampai semester akhir (sensor semester akhirnya) namanya Bayu. Pertemanan kami bisa dibilang cukup lama, gimana gak lama dan gak boring kenal dari jaman SMA sampai sekarang masih suka maen bareng.

Lanjut ke topik selanjutnya saja karena males ngenalin dia lebih dalam...hahahahahaha. Ketika kami sudah mendapatkan tiket PP ke Bandung kami langsung mencari kontak teman yang tinggal disana biar disana bisa numpang tempat tinggal dan bisa pinjem motor untuk keliling sekitaran kota Bandung. Setalah mencari-cari akhirnya kami mendapatkan penginapan dihari pertama di kos teman Bayu, numpang hotel teman saya, dan terakhir di rumah saudara teman kami yang dulu sempat satu kelas juga jaman kuliah. Untuk masalah motor dihari pertama kami sebenarnya mendapat pinjaman teman bayu, tetapi berhubung tipe motor cowok dan diantara kami tidak bisa mengendarai motor cowok akhirnya kami memilih sewa motor disana dengan harga Rp. 30.000/12 jam dan selanjutnya kami pinjam motor dari kenalan teman saya. Untuk planning tujuan destinasi selama di Bandung waktu itu diantaranya Kawah putih, Farm house, Lodge maribaya, Dusun bambu, dan Tebing kraton. Berhubung ada beberapa kondisi yang tidak mendukung akhirnya kami waktu itu hanya mengunjungi wisata Kawah putih, Farm house, dan Lodge maribaya.

Langsung saja di hari jum’atnya sekitar pukul 06:00 saya sudah siap untuk menjemput Bayu menggunakan motor dan nanti akan saya inapkan beberapa hari kedepan di stasiun Gubeng, Pada trip ke kota Bandung ini saya tidak membawa tas melainkan hanya menggunakan jaket outride dari Eiger yang didalamnya terdapat beberapa kantong yang cukup saya isi perlengkapan saya selama di Bandung (bukan jubah yang dikenakan si kanjeng Dimas yah ?) perlengkapannya seperti 2 baju ganti, handuk, odol, sikat gigi, charger hp, Hp, headset, kacamata, rokok, buff, sarung tangan dan semuanya muat hanya didalam 1 jaket itu saja. Itulah mengapa saya sering membawa jaket outride  dari eiger selama perjalanan trip saya, selain jaket untuk pengendara motor disamping itu banyak kelebihan ketika menggunakan jaket tersebut seperti terdapat beberapa kantong yang bisa diisi seperti yang saya bawa selama di Bandung, water proof , wind proof, dan yang pasti safety.  Kalau cowok mah gak ribet ketika mau backpakeran yang penting sesimple mungkin dan tidak ribet selama perjalanan. Lanjut lagi ke pembahasan setelah menjemput Bayu, kami langsung menuju stasiun Gubeng. Sesampai stasiun sekitar pukul 07:00 dan kami langsung menuju self ticket atau biasanya disebut pencetakan mandiri untuk mendapatkan tiket resmi KAI.Ssetelah mendapat tiket kereta resmi kami lanjut menuju kantin sebelah stasiun Gubeng karena pagi itu saya belum sarapan pagi. Selesai sarapan kami lanjut masuk kedalam stasiun dan boarding untuk masuk kedalam gerbong. Banyak sekali perubahan setelah beberapa tahun saya tidak menggunakan transportasi ini, sekarang kereta api kelas ekonomi ada seperti pramugarinya yang berjaga didepan gerbong yang memudahkan penumpang ketika bertanya seputar gerbong yang akan dinaikinya, AC dalam 1 gerbong sekitar 4 buah yang membuat udara didalam semakin dingin, terdapat 2 colokan, pengeras suara ketika mengumumkan beberapa  informasi penting lainnya, terdapat kantin di dalam gerbong kereta, penjagaan 24 jam, tata tertib yang tegas terutama bagi perokok, terdapat 1 tempat sampah disetiap gerbong, dan masih banyak lainnya. Setelah masuk kedalam gerbong kami langsung mencari tempat duduk dan langsung menaruh barang bawaan ke kabin. Tidak banyak yang kami lakukan selama didalam kereta, kami hanya ngobrol, makan, tidur, gitu aja terus sampai tiba di stasiun Kiaracondong. Terkadang ketika kami merasa bosan kami buat untuk berdiri di depan toilet sambil melihat pemandangan yang ada diluar.
Saku belakang yang cukup besar untuk menyimpan banyak barang, berasa kanjeng dimas. LOL

Dulu cuman 1, sekarang jadi sepasang. Colokan aja pasangan, kok kamu enggak ?

Sekarang AC nya lebih banyak dari sebelumnya

Tempat duduk jauh lebih empuk, tapi tetap gak bisa tidur

Setibanya di stasiun Kiaracondong Bayu langsung menghubungi temannya untuk menjemput kami dan bermalam di kontrakannya. Waktu itu sebelum tiba di kontrakan kami mampir untuk beli nasi goreng terlebih dahulu, karena didalam kereta kami hanya makan bekal terakhir siang hari. Sesampainya di kontrakan kami langsung istirahat karena sabtu pagi kami akan melakukan perjalanan menuju Kawah putih yang letaknya cukup jauh dari kontrakan dengan waktu tempuh sekitar 2 jam.

DAY 1

Sabtu paginya kami beranjak dari kasur sekitar pukul 06:30 dan langsung bergegas mandi secara bergantian, saya memilih berkunjung ke kawah putih di pagi hari karena mengantisipasi kemacetan dan bertepatan weekend juga dan selain itu tiap sore Bandung selalu hujan (menurut informasi teman saya yang tinggal disana). Selesai mandi Bayu langsung pergi ke persewaan motor dengan temannya untuk wisata hari ini ke Kawah Putih dengan tarif Rp. 35.000/12 jam. Perjalanan ke Kawah Putih kali ini menempuh waktu cukup lama sekitar 2 jam dari kontrakan teman Bayu.

Setelah mendapatkan motor dari persewaan barulah kami berangkat menuju Kawah putih sekitar pukul 07:30. dengan bermodalkan GPS karena kami buta akan jalan di kota Bandung. Tidak jauh dari kontrakan kami terlebih dahulu mengisi bensin sebesar Rp. 14.000 karena persedian bensin yang ada dimotor cuman setengah saja waktu mengambil dari persewaan motor. Untuk menuju Kawah Putih daerah yang kami lewati waktu itu antara lain Soreang, Ciwidey, dan berujung di Kawah Putih. Jalanan ketika sudah dekat dengan Kawah Putih nantinya akan melewati jalanan menanjak karena letak Kawah Putih itu sendiri berada di daerah ketinggian dan nantinya akan melewati daerah persawahan, perhutani dengan pemandangan pohon-pohon dan pegunungan pastinya. Sesampai di Kawah Putih kami langsung memarkirkan motor dengan tarif Rp. 10.000 untuk penitipan helm dan kami diberi 2 masker. Waktu itu sekitar pukul 09:30an dan kami langsung menuju loket untuk membeli tiket masuk Kawah Putih dengan tarif Rp. 75.000 (termasuk 2 orang dan 1 motor) saya waktu itu agak bingung karena parkir motor kami sudah membayar dibawah, tapi pas diloket dikenakan tarif lagi. Sehabis mengurus administrasi kami langsung menuju antrian yang dimana antrian itu adalah menuju ke sebuah angkot yang digunakan untuk mengangkut wisatawan langsung menuju spot Kawah Putih. Jadi menurut saya tempat wisata Kawah Putih ini sudah dikelola sebaik mungkin untuk mempurmudah wisatawan mengunjungi Kawah Putih, salah satunya yaitu dengan disediakannya transportasi menuju Kawah Putih yang membuat wisatawan tidak perlu treking jauh-jauh menuju tempat wisata. 
Harga tidak sesuai dengan tarif yang ada disini
Ini angkot yang digunakan wisatawan untuk menuju Kawah Putih


Tetapi ada satu catatan dari saya sendiri ketika berada didalam angkutan ada seorang petugas yang mengurusi bagian angkutan itu memaksa beberapa wisatawan untuk masuk kedalam satu angkutan dengan perhitungan tempat duduk yang mereka gunakan, padahal waktu itu saya lihat kursi didalam angkutan itu sudah penuh tetapi tetap saja petugas memaksa masuk dengan merubah beberapa posisi duduk agar jumlah wisatawan bisa masuk sesuai dengan perhitungannya. Tidak heran kalau waktu itu ada konflik kecil yang membuat wisatawan kecewa dengan pemaksaan jumlah tempat duduk ini. Lanjut dari konflik tadi, angkot langsung menuju spot Kawah Putih dengan waktu tempuh sekitar 15 menit berada didalam angkot. Sesampainya kami langsung menuju Kawahnya, keadaan disana waktu itu sangat ramai akan wisatawan baik itu dalam negeri ada juga beberapa orang dari luar negeri karena maklum saya berkunjung di weekend. Cerita sedikit mengenai Kawah Putih merupakan sebuah danau yang terbentuk dari letusan Gunung Patuha. Tanah yang bercampur belerang disekitar kawah ini berwarna putih, lalu warna air yang berada di kawah ini berwarna putih kehijauan, ada yang unik dari kawah ini adalah airnya terkadang bisa berubah warna.

Setelah selesai berfoto kesana-kemari dengan puas selama 1 jam lalu kami memutuskan untuk kembali keparkiran dengan menggunakan angkot yang telah disediakan dari pihak wisata Kawah Putih, sesampainya di parkiran kami beristirahat terlebih dahulu di salah satu warung yang ada disana sembari minum kopi. Setelah dirasa cukup dan rasa capek sudah sedikit hilang kami langsung berjalan ke parkiran motor untuk mengambil helm dan ternyata waktu itu kebetulan Bayu yang mau ngambil helm di kenakan biaya lagi Rp. 10.000, waktu itu saya juga radak bingung dengan tarif apa saja yang dikenakan di wisata Kawah Putih ini. Ternyata kata Bayu pas mau ambil helm dia diberitahu oleh penjaganya kalau itu adalah untuk bayar maskernya aja. Lhaaaa......kok yah nggak ngomong dari awal itu orang yang ada diparkiran motor, padahal saya waktu itu bawa buff dan Bayu bawa masker sendiri dan akhirnya masker yang diberi dari orang parkiran tidak terpakai. jujur sih saya jadi agak sedikit kecewa dengan diberinya tarif yang tidak jelas di tempat wisata ini, kalau ngomong dari awal kan enak dan wisatawan dari luar daerah seperti saya jadi tidak kecewa nantinya.
Gueh anak gaol baru di Bandung euyyy

Sebelum ke kawah harus menyusuri beberapa anak tangga ini

Ada beberapa orang yang menawarkan jasa foto langsung jadi di wisata ini

Mumpung sendirian selpi ahhh

Dan akhirnya selpi sendiri-sendiri

Beberapa wisatawan mencari spot sendiri-sendiri demi mendapat foto terbaik mereka

Kawah Putih ketika dilihat dari spot untuk pengunjung lansia

Selesai dari urusan ambil motor di parkiran kami langsung meluncur kebawah untuk kembali ke kontrakan, perjalanan pulang dari Kawah Putih waktu itu sekitar pukul 11:30 dan sesampainya dekat kontrakan kami sempat mengisi bensin lagi Rp. 15.000, sholat, dan makan siang karena dari pagi kami belum sarapan sama sekali. Sesampainya di kontrakan waktu itu sekitar pukul 14:00 dan tidak lama itu hujan pun mulai turun sekitar pukul 15:00, untung saja kami sudah berada di kontrakan waktu itu. Hehehehehehe... Malamnya kami mengembalikan motor sewaan dan lanjut mengambil motor milik kenalan teman saya kemudian kami menuju hotel teman saya untuk numpang tidur sejenak malam itu juga.

DAY 2

Keesokan paginya pukul 06:00 kami langsung siap-siap prepare mandi dan lain-lainnya, sembari menunggu teman kuliah kami yang mau ikut mengantarkan ke tempat wisata hari ini yaitu di Farm House dan Lodge Maribaya. Kami waktu itu berangkat dari hotel sekitar pukul 09:00 dan sesampainya di Farm House sekitar pukul 09:30, Sebelum menuju Farm House saya mengisi bensin motor di daerah Lembang Rp. 20.000. Perjalanan menuju Farm House memakan waktu 30 menit dengan melewati daerah Lembang yang dimana daerah Lembang mempunyai banyak sekali tempat wisata yang menarik untu dikunjungi. Sesampai di parkiran motor Farm House kami membayar karcis seharga Rp. 5.000 dan tiket masuk wisata Rp. 20.000/orang yang mana tiket masuk wisata nantinya dapat ditukar dengan susu murni yang ada di loket yang telah disediakan.

Pada waktu itu suasana disana sangat ramai karena bertepatan dengan hari minggu ditambah wisata Farm House juga cocok untuk wisata keluarga, banyak sekali hiburan yang ditawarkan di sana antara lain beberapa cosplay dari tokoh SAW, fredikruger, ada juga persewaan costum ala warga eropa, hiburan dari beberapa domba yang lucu, dan yang paling dicari adalah rumah hobbit yang ada di Farm House. Rumah hobbit ini salah satu tempat yang instagrameble banget dikalangan anak muda, maka tidak heran kemarin disana banyak sekali anak muda yang antri untuk berfoto di rumah hobbit itu. Kami sempat sih waktu itu berfoto disana meskipun dengan keadaan yang sangat ramai dan tidak lupa kami juga menukarkan tiket masuk untuk mendapatkan segelas susu murni yang fresh dengan pilihan rasa coklat dan strawberry. Setelah mengitari sudut-sudut dari Farm House kami langsung memutuskan untuk beranjak dari Farm House dan meneruskan perjalanan menuju destinasi selanjutnya yaitu Lodge Maribaya.
Beberapa bangunan disini di design agar tampak seperti di bangunan eropa

Costum seperti penduduk eropa dan ini disewakan

Tiket masuk ditukar dengan satu gelas susu segar

Ini dia binatang yang disuguhkan untuk menghibur wisatawan, sukanya makan wortel

Hai para hobbit, i see you're village

Kami berangkat dari Farm House sekitar pukul 10:30 dan sesampainya di Lodge Maribaya sekitar pukul 12:00, perjalanan menuju Lodge Maribaya lumayan sedikit sulit medannya karena melewati jalanan yang banyak lubang ditambah jalanan yang sering naik-turun jadi harus lebih waspada ketika mengendarai motor. Waktu itu ketika dekat dengan tempat wisata antrian mobil sangat panjang ditambah jalan 2 arah yang tidak terlalu lebar, saya yang mengendarai motor ketika keadaan antri panjang sudah tidak bisa jalan. Untuk menunggu sampai ke parkiran motor kami membutuhkan waktu 30 menit padahal parkiran motor dari tempat saya mengantri masuk sekitar 50 meter.

Sesudah mendapat parkir motor saya membayar Rp. 5.000/motor dan dilanjutkan menuju loket untuk membeli tiket masuk Rp. 25.000/orang. Setelah membeli tiket kami langsung masuk dan mengelilingi area Lodge Maribaya, tempat wisata ini seperti dirancang untuk area outbound dengan beberapa wahana cukup menantang diantaranya sky tree, sky swing, dan sky bike ditambah dengan background pohon pinus yang menjulang tinggi di belakang tempat wisata dengan harga Rp. 20.000-30.000/wahana. Kemarin saya tidak sempat mencoba dari salahsatu wahana tersebut karena antriannya yang terlalu panjang dan sangat ramai, maklum saya kesana bertepatan dengan hari minggu yang dimana banyak warga Bandung yang sedang melakukan rekreasi. Selain disediakan beberapa tempat wahana untuk pengunjung, The Lodge Maribaya juga menyediakan beberapa cafe dan tempat makan untuk wisatawan yang sekirannya untuk beristirahat sambil menikmati suasana hutan pinus.
Suasana ramai wisatawan waktu itu

Cari spot foto aja susah banget waktu itu, kebanyakan yang foto di lama-lamain

Wahana adernaline sky bike, saya gak berani coba..hahaha

Yang dibelakang nama spotnya sky tree, berhubung antrinya panjang jadi disini aja fotonya

        Waktu itu saya di The Lodge Maribaya hanya sekitar 60 menit saja, karena suasana yang semakin ramai dan membuat saya tidak bisa untuk menikmati tempat wisata ini. Kami waktu itu meninggalkan tempat ini pukul 13:00 dan menuju rumah teman saya ini, sebelum kerumah teman kami mampir dulu di masjid dekat alun-alun ujung berung untuk sholat dan setelah itu mampir ke salah satu tempat makan yang letaknya di daerah kiara condong. Sesampai di rumah teman saya langsung istirahat dan lagi-lagi disambut hujan lumayan deras. Kami waktu itu istirahat sampai sekitar pukul 19:00 dirumah teman saya dan setelah itu kami langsung diajak teman saya ke salah satu tempat nongkrongnya sambil menikmati malam terakhir di kota Bandung ditemani dengan kopi panas. Waktu berjalan dengan cepat malam itu hingga tak terasa pukul 23:00 dan saya langsung mengembalikan motor pinjaman yang sebelumnya saya isi bensin terlebih dahulu Rp. 20.000 dari kenalan teman saya, kemudian setelah mengembalikan motor kami langsung kembali kerumah teman saya untuk istirahat dirumahnya yang dekat dengan stasiun kiaracondong biar kami tidak terburu-buru menuju setasiun karena jam keberangkatan kereta saya pukul 05:30.

Sekian perjalanan wisata saya mengunjungi kota Bandung dengan banyaknya keindahan yang ada di kota ini, jangan bosan-bosan untuk mengikuti terus blog saya dengan pengalaman wisata terbaru saya yang akan di share buat teman-teman sekalian...enjoy your day ^^

Biaya pengeluaran :
1. Tiket Surabaya - Bandung Rp. 98.000 (Ekonomi class)
2. Tiket Bandung - Surabaya Rp. 98.000 (Ekonomi class)
3. Sewa motor di Bandung Rp. 35.000/12 jam
4. Bensin berangkat menuju Kawah Putih Rp. 14.000
5. Karcis parkir di Kawah Putih Rp. 10.000/motor
6. Tiket masuk Kawah Putih Rp. 30.000/orang + 1 motor
7. Biaya masker Rp. 5.000/orang
8. Bensin pulang dari Kawah Putih Rp. 15.000
9. Bensin perjalanan ke Farm House Rp. 20.000
10.Karcis parkir di Farm House Rp. 5.000/motor
11.Tiket masuk di Farm House Rp. 20.000/orang
12.Karcis parkir di The Lodge Maribaya Rp. 5.000/motor
13.Tiket masuk di The Lodge Maribaya Rp. 25.000/orang
14.Bensin pulang dari The Lodge Maribaya Rp. 20.000


Total biaya : Rp. 400.000
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

     Gunung Ijen adalah sebuah gunung berapi aktif yang terletak di perbatasan antara kabupaten Banyuwangi dan kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Indonesia. Gunung ini memiliki ketinggian 2.443 mdpl dan terletak berdampingan dengan Gunung Merapi. Gunung Ijen terakhir meletus pada tahun 1999. Salah satu fenomena alam yang paling terkenal dari Gunung Ijen adalah kawah yang terletak di puncaknya. Untuk mendaki ke gunung ini bisa berangkat dari Banyuwangi ataupun dari Bondowoso. Kawah Ijen adalah sebuah danau kawah yang bersifat asam yang berada di puncak Gunung Ijen dengan tinggi 2.443 meter di atas permukaan laut dengan kedalaman danau 200 meter dan luas kawah mencapai 5.466 Hektar. Danau kawah Ijen dikenal merupakan danau air sangat asam terbesar di dunia. Kawah Ijen berada dalam wilayah Cagar Alam Taman Wisata Ijen Kabupaten Bondowoso dan kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Setiap dini hari sekitar pukul 02.00 hingga 04.00 di sekitar kawah dapat dijumpai fenomena blue fire atau api biru yang merupakan keunikan tempat ini, karena pemandangan alami ini hanya terjadi di dua tempat di dunia yaitu Islandia dan Ijen. Dari Kawah Ijen kita dapat melihat pemandangan gunung lain yang ada di kompleks Pegunungan Ijen di antaranya adalah puncak Gunung Merapi yang berada di timur Kawah Ijen, Gunung Raung, Gunung Suket, Gunung Rante, dan sebagainya.

     Berawal dari tertundanya jadwal ke Ijen sebelumnya gara-gara cuaca buruk waktu itu selama 2 hari berturut-turut sehingga mengurungkan niat untuk berangkat ke Ijen. Setelah lewat seminggu kemudian dan cuaca mulai membaik lagi saya putuskan tanggal 18 Oktober untuk berangkat ke Ijen dengan teman jaman SMA nama panggilannya Ambeng karena dia berasal dari daerah Ambeng-ambeng yang masih diwilayah Gresik. Pada saat malam tanggal 17 saya sebenarnya tiba-tiba aja pengen pergi ke Ijen dan kalau saya lihat cuaca juga sudah mulai bersahabat, waktu itu juga saya langsung cari partner buat berangkat ke Ijen pas subuhnya. Setelah beberapa lama mencari kandidat untuk menemani saya ke Ijen, diputuskan pemenangnya adalah teman saya Ambeng. Hahahahahaha...berasa kayak ajang pencarian bakat.

     Partner untuk berangkat ke Ijen sudah ada, sekarang saya prepare barang bawaan yang akan saya bawa nanti buat ke Ijen. Pada waktu itu saya hanya membawa SB, kaos ganti 1, obat-obatan, tembakau, perlengkapan mandi, dan senter. Selesai dari prepare perlengkapan ke Ijen waktu itu sekitar pukul 01:30 dan saya berusaha untuk tidur karena jam 03:40 saya harus bangun dan berangkat ke Ijen habis subuh sekitar jam 04:30. Perjalanan ke Ijen kali ini saya tidak menggunakan motor Mio J melainkan motor saya yang lain yaitu Karisma X 125 yang sejarahnya dulu motor pertamakali saya untuk keluar kota sampai Yogyakarta. Jadi motor saya semuanya sudah pernah saya gunakan untuk touring perjalanan jauh, mengapa saya tidak menggunakan Mio J saya ? karena Mio J lagi saya istirahatkan karena rencana bulan November akan saya gunakan untuk perjalanan ke timur yaitu ke Lombok, Lagian untuk perjalanan ke Ijen menggunakan motor Karisma X 125 juga sangat irit bensin. Plan saya kali ini selain ke Kawah Ijen yaitu pergi ke Kawah wurung yang sering menjadi spot hits di Bondowoso akhir-akhir ini, lagian tempatnya juga tidak jauh dari Kawah Ijen sendiri.

     Langsung saja perjalanan awal saya berangkat dari Gresik pukul 04:30 dengan rute yang akan kami lewati yaitu jalur Pantura kemudian akan mengarah ke Bondowoso. Sesampainya di Surabaya sekitar pukul 05:00 kami mengisi bensin Rp. 20.000 karena bensin dari start awal hanya tinggal 2 garis saja. Setelah mengisi bensin dari Surabaya perjalanan kami lanjutkan kembali melewati daerah Sidoarjo, Bangil, pasuruan, dan kami berhenti di Probolinggo kota untuk kembali mengisi bensin Rp. 20.000 sekalian mengistirahatkan motor sekitar 1jam. Setelah cukup lama untuk beristirahat kami lanjutkan lagi perjalanan hingga melewati daerah Paiton (pembangkit listrik jawa dan Bali). Tidak jauh setelah melewati daerah Paiton sekitar pukul 10:00 kami kembali beristirahat sejenak untuk merebahkan badan karena perjalanan terasa sangat lama dengan pemandangan kiri jalan adalah gunung dan bukit serta disebelah kanan adalah laut yang dimana disebrangnya sudah terlihat pulau Bali. Setelah dirasa cukup untuk beristirahat dan menikmati pemandangan disekitar yang ada kami melanjutkan perjalanan kembali hingga melewati daerah Besuki dan sampailah kami di kota Bondowoso 11:00, disini kami berhenti untuk makan siang karena perut kami sudah mulai lapar dari daerah Paiton tadi. Sekalian di Bondowoso kota kami juga untuk sholat duhur dan beristirahat cukup lama. Pada waktu itu kami beristirahat lama di masjid untuk sholat dan sekalian tidur siang, sekitar pukul 14:15 kami melanjutkan perjalanan kembali hingga sampai menuju pos pemeriksaan pertama pukul 15:30 untuk menuju kawah Ijen dan wisata lainnya yang ada disekitar Ijen.

Ini dia pertner saya selama perjalanan ke Kawah Ijen
Istirahat ketika berada di daerah Paiton
     Di pos pemeriksaan ini dari salah satu kami harus mengisi buku tamu yang dimana didalam buku tamu harus diisi nama, kota asal, tujuan, dan tanda tangan. Setelah mengisi buku tamu saya iseng untuk melihat tujuan dari pendatang lain, dan ternyata banyak juga tempat wisata di kawasan Ijen ini. Kemarin saya melihat ada beberapa spot seperti kebun strawberry, rumah tua, kawah wurung, kawah ijen, dll. Di pos pemeriksaan ini saya berhenti sekitar 30 menit lumayan lama karena dari pos ini kami sudah bisa melihat beberapa bukit dan kawah Ijen yang membuat kami betah untuk menikmati pemandangan itu meskipun dari kejauhan. Selain memandang kawah Ijen dari kejauhan, di pos ini saya juga ngobrol sok dekat dengan beberapa penjaga, terkadang saya juga melontarkan beberapa pertanyaan basa-basi saya seperti berapa lama waktu yang ditempuh darisini untuk menuju kawah ijen, dan dari obrolan basa-basi itu membuat suasana obrolan kami kian akrab hingga diantara kami saling bertukar tembakau. Karena para penjaga pos disana juga menggunakan tembakau sendiri untuk merokok, kebetulan saya juga lagi bawa sedikit tembakau dan mulailah kami saling mencoba tembakau yang kami miliki. Selain saya ditawari untuk mencoba tembakau dari Bondowoso saya juga ditawari kopi arabika yang asli dari kebun disekitar pos penjagaan.

Teman ngobrol selama di pos pertama kawasan Ijen dari arah Bondowoso
View Gunung Ijen dari sebelah pos pertama kawasan Ijen
     Waktu sudah menunjukan matahari mulai sedikit demi sedikit terbenam, waktu itu sekitar pukul 16:00 dan kami harus kembali melanjutkan perjalanan menuju plan pertama yaitu ke Kawah Wurung. Sebelum berangkat dan berpamitan dengan penjaga pos pemeriksaan, terlebih dahulu kami mengisi bensin di dekat pos secara ecer Rp. 20.000 kemudian kami lanjutkan perjalanan kembali, selang 15 menit dijalan kami mampir di mushola terdekat untuk sholat ashar. Setelah sholat kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Kawah Wurung, untuk menuju Kawah Wurung hanya mengikuti petunjuk yang ada dijalan dan petunjuknya searah dengan Kawah Ijen. Jadi temen-temen tidak usah bingung untuk pergi ke Kawah Wurung. 

     Pada saat sudah berada di petunjuk terakhir Kawah Wurung kami sedikit kebingungan, karena akses menuju Kawah Wurung sedang diperbaiki jalannya. Waktu itu kami sempat mencari jalan untuk masuk menuju tempat wisata itu, setelah agak lama mencari jalan akhirnya kami menemukan jalan alternatif lain untuk menuju Kawah Wurung. Pertama memang hanya mengikuti jalan saja dan kemudian setelah beberapa menit kami dibuat bingung hingga kami tersesat, karena banyak sekali jalan bercabang disana ditambah kondisi medan jalan yang sulit dan berbatu. Setelah kami mulai tersesat untungnya ada truk pasir yang kebetulan sedang mencari pasir didaerah situ, kemudian kami langsung bertanya kepada orang tersebut dan menyarankan untuk kembali karena jalan yang kami lalui sudah melenceng jauh dari tempat wisata. Akhirnya kami memutar motor kembali dan melewati jalan bebatuan. Untuk menuju ke Kawah Wurung temen-temen harus ekstra fokus karena pada saat itu jalan yang kami lalui jalan berbatu dan sempit sampai melewati seperti perkebunan gitu. Setelah menyusuri jalanan kembali kami menemukan 1 petunjuk panah bewarna kuning tanpa ada tulisannya, langsung saja kami mengira itu menuju ke Kawah Wurung dan kami mengikuti petunjuk tersebut. Kemudian ditengah jalan kami bertemu dengan seseorang yang kebetulan mau kembali ke rumahnya dan kebetulan juga searah menuju Kawah Wurung, kami waktu itu hanya mengikuti saja hingga kami menemukan sebuah perkampungan yang letaknya sangat terselip dan kami hanya meneruskan saja mengikuti jalan berbatu sampai akhirnya berada di Kawah Wurung. Waktu itu sekitar pukul 17:00 kami baru sampai Kawah Wurung sedangkan keadaan sekitar sudah mulai gelap, kami langsung berfoto sebentar dan langsung kembali ke jalan menuju Kawah Ijen dan memutuskan ke Kawah Wurung keesokannya setelah dari Kawah Ijen.



View belakang adalah wisata Kawah Wurung
     Sesampainya di Paltuding / awal start untuk menuju Kawah Ijen sekitar pukul 18:00, malam itu hawanya sudah terasa dingin. Sesampainya di Paltuding kami langsung memarkirkan motor dan waktu itu masih sedikit para pendatang yang akan ke kawah Ijen karena ramainya sekitar pukul 22:00 keatas, selesai parkir kami langsung mengambil air wudhu dan itu menunggu beberapa menit sebelum terkena air....hahahaha...maklum harus adaptasi dulu dengan udara disini. Setelah sudah mengambil air wudhu kami langsung sholat maghrib dan sekalian menunggu isya. Sehabis sholat kami langsung menuju warung untuk membeli minuman yang panas-panas untuk menghangatkan tubuh. Kami waktu itu tidak berencana untuk camp atau menginap di losmen disekitar Paltuding karena kami lebih menghemat budget dan pilihannya adalah semaleman berada di warung tersebut sampai kenal dekat dengan penjaga warungnya. Kegiatan kami selama di warung yaitu ngobrol-ngbrol santai dengan penjaga warung, ngikut masnya buat api unggun, dan sampai ketiduran bareng di warung meskipun tidur kami kurang berkualitas dikarenakan cuaca yang kian dingin malam itu. Setelah bangun tidur sudah mulai bertambah sedikit demi sedikit kendaraan yang parkir hingga kami berangkat ke kawah sekitar pukul 01:30, tetapi sebelumnya kami harus membeli tiket Rp. 5.000/ orang ditambah Rp. 5.000 untuk kendaraan kami jadi total pengeluaran kami Rp. 15.000 untuk pergi ke Kawah Ijen.

Tiket sebelum treking ke Kawah Ijen + parkir motor
     Medan ke Kawah Ijen pertamanya memang banyak menguras tenaga dan pastinya mudah capek karena trek pertama langsung mulai menanjak secara perlahan-lahan. Pada waktu itu kami sampai di kawahnya sekitar pukul 03:00 jadi perjalanan kami total 90 menit dari Paltuding-kawah. Cepat atau lambatnya sampai di kawah tergantung pada perjalanan teman-teman, kalau sering beristirahat dan berhenti lama otomatis sampai kawah juga akan lebih lama. Jadi saya tidak bisa memprediksikan berapa lama sampai ke kawahnya. Waktu itu kami juga sempat beristirahat berkali-kali tapi untuk waktu berhenti tidaklah lama, paling lama hanya 5 menit saja dan itu cuman sekedar minum dan mengatur nafas saja. Informasi saja buat temen-temen ketika ke Kawah Ijen dan ingin melihat (Blue fire) disarankan start pendakian sekitar pukul 00:00-01:00 karena untuk estimasi perjalanan saja selama pendakian. Kemudian dianjurkan untuk membawa buff / masker semacamnya dan kacamata. Lebih baik lagi kalau bawa masker gas dan kacamata goggle moto cross karena peralatan itu sangat membantu temen-temen ketika diatas kawah nanti. Kalau tidak punya dan tidak mau membawa dari rumah, di warung daerah Paltuding dan kawah ada beberapa orang yang menyewakan alat tersebut sekitar Rp. 50.000/masker gas, kalau untuk kacamata kemarin saya tidak melihat orang yang menyewakannya. Untuk informasi lainnya disana juga terdapat penyewaan tenda dengan kapasitas 4 orang Rp. 100.000 ada juga yang tenda dengan kapasitas 2 orang + SB Rp. 100.000 kemudian untuk Homestay ada yang Rp. 100.000an juga, kemudian ada yang namanya taxi Ijen sih orang sana nyebutnya. Jadi itu adalah jasa gerobak yang nantinya bisa temen-temen gunakan ketika sudah tidak kuat untuk melakukan pendakian sampai kawah, untuk harganya saya kurang tahu. Biasanya gerobak ditarik sekitar 3 orang atau lebih tergantung berat badan, itu aja sih informasi kemarin yang saya tahu semoga bermanfaat buat temen-temen ketika ke Kawah Ijen.

Kacamata Goggle yang dibutuhkan selama ke Kawah Ijen
Masker gas sangat penting digunakan ketika ingin melihat Blue Fire
     Saya lanjutkan kembali, waktu itu kami hanya menunggu pagi saja diatas karena kami mengurungkan untuk melihat blue fire karena saya sudah pernah melihat sebelumnya dan teman saya tidak tertarik karena asap dari kawah waktu itu terlalu tebal dan teman saya hanya membawa buff dan tidak menggunakan kacamata goggle. Jadi demi keselamatan kami tidak pergi ke bawah kawah, karena jalan menuju kawah lumayan berbahaya hanya jalannya berupa batu saja. Jadi temen-temen yang ingin turun ke kawah harap hati-hati dalam setiap melangkah. Setelah sinar matahari mulai terlihat kami langsung berfoto-foto disekitar kawah saja sambil menikmati pemandangan sekitar yang sangat menakjubkan. Untuk teman-teman yang belum pernah ke Kawah Ijen bisa juga membeli souvenir khas dari Kawah Ijen yaitu batu belerang yang diukir seunik mungkin oleh warga setempat.
View asap di puncak Kawah Ijen
Book of happiness, harus mulai dibawa ketika sedang travelling
Tangga itu mengarah ke bawah yang nantinya menuju ke Blue fire
Yang biru itu adalah Blue fire, gambar ini diambil dari perjalanan saya sebelumnya
Batu yang dijual letaknya berada di kawasan Blu fire, gambar ini diambil dari perjalanan saya sebelumnya
     Matahari semakin bersinar pagi itu dan kawasan di atas kawah mulai terang kamipun memutuskan untuk turun menuju Paltuding, waktu itu kami turun dari Kawah Ijen sekitar pukul 05:30 dan sampai Paltuding pukul 06:40 atau total sekitar 70menit saja. Untuk perjalanan turun dari Kawah Ijen diharapkan berhati-hati, karena jalannya berupa tanah berpasir yang terkadang membuat orang terpeleset. Saya saja waktu itu terpeleset berkali-kali dan itu wajar, karena banyak pengunjung yang terpeleset juga baik itu turis lokal maupun luar negeri..hehehehehe....

   Sesampai Paltuding kami kembali ke warung yang kami datangi semalam untuk makan dan istirahat sebentar karena perjalanan yang membuat lumayan menguras tenaga. Setelah cukup beristirahat kami melanjutkan perjalanan kami sebelumnya yang sempat tertunda yaitu ke Kawah Wurung, waktu itu saya langsung mengambil motor dari parkiran dan menuju pintu keluar untuk mengarah ke Kawah Wurung. Tetapi waktu itu niat ingin kembali ke Kawah Wurung kembali gagal karena kami ternyata salah mengambil jalan keluar dari Paltuding, jalan yang kami ambil adalah jalan menuju ke Banyuwangi sedangkan jalan satunya yaitu ke Bondowoso atau menuju Kawah Wurung. Memang sesuai namanya kali yah Kawah Wurung, wurung artinya gak jadi....hahahahahahaha....yaudahlah maybe next time kalau ada waktu bisa di planning ke Kawah Wurung lagian perjalanan kami sudah sampai di desa daerah Banyuwangi dan tidak memungkinkan untuk kembali lagi karena treknya yang terus menanjak kalau kembali ke arah Kawah Wurung. Setelah sampai di Desa Licin daerah Banyuwangi kami memutuskan untuk mencari masjid sekalian menunggu sampai duhur. Sesampainya di masjid sekitar pukul 08:00 dan kami langsung tidur untuk beberapa jam saja sebelum duhur. Setelah duhur kami sempatkan untuk mandi di masjid ini sekalian untuk sholat duhur.

    Perjalanan kami lanjutkan sekitar pukul 11:30 dari masjid di desa Licin tadi hingga kami menemukan tempat makan di daerah Ketapang untuk makan siang. Sehabis dari makan siang kami lanjutkan perjalanan kembali hingga sampai di kawasan hutan Baluran yang dimana bensin motor tinggal segaris dan dikawasan hutan sudah tidak ada yang jual bensin eceran. Hal ini yang membuat kami cemas ditambah juga dihutan ini banyak sekali monyet liar yang berkeliaran. Pikir saya jangan sampai bensin habis di hutan terus kami dorong motor sambil di godain monyet-monyet itu. Hahahahahha.....Tapi waktu itu motor kami syukur bisa bertahan sampai keluar dari hutan. Setelah keluar dari hutan barulah banyak orang yang berjualan bensin ecer dan kami langsung mengisi bensin Rp. 20.000. Setelah mengisi bensin kami melanjutkan perjalanan lagi hingga sampai daerah Situbondo kami memutuskan berhenti untuk sholat ashar karena waktu itu sekitar pukul 15:00. Setelah sholat kami rebahan sebentar sambil mendinginkan mesin motor, pukul 15:30 barulah kami menancap gas kembali hingga kami sampai di daerah Probolinggo untuk mengisi bensin disalah satu pom Rp. 20.000 sekalian utnuk istirahat sejenak sambil sholat maghrib, setelah itu baru berangkat lagi sampai Surabaya pukul 21:20 dan berhenti untuk mengisi bensin Rp. 15.000 sekalian cari makan. Selesai makan waktu itu sampai Gresik sekitar pukul 01:00, sampai rumah langsung tepar dan istirahat sampai sore...hahahahaha.

Poto shoot ketika lagi istirahat di daerah Probolinggo
Belajar foto dengan view sawah sembari beristirahat
Senja dikala itu
     Sekian perjalanan kami menuju Kawah Ijen dan Kawah Wurung, meskipun perjalanan sangat lama karena saya lebih mempertimbangkan kesehatan kami selama diperjalanan apalagi trip kami adalah naik gunung dan keesokannya langsung pulang. Jadi trip perjalanan kali ini saya buat sangat santai dan tidak tergesa-gesa. Untuk total waktu perjalanan berangkat dari Gresik-Kawah Ijen saja hampir 12jam dan perjalanan pulang dari Kawah Ijen-Gresik hampir 18jam. Banyak sekali pengalaman baru yang saya dapat disetiap trip yang saya lakukan. Semoga pengalaman dan segala informasi yang saya berikan sedikit dan banyaknya bisa berguna buat temen-temen. Jangan bosan-bosan untuk mengunjungi blog saya yahhh.....sampai jumpa di trip saya selanjutnya. ^^


RINCIAN BIAYA :

1.           Bensin berangkat dari Surabaya Rp. 20.000
2.           Bensin berangkat di Probolinggo kota Rp. 20.000
3.           Bensin (ecer) sampai di pos pertama kawasan Kawah Ijen Rp. 20.000
4.           Tiket pendakian Kawah Ijen Rp. 5.000/orang + tiket kendaraan Rp. 5.000
5.           Bensin (ecer) pulang di kawasan hutan Baluran Rp. 20.000
6.           Bensin pulang di Probolinggo Rp. 20.000
7.           Bensin pulang di Surabaya Rp. 15.000
8.           Ganti oli di Gresik Rp. 36.000

TOTAL BIAYA : 

Rp. 166.000

EXCLUDE :
1.       
          Makan dan minum selama di perjalanan dan di tempat wisata


Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
    

     Peristiwa ini berawal ditahun 2015 kemarin saya diundang teman yang akan mengadakan pernikahannya di pulau dewata Bali, kebetulan dia adalah teman baik saya selama tinggal di Jogja atau bisa dibilang sebagai kakak namanya mbak Novi dan mas Buncis (nama panggilan). Setelah mendapat undangan tersebut sebagai teman yang baik pasti saya akan menemui dan menghadiri pernikahan mereka di Bali, jadi tujuan awal pergi ke Bali kali ini adalah untuk menghadiri acara pernikahan mereka. Saya berangkat ke Bali waktu itu dengan pacar saya namanya Irma menggunakan motor kesayangan yang sering saya bawa touring ke luar kota yaitu si Mio J, alasan menggunakan motor Mio J yang pasti bensinnya irit kalau saya gunakan pergi kemana-mana dan alasan ke-2 motor matic paling cocok buat touring ke luar kota ataupun luar pulau...hehehehehehe. Langsung saja saya akan membahas liburan saya selama di pulau dewata Bali.

     Waktu itu saya berangkat dari kota Surabaya sekitar pukul 04:30 pas setelah sholat subuh dengan motor saya keadaan bensin full. Perjalanan ke Bali kali ini melewati jalur Pantura yang dimana melewati beberapa kota seperti Surabaya - Sidoarjo - Bangil - Pasuruan - Bondowoso - Situbondo -Banyuwangi - Pelabuhan Ketapang - Pelabuhan Gilimanuk - Jembrana - Tabanan - Mengwi - dan berakhir di Denpasar dengan total tempuh perjalanan dari Surabaya - Denpasar sekitar 12jam. Pagi itu terasa dingin melewati jalur Pantura yang kondisi jalan aspalnya lumayan mulus dengan mata sedikit mengantuk ditambah lawan dijalanan kali ini adalah truk dan bus yang melaju cepat sehingga mengharuskan saya untuk lebih waspada dalam berkendara meskipun mata yang masih mengantuk pagi itu, hingga tak terasa matahari mulai menampakan sedikit demi sedikit kemegahan cahayanya. Pemberhentian pertama kami waktu itu di pom bensin di daerah Bondowoso untuk mengisi bensin Rp. 25.000 dan perjalanan langsung kami lanjutkan tanpa istirahat terlebih dahulu karena waktu itu kami membuat plan untuk melihat sunset di Tanah Lot kalau sempat, oleh sebab itu kami tidak terlalu banyak istirahat di sepanjang jalan. Kemudian perjalanan kami lanjutkan kembali meskipun perut masih kosong karena pagi itu kami tidak sempat untuk sarapan dari Surabaya, setelah sampai daerah Situbondo akhirnya kami merasa kelaparan dan memutuskan untuk berhenti sejenak disalah satu warung untuk makan agar dijalan kami tidak merasa lemas. Waktu untuk makan dan bersih-bersih hanya sekitar sejam saja kemudian kami melanjutkan perjalanan untuk sampai di kota Banyuwangi, sesampai di kota Banyuwangi kami berhenti di pom bensin untuk mengisi bensin Rp. 25.000 dan mampir ke patung gandrung yang dimana patung tersebut ialah salah satu patung ikonik di kota Banyuwangi, disini kami berfoto sejenak sambil mendinginkan mesin motor yang sudah kami gunakan selama berjam-jam.

Istirahat di patung Gandrung
   Setelah selesai berfoto-foto dan mengistirahatkan motor kami langsung menuju pelabuhan Ketapang sekitar pukul 12:20 untuk menyebrang ke pulau Bali. Pada waktu itu tarif yang berlaku Rp. 24.500/motor sedangkan Rp. 7.500/orang dewasa, total pengeluaran untuk penyebrangan dari pelabuhan Ketapang Rp. 39.500. Sehabis mengurus tiket masuk kami langsung naik ke kapal untuk menyebrang ke pulau Bali, waktu yang dibutuhkan untuk menyebarangi lautan sekitar 90 menit. Sesampai di kapal saya langsung memarkirkan motor dan menuju ke dek atas untuk mencari tempat duduk untuk beristirahat. Setelah 90 menit berada diatas kapal, akhirnya kami tiba juga di pelabuhan Gilimanuk yang berada di pulau Bali. Setelah mendarat kami langsung turun dan mengambil motor untuk menuju pintu keluar, ternyata sebelum sampai pintu keluar pelabuhan ada beberapa petugas yang sedang memeriksa identitas penumpang khususnya bagi pengendara motor mulai dari SIM, STNK, dan KTP. Pada waktu itu ada sebuah insiden yang membuat kami khawatir yaitu SIM dan KTP saya sudah kadaluarsa, sempat kami merasa bingung dan sedikit khawatir apabila kartu SIM dan KTP sudah melewati kadaluarsa kami tidak diperbolehkan untuk melanjutkan perjalanan ke Bali. Pada waktu itu muncul ide untuk mensiasati petugas pemeriksaan disana yaitu saya menyuruh Irma untuk berada di depan saya sebagai joki sementara untuk keluar dari pelabuhan, karena identitas yang diperiksa hanya yang boncengin aja. Dengan rasa khawatir dan deg-degan kami tiba juga untuk diperiksa dan hasilnya petugas memeriksa semua identitas kami, saya waktu itu memasang wajah polos agar tidak dicurigai tapi akhirnya petugas mengetahui bahwa SIM dan KTP saya sudah kadaluarsa kemudian tanpa waktu lama petugas itu langsung menggiring kami ke kantornya untuk menjelaskan kepada kami yang intinya bahwa kami disuruh untuk balik lagi ke Banyuwangi oleh petugas....."SURPRISE MADAFAKA" kami sontak kaget seketika petugas menyuruh kami balik ke Banyuwangi lagi. Kemudian sipetugas memberi kami kemudahan....antara petugasnya kasihan atau hukum di Indonesia bisa ditawar akhirnya kami bebas dengan uang Rp. 100.000. Setelah melewati pos pemeriksaan keluar dari kapal, ehhhhhh saya liat didepan ada pemeriksaan lagi dan tau dong hasilnya gimana....kami memberikan Rp. 50.000 untuk petugas yang lain itu. Padahal sudah saya jelaskan bahwa sebelum dari sini kami sudah diperiksa pas keluar dari kapal, tapi si petugas tidak mau tahu dan bilangnya demi keamanan...memang sih demi keamanan, tapi gimana kalau saya orang jahat dan dengan ngasih uang Rp. 50.000 saya bisa keluar dari pemeriksaan. Yaudah deh sepele...yang penting saya bisa lanjut sampai Denpasar pikir saya.

Mau masuk ke kapal
Tetep ceria si doi ^^
Dari kejauhan terlihat patung yang ada di Bali
   Sesampainya tadi di pelabuhan Gilimanuk sekitar pukul 14:00 kemudian kami melanjutkan perjalanan lagi untuk keluar dari pelabuhan menuju sepanjang jalan yang mengarah ke Denpasar. Sekitar 100menitan berada di atas motor setelah keluar dari pelabuhan, kami memutuskan untuk makan sore dan berhenti di salah satu warung yang letaknya didekat pantai dan sawah-sawah gitu. Selain makan kami juga sempat foto-foto di warung tersebut karena tepat dibelakang warung itu ada sawah-sawah yang luas, lumayan buat obat dikala rasa capek melanda. Setelah sekitar 40 menitan berada diwarung akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan lagi menuju Tanah Lot demi melihat sunset. Perjalanan kembali kami tempuh dengan kondisi jalan raya yang beraspal mulus yang memudahkan kami untuk semakin cepat dalam memacu motor. Sesampainya di daerah Tabanan kami berhenti sejenak untuk mengisi bensin Rp. 25.000 kamudian tanpa istirahat kami langsung kembali menancap gas menuju Tanah lot.

yeeeeee....sampai Bali..masih jauh sih ke Denpasar


View belakang warung yang kami singgahi

     Tanah lot adalah sebuah objek wisata di pulau Bali, disini ada dua pura yang terletak di atas batu besar. Satu terletak di atas bongkahan batu dan satunya terletak di atas tebing mirip dengan pura Uluwatu. Tanah Lot terkenal sebagai tempat yang indah untuk melihat matahari terbenam. Sesampai di Tanah lot waktu itu sekitar pukul 18:00 kami langsung bergegas parkir motor dengan tarif Rp. 2.000 dan tiket masuk Rp. 10.000/orang. Setelah selesai mengurus administrasi kami langsung menuju pantainya dannnnnnn sempet sih liat sunset tapi cuman kelihatan dikit aja.. yaudalah gapapa yang penting saya sudah berusaha maksimal untuk mengantarkan pacar saya liat sunset di Tanah Lot. Setelah sampai Tanah Lot kami tidak lupa untuk berfoto-foto dan liat pertunjukan tari kecak yang ada disana dan iseng-iseng berjalan dipasarnya, kali aja ada barang bagus untuk dibeli. Puas dari Tanah Lot kami melanjutkan perjalanan ke salah satu penginapan teman kami berada di Denpasar dan tidak terlalu jauh juga buat ke acara pernikahan mbak Novi sama mas Buncis. Kami sampai penginapan sekitar pukul 20:00 langsung bersih-bersih dan dilanjut mencari makan malam disekitar penginapan, setelah selesai cari makanan kami kembali kepenginapan untuk beristirahat total. Perjalanan hari ini sungguh menguras tenaga dan waktu, tetapi yang pasti juga menyenangkan karena baru pertama kali ini kami touring sampai keluar pulau yaitu di pulau Bali.

Sampai juga di Tanah Lot yahhh...langsung update
Lumayan dapet sunset meskipun dateng agak lama

DAY 1

     Pagi itu sekitar pukul 08:00 kami baru bangun tidur dan langsung bergegas untuk bersih-bersih dan langsung meluncur ke pernikahan mbak Novi dan mas Buncis. Setelah sampai di TKP kami langsung salam-salaman dan ternyata disini teman dari Jogja ikut datang juga ke pernikahan. Rasa bahagia semua menjadi satu pada momment ini, semua saling bercanda tawa ketika kami semua berkumpul hingga waktupun takterasa berjalan dengan cepat. Kami di acara pernikahan sampai pukul 13:00 dan berpamitan untuk kembali ke penginapan untuk ganti baju, karena destinasi hari ini adalah mengunjungi tempat wisata pura Ulun Danu. Selesai ganti baju kami sekalian mencari sarapan disepanjang jalan yang searah dengan pura Ulun Danu.

Ini dia temen-temen dari Jogja kalau udah pada kumpul
Suerrrr....cuman disuruh akting..hahahaha
     Sebelum sampai ke pura kami menyempatkan untuk mengisi bensin Rp. 25.000 dan sesampainya di wisata pura Ulun Danu sekitar pukul 16:30, untuk biaya masuknya Rp.2.000/motor dan Rp. 10.000/orang. Sampai disana kami disambut dengan awan mendung dan cuaca dingin, pura Ulun Danu merupakan sebuah candi air besar di Bali dan candi utama air lainnya menjadi pura Ulun Danu Batur. Kompleks candi ini terletak di tepi barat laut danau Bratan di pegunungan dekat Bedugul. Candi air memenuhi seluruh wilayah di daerah aliran di tepi hilir, ada banyak candi kecil air yang spesifik untuk setiap asosiasi irigasi. Candi ini sebenarnya digunakan untuk upacara persembahan untuk dewi Danu, dewi air, danau dan sungai. Danau Bratan merupakan salah satu danau penting dalam hal irigasi karena kompleks ini dibangun pada tahun 1633 yang tersebar di beberapa pulau. Danau Bratan dikenal sebagai danau "gunung suci" ditambah kawasan ini sangat subur karena terletak pada ketinggian 1.200 meter dan beriklim sangat dingin. Pada waktu itu meskipun cuaca mendung tetapi banyak turis yang berdatangan dikarenakan memang suasana di wisata pura Ulun Danu sangat nyaman ditambah udara yang dingin. Obyek wisata pura Ulun Danu merupakan salah satu menjadi tujuan wisatawan baik lokal maupun luar negeri.

uyuyuyuyuy....sampai di Ulun Danu

Didompet cuman ada segini
Danau Bratan dengan segala keindahannya
     Selesai dari pura Ulun Danu selanjutnya kami menuju rumah salah satu teman yang lain berada disekitar Legian, pada waktu itu sesampai di Legian sekitar pukul 23:00. Setelah puas ngobrol dirumah kami diajak ke salah satu club di daerah Legian, sebelumnya kami belum pernah sama sekali nongkrong di club jadi agak canggung aja pas pertamakali masuk..bingung mau ngapain..hahahahaha....maklum saya anak baik-baik. Diclub kami hanya duduk manis sambil ngeliatin bule-bule yang lagi joget dan main billiard dengan ditemani cewek-cewek yang bekerja di club itu. Puas dari club kami memutuskan untuk kembali karena waktu itu juga sudah mulai pagi, sekitar pukul 02:00 kami baru keluar dari club dan menuju ke rumah teman saya terlebih dahulu untuk ambil motor. Setelah itu kami baru lanjut ke penginapan dan langsung istirahat, karena sebelumnya kami janjian untuk melihat sunrise di pantai Sanur jadi kami langsung tidur ditambah juga kegiatan hari ini lumayan melelahkan.

Ngunjungin bocah bledek
ke club tetep berhijab yah...pinterrr ^^


DAY 2

     Niatnya pengen liat sunrise di pantai Sanur ehhhhh....malah bangun kesiangan, waktu itu saya bangun pagi sekitar pukul 09:00 sedangkan teman saya udah standby di Sanur dari subuh..wkwkwkwkwkwkwk...kasihan amat yak disana sendirian. Maklum bangun kesiangan mungkin gara-gara kecapekan ditambah pulang pagi dari club dan hasilnya kesiangan deh bangunnya..hahahahahaha. Sehabis dari bangun tidur kami langsung bergegas bersih-bersih dan langsung mencari makan pagi didekat penginapan karena destinasi hari ini menuju desa terbersih di Bali sih katanya, yaitu desa Panglipuran. Desa Panglipuran adalah desa adat Bali yang sangat kental dengan kerukunan dan kebersamaan mereka. Desa ini berlokasi di kelurahan kubu, kecamatan Bangli, kabupaten Bangli-Bali. Desa ini telah dianugrahi penghargaan kalpataru, selain mendapatkan penghargaan kalpataru desa Penglipuran juga ditetapkan sebagai desa wisata  oleh pemerintah kabupaten Bangli pada tahun 1995. Semenjak saat itu, desa ini semakin ramai dikunjungi oleh para wisatawan yang ingin mengetahui bagaimana kearifan yang terjadi di desa Penglipuran ini. Sekitar pukul 13:00 kami baru berangkat untuk menuju desa Panglipuran, sebelum sampai di desa Panglipuran kami mengisi bensin lagi Rp. 25.000.

     Sesampai desa Panglipuran sekitar pukul 15:30, pertamakali masuk desa Panglipuran menurut saya desa ini adalah desa buatan yang dirancang untuk salah satu obyek yang ada di Bali. Untuk masuk ke desa wisata ini harus membayar Rp. 2.000/motor dan Rp. 15.000/orang. Desa wisata ini memiliki wilayah yang cukup luas, ada beberap spot wisata di desa wisata ini antara lain spot pohon bambu yang terletak dibelakang desa dan ada area pura yang terletak disamping desa wisata tetapi masih satu wilayah. Kami disini hanya ingin mengetahui suasana desa wisata ini, karena saya juga penasaran seperti apa desa wisata yang ada di Bali. Ternyata desa wisata ini ada beberapa rumah yang berjejer kemudian ada beberapa aktivitas beberapa penduduk yang menjual produk makanan asli Bali dan ada juga orang yang lagi ngobrol-ngobrol dengan tetangganya, waktu itu saya sempat membeli seperti minuman tapi berkhasiat untuk kesehatan, lupa namanya...yang saya tahu minuman itu warnanya hijau dan rasanya ada manis campur agak asem gitu...memang segar sihhh. Selain berkunjung melewati rumah-rumah di desa wisata kami juga menyempatkan untuk pergi ke spot pohon bambu dan areal pura untuk berfoto-foto tentunya. Setelah puas dari sana kami memutuskan untuk kembali sekitar pukul 17:00 karena pada waktu itu kami di undang oleh teman saya yang sudah menikah itu untuk datang ke acara pestanya yaitu di salah satu pantai, jadi pesta nya seperti makan malam di pinggir pantai pokoknya asyik deh. 

Desa wisata Panglipuran
Memang desanya bersih kok suerrr
Areal lapang di salah satu sudut desa wisata Panglipuran
Pintu masuk area pura, masih di kawasan desa Panglipuran
Daripada memori HP masih kosong
Poto-poto terussss
Salah satu pura yang ada di kawasan desa Panglipuran
Spot hutan bambu, sunyi sepi..krik..krik.krikk
     Sebelum menuju ke tempat acara kami harus balik ke penginapan terlebih dahulu untuk ganti kostum dan baru langsung menuju tempat acara pestanya, waktu itu sekitar pukul 19:30 baru sampai tempat acara pesta. Setelah sampai tempatnya kami langsung dipersilahkan masuk dan menikmati hidangan yang sudah dipersiapkan sepuasnya. Makan malam kali ini benar-benar spesial dan sangat romantis, bagaimana tidak ? makan malam di atas pasir pantai dengan lilin kecil yang menyala ditambah dengan berkumpul dengan orang tercinta...hahahahaha. Acara pesta selesai pukul 00:00 dan setelah itu kami berpamitan dengan semua teman saya yang berada di acara pesta itu, sekalian berpamitan pulang karena besok pagi kami harus kembali ke Surabaya. Setelah berpamitan kami langsung kembali ke penginapan dan langsung istirahat biar besok bisa lebih fit lagi saat mengendarai motor 12jam perjalanan.

Dinner romantis
Duhhhh....jadi pengennn..pengen makan, udah laper. LOL
Ini dia pasangan pengantin baru, terimakasih jamuannya selama di Bali ^^

DAY 3

     Keesokan harinya kami bangun pagi sekitar pukul 10:00 dan langsung bersiap-siap untuk pergi dari pulau Bali. Sekitar pukul 12:00 kami istirahat sejenak dan mampir ke kos teman jaman kuliah saya yang kebetulan sedang bekerja di Bali. Selesai istirahat dan makan siang kami langsung berpamitan dan melanjutkan perjalanan menuju Surabaya lagi. Tidak jauh dari kos teman saya kembali mengisi bensin Rp. 25.000 dan lanjut kepelabuhan Gilimanuk, sesampai di pelabuhan Gilimanuk sekitar pukul 14:30 dan disana tidak ada pemeriksaan identitas dan kami langsung masuk ke kapal. Untuk tiket penyebrangan Gilimanuk-Ketapang sama dengan tiket masuk ke pelabuhan Ketapang. Sesampai di kapal kami langsung memarkirkan motor seperti biasa dan langsung menuju dek atas dan mencari tempat duduk untuk beristirahat. Sesampainya di pelabuhan Ketapang pukul 15:30, hanya membutuhkan waktu sekitar 60 menit saja dalam penyebrangan pelabuhan Gilimanuk ke pelabuhan Ketapang. Selesai kapal bersandar di pelabuhan kami langsung mengambil motor dan langsung memacu motor kembali untuk sampai ke Surabaya. Pada waktu itu kami mengisi bensin di daerah Situbondo dan Pasuruan masing-masing Rp. 25.000. Sesampainya di Surabaya sekitar pukul 22:30

Saatnya meninggalkan pulau Bali dengan sejuta keromantisannya
     Sekian perjalanan liburan saya selama di pulau dewata Bali, tunggu postingan saya selanjutnya dan jangan bosan-bosan untuk mengunjungi blog saya...terimakasih

Rincian biaya :

Ngisi bensin perjalanan berangkat di Bondowoso Rp. 25.000
Ngisi bensin perjalanan berangkat di Banyuwangi Rp. 25.000
Penyebrangan Ketapang – Gilimanuk Rp. 24.500/motor + Rp. 7.500/orang, total = Rp. 39.500
Ngisi bensi perjalanan berangkat di Tabanan Rp. 25.000
Biaya masuk Tanah Lot Rp. 2.000/motor + Rp. 10.000/orang, total = Rp. 22.000
Bensin mau berangkat ke Pura Ulun Danu Rp. 25.000
Biaya masuk Pura Ulun Danu Rp. 2.000/motor + Rp. 10.000/orang, total = Rp. 22.000
Bensin mau berangkat ke Desa Wisata Panglipuran Rp. 25.000
Biaya masuk Desa Wisata Panglipuran Rp. 2.000/motor + Rp. 15.000/orang, total = Rp. 32.000
Ngisi bensin pulang dari kos teman Rp. 25.000
Penyebrangan Gilimanuk – Ketapang Rp. 24.500/motor + Rp. 7.500/orang, total = Rp. 39.500
Ngisi bensin perjalanan pulang di Situbondo Rp. 25.000
Ngisi bensin perjalanan pulang di Pasuruan Rp. 25.000

Total biaya :

Rp. 355.000

*Exclude :

Bensin berangkat dari Gresik
Biaya makan
Biaya ngasih uang ke petugas di pelabuhan
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me


Hi...I am Denny — Writer & a photographer.
Join me as I share great stories, amazing photos, incredible travel life and awesome tips for people who love to travel the world.


Follow Us

  • instagram
  • facebook
  • twitter
  • google+

Labels

  • Bali
  • Bandung
  • Bangkok
  • Banyuwangi
  • Blitar
  • Bojonegoro
  • Chiang Mai
  • Chiang Rai
  • Da Nang
  • Dieng
  • Genting
  • Hanoi
  • Ho Chi Minh
  • Indonesia
  • Jombang
  • Kediri
  • Kuala Lumpur
  • Malang
  • Malaysia
  • Melaka
  • Mojokerto
  • Solo
  • Thailand
  • Tips
  • Touring ramadhan
  • Tuban
  • Vietnam
  • Yogyakarta

recent posts

Sponsor

Blog Archive

  • Desember 2019 (1)
  • November 2019 (2)
  • April 2019 (1)
  • Desember 2018 (2)
  • Mei 2017 (1)
  • April 2017 (1)
  • Maret 2017 (1)
  • Februari 2017 (2)
  • Januari 2017 (1)
  • November 2016 (1)
  • Oktober 2016 (2)
  • September 2016 (7)
  • Agustus 2016 (1)

Created with by BeautyTemplates | Distributed by Blogger